KALTIMPOST.ID, Saat banyak negara baru bicara soal pendidikan vokasi, Indonesia sudah jauh melangkah sejak 2016.
Kini, lebih dari 4,9 juta siswa belajar di sekolah kejuruan, dan dunia mulai memperhatikannya. Salah satunya BRICS.
Di forum BRICS ke-12 yang digelar di Brasilia, Indonesia mencuri perhatian lewat satu hal yang sering dianggap sepele, sekolah kejuruan.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, dengan tenang menyampaikan bahwa Indonesia telah membangun lebih dari 14.000 sekolah kejuruan menengah yang kini melayani lebih dari 4,9 juta siswa.
Tak hanya itu, sistem ini dirancang inklusif, termasuk bagi siswa berkebutuhan khusus.
"Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk meningkatkan kualitas dan daya saing sumber daya manusia melalui TVET," ujar Menteri Brian di forum internasional tersebut, Sabtu (7/6/2025).
Baca Juga: Dilema setelah SMA, Kerja Dulu atau Kuliah? Pahami Dulu 4 Pertimbangan Ini agar Tak Menyesal Nanti
TVET Jadi Senjata Masa Depan SDM Indonesia
TVET (Technical and Vocational Education and Training) kini bukan sekadar pelengkap di dunia pendidikan.
Bagi Indonesia, TVET adalah senjata masa depan untuk mencetak lulusan siap kerja dan menjembatani kesenjangan keterampilan.
Sejak 2016, pemerintah Indonesia telah menjalankan program revitalisasi besar-besaran untuk memperkuat sekolah kejuruan.
Salah satu bentuk konkretnya adalah Program Indonesia Pintar (PIP) yang memberikan beasiswa kepada siswa dari keluarga miskin agar mereka tidak tertinggal dalam akses pendidikan teknis.
"TVET sangat penting dalam membekali individu dengan keterampilan praktis, dan kami ingin memastikan semua anak Indonesia punya akses ke sana," tambah Menteri Brian.
Baca Juga: Panduan Lengkap Beasiswa LPDP Georgetown 2025: Syarat, Jadwal, dan Tips Sukses
Inovasi Politeknik, Diktisaintek Berdampak dan Ekonomi Hijau
Tak hanya berhenti di pendidikan menengah, pemerintah juga menyasar politeknik sebagai pusat inovasi dan pendidikan terapan melalui program Diktisaintek Berdampak.
Program ini memperluas gelar terapan, memperkuat kerja sama industri dan akademisi, serta memperkenalkan kompetensi baru, yaitu transformasi digital dan ekonomi hijau.
"Kami memperluas program diploma dan gelar terapan, serta memperkuat kemitraan industri-akademisi untuk memastikan lulusan kami dibekali keterampilan abad ke-21," tegas Brian.
Baca Juga: Kalender Juni 2025 Berdasarkan SKB 3 Menteri: Catat Tanggal Merah dan Cuti Bersamanya!
BRICS Beri Lampu Hijau, Indonesia Diakui di TVET Cooperation Alliance
Kehadiran Indonesia dalam forum BRICS 2025 bukan hanya formalitas. Dalam pertemuan tersebut, telah disepakati dokumen TVET Cooperation Alliance (TCA) Charter, sebuah pedoman kerja sama vokasi lintas negara BRICS.
Indonesia juga resmi mengakses nota kesepahaman BRICS Network University (NU), membuka peluang bagi 22 universitas Indonesia untuk terlibat dalam berbagai kelompok tematik internasional.
"Kami sangat ingin berkontribusi pada tujuan kerja sama BRICS dan meminta bimbingan serta kolaborasi ke depan," ungkap Brian, menutup sambutannya. ***
Editor : Dwi Puspitarini