KALTIMPOST.ID, Di balik hingar-bingar dunia digital yang seolah tak pernah tidur, ada cerita lain yang jarang disorot, yaitu semakin banyak anak muda, terutama dari Generasi Z, memilih menghilang dari dunia nyata.
Fenomena ini dikenal sebagai hikikomori, yang berarti seseorang memilih mengurung diri di rumah, menjauhi semua interaksi sosial.
Dulu, istilah ini hanya terdengar di Jepang. Tapi sekarang, gelombangnya sudah terasa di berbagai negara termasuk Indonesia.
Menariknya, para pelakunya bukan orang yang tak melek teknologi. Justru mereka adalah generasi paling online atau Generasi Z, yang hidupnya sangat dekat dengan media sosial dan internet.
Baca Juga: Bukan Air Putih Saja, 5 Minuman Ini Bisa Redakan Ngidam Manis Tanpa Tambah Gula
Generasi Z dikenal haus informasi, selalu update, dan sangat aktif di dunia maya. Tapi siapa sangka, semua itu justru bisa membuat mereka lelah luar biasa?
Tekanan untuk tampil sempurna, ekspektasi tak masuk akal dari media sosial, dan perasaan terus-menerus dibandingkan, membuat banyak dari mereka mengalami kecemasan, bahkan depresi.
"Lebih baik menyendiri daripada harus pura-pura kuat di depan orang lain."
Kalimat ini mungkin terdengar sepele, tapi bisa jadi gambaran nyata isi kepala anak muda yang sedang lelah dengan kehidupan sosialnya.
Baca Juga: Hidup Sehat, Hidup Bahagia: Jangan Mau Disebut Remaja Jompo! Yuk, Lakukan Ini agar Tetap Bugar
Ketika Menyendiri Jadi Pilihan Bertahan Hidup
Bagi sebagian Gen Z, mengurung diri di kamar bukan lagi sekadar mager atau malas keluar. Tapi bentuk perlindungan diri dari tekanan sosial yang sudah terlalu berat.
Duduk di depan laptop seharian, main game, scroll TikTok tanpa henti. Semuanya jadi pelarian. Dunia nyata dianggap terlalu ribut, terlalu menuntut, dan kadang menyakitkan.
Masalahnya, jika ini berlangsung lama, efeknya bisa sangat serius:
- Mental makin terpuruk, karena rasa sepi justru makin besar
- Kemampuan bersosialisasi menurun, jadi makin susah kembali ke dunia luar
- Merasa asing di tengah masyarakat sendiri, bahkan di dalam keluarga
Baca Juga: Jangan Sampai Kehabisan Uang saat Tua: Simak 10 Tips Cerdas Mengatur Keuangan untuk Masa Pensiun
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Kalau kamu merasa sedang terjebak di kondisi ini, atau mengenal seseorang yang mulai menarik diri, langkah kecil bisa berarti besar.
- Ajak bicara tanpa menghakimi
- Tawarkan ruang aman untuk curhat
- Dorong mereka (atau dirimu sendiri) cari bantuan profesional, seperti konselor atau psikolog
Komunitas juga bisa jadi penyelamat. Tempat di mana orang bisa merasa diterima tanpa harus jadi sempurna. Tempat yang tidak menuntut, tapi mendukung.
Baca Juga: Fenomena Doom Spending: Tren Belanja Impulsif yang Bikin Milenial dan Generasi Z Terjebak Utang
Hikikomori bukan hanya soal pribadi yang tertutup, tapi tentang sistem sosial yang gagal memberi ruang bagi semua orang untuk merasa aman dan dihargai.
Kita semua bisa jadi bagian dari solusi. Entah itu dengan mendengarkan, mengajak, atau cukup hadir.
Karena terkadang, satu pelukan emosional bisa menyelamatkan seseorang yang nyaris tenggelam. ***
Editor : Dwi Puspitarini