Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Cerita di Balik Hari Raya Waisak dan Misteri Pembangunan Candi Borobudur yang Bikin Kagum

Dwi Puspitarini • Senin, 12 Mei 2025 | 10:22 WIB

 

Candi Borobudur merupakan situs sejarah yang identik dengan perayaan Hari Raya Waisak.
Candi Borobudur merupakan situs sejarah yang identik dengan perayaan Hari Raya Waisak.

KALTIMPOST.ID, Setiap tahunnya, umat Buddha di seluruh dunia memperingati Hari Raya Waisak sebagai momen paling suci dalam ajaran mereka.

Di Indonesia, Waisak 2025 jatuh pada Minggu, 12 Mei. Tapi tahukah kamu, Waisak bukan hanya peringatan keagamaan, melainkan juga pengingat sejarah panjang spiritualitas dan kebesaran budaya nenek moyang kita?

Waisak memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan Buddha Gautama: kelahiran, pencerahan agung, dan wafatnya.

Inilah yang disebut sebagai "Trisuci Waisak". Perayaannya berlangsung saat bulan purnama, atau yang disebut "Purnama Sidhi", menjadikan suasana semakin sakral dan syahdu.

Di Indonesia, pusat perayaan nasional Waisak dipusatkan di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

 Baca Juga: 5 Cara Unik Perayaan Waisak di Berbagai Negara

Tradisi ini sudah berjalan sejak tahun 1929 dan terus dilestarikan oleh umat Buddha dari berbagai penjuru dunia.

Namun, ada kisah lain yang tak kalah mengagumkan di balik kemegahan candi tersebut.

Candi Borobudur bukan sekadar bangunan kuno, ia adalah bukti betapa cerdasnya leluhur kita. Candi ini dibangun sekitar abad ke-8 hingga ke-9 Masehi, di masa Dinasti Syailendra.

Yang menakjubkan, teknologi pembangunan saat itu jauh dari modern. Tidak ada semen, crane, atau peralatan berat seperti sekarang.

Menurut Noehardi Magetsari, arkeolog Universitas Indonesia dalam bukunya 200 Tahun Penemuan Candi Borobudur (2014), proses pembangunan dimulai dengan membentuk bukit sebagai fondasi. Bukit itu ditata berundak terlebih dahulu, lalu disusun batu demi batu di atasnya.

 Baca Juga: Apa Itu Hari Waisak? Ini Makna, Sejarah, dan Tradisi Peringatannya

Mungkin kamu membayangkan batu-batu raksasa itu sekadar ditumpuk. Padahal, setiap balok batu dipahat khusus agar saling mengunci. Ini disebut teknik interlock, mirip menyusun puzzle.

Mereka tidak menggunakan semen atau putih telur seperti yang sering dikira. Yang mereka andalkan hanyalah teknik gesekan antar batu dan sambungan yang presisi.

Batu andesit sebanyak 55.000 meter kubik didatangkan dari tempat lain, dipahat, lalu dibawa ke lokasi.

Sebuah balok batu saja butuh empat orang untuk memikulnya. Bayangkan betapa besar tenaga dan waktu yang dibutuhkan.

Noehardi mengungkapkan, pembangunan Candi Borobudur sangat mungkin memakan korban jiwa.

Terjatuh dari ketinggian, tertimpa batu, atau kelelahan. Namun mereka terus bekerja demi mewujudkan mahakarya spiritual ini.

 Baca Juga: Buah Kecil Berwarna Merah Ini Diam-Diam Mampu Cegah Infeksi Saluran Kemih

Kini, saat kamu melihat Candi Borobudur yang megah, ingatlah: itu adalah warisan dari kerja keras, kecerdasan, dan pengorbanan nenek moyang kita.

Melansir dari laman resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), sejak 11 Februari 2022, Candi Borobudur resmi difungsikan kembali sebagai tempat ibadah umat Buddha dari dalam dan luar negeri.

Hal ini diperkuat melalui nota kesepahaman antara empat kementerian dan dua pemerintah provinsi.

Borobudur bukan hanya peninggalan sejarah melainkan simbol peradaban dan toleransi yang hidup kembali.

Perayaan Tri Suci Waisak di Candi Borobudur selalu menghadirkan ketenangan dan harapan baru. Ribuan umat Buddha berkumpul, membawa lentera, dan berdoa bersama.

Lentera itu kemudian dilepas ke langit malam, membawa pesan damai bagi dunia.

 Baca Juga: Bisa Picu Stroke, Ini Ciri-Ciri Penyumbatan Pembuluh Darah di Otak, Jangan Sampai Terlambat!

Sejak Keputusan Menteri Agama No. 35 Tahun 1980 dan Keputusan Presiden No. 3 Tahun 1983, Waisak resmi menjadi hari libur nasional di Indonesia.

Ini bukan hanya bentuk penghormatan terhadap agama Buddha, tapi juga pengakuan atas kekayaan budaya bangsa.

Perayaan Waisak dan kisah di balik Candi Borobudur mengajarkan banyak hal. Bahwa untuk membangun sesuatu yang besar, butuh kesabaran, kolaborasi, dan tekad kuat.

Bahwa keberagaman adalah kekuatan. Dan bahwa sejarah bisa menjadi sumber inspirasi untuk masa depan.

Meski menjadi pusat perayaan agama Buddha, Borobudur adalah warisan bangsa. Ia milik kita semua.

Menjaganya berarti menghormati leluhur, merawat toleransi, dan merangkul kekayaan budaya Indonesia. ***

Editor : Dwi Puspitarini
#perayaan waisak di indonesia #trisuci waisak #candi borobudur #Dinasti Syailendra #Warisan Budaya Indonesia #Hari Raya Waisak 2025 #Pembangunan Candi Borobudur #sejarah borobudur