KALTIMPOST.ID, Di era serba digital ini, media sosial seolah menjadi jendela kehidupan kita.
Setiap momen, dari yang paling biasa hingga yang paling istimewa, terasa kurang lengkap jika tak diabadikan dan dibagikan.
Apalagi jika itu menyangkut si kecil. Dari tingkah lucunya saat makan, tawa renyahnya di taman, hingga langkah pertama yang penuh kebanggaan, semua terasa begitu menggemaskan untuk tidak dibagi dengan dunia.
Kita ingin semua orang melihat betapa lucunya, cerdasnya, atau hebatnya buah hati kita.
Rasanya, ini adalah bagian dari kebahagiaan menjadi orang tua.
Namun, pernahkah terlintas di benak Anda, bahwa di balik setiap postingan foto atau video anak yang menggemaskan itu, tersimpan risiko besar yang mungkin mengintai privasi dan bahkan masa depan mereka?
Fenomena ini punya nama yang kini semakin sering digaungkan oleh para pakar keamanan digital dan hukum keluarga, yakni sharenting.
Kedengarannya lucu, ya? Sharenting, gabungan dari kata sharing (berbagi) dan parenting (mengasuh anak), adalah kebiasaan orang tua atau orang dewasa terdekat yang membagikan data pribadi anak secara digital.
Mungkin niatnya baik, ingin berbagi kebahagiaan atau bahkan mencari apresiasi. Tapi tahukah Anda, niat baik ini bisa jadi gerbang menuju bahaya yang tak terduga?
Baca Juga: Kapan Pendaftaran Beasiswa LPDP 2025 Tahap 2 Dibuka? Ini Jadwal, Jenis Beasiswa, dan Syaratnya
'Sharenting' Bukan Sekadar Pamer, Ini Bahaya Nyata yang Mengintai!
Leah Plunkett, pakar hukum keluarga dari Harvard Law School, dalam bukunya, Sharenthood: Why We Should Think Before We Talk About Our Kids Online, dengan gamblang menjelaskan betapa sharenting bisa membuka celah lebar bagi berbagai kejahatan digital.
Mulai dari pencurian identitas, perundungan (bullying), hingga penyalahgunaan data oleh pihak ketiga yang bahkan tak pernah kita bayangkan sebelumnya.
"Ada pasar gelap data pribadi anak," ungkap Plunkett, suaranya terdengar serius namun penuh perhatian.
"Nama, tanggal lahir, dan alamat bisa jadi target empuk pencurian identitas."
Bayangkan, data pribadi anak Anda yang polos itu bisa jadi komoditas di dunia gelap internet. Mengerikan, bukan?
Kita seringkali berpikir, "Ah, paling cuma teman-teman atau keluarga yang lihat."
Namun, internet punya ingatan yang sangat panjang dan jangkauan yang tak terbatas. Apa yang diunggah hari ini, bisa bertahan selamanya, dan diakses oleh siapa saja.
Baca Juga: Diskon Tiket Pesawat Libur Sekolah Dadakan, Apa Benar Efektif?
Risiko di Balik Layar, Saat Data Anak Menjadi 'Mata Uang' Digital
Mari kita bedah lebih dalam, apa saja sebenarnya risiko yang mengintai anak-anak kita dari kebiasaan sharenting ini:
- Pencurian Identitas
Data anak yang tersebar di internet, seperti nama lengkap, tanggal lahir, bahkan alamat rumah atau sekolah, bisa dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan.
Mereka bisa menggunakan informasi ini untuk hal-hal yang tak masuk akal, yaitu membuka kredit atau pinjaman atas nama anak!
Kenapa anak-anak? Karena mereka belum punya riwayat kredit, aksi jahat ini seringkali tak terdeteksi hingga si anak beranjak dewasa dan baru menyadari dirinya terlilit masalah keuangan tanpa tahu sebabnya.
- Stalking, Perundungan, dan Pelecehan
Mungkin terdengar ekstrem dan jauh dari bayangan kita. Tapi, kasus stalking (penguntitan) dan perundungan yang berawal dari postingan media sosial itu benar-benar nyata terjadi.
Informasi lokasi favorit anak, seragam sekolah yang mereka kenakan, atau bahkan rutinitas sehari-hari seperti jadwal les atau les renang, bisa dimanfaatkan oleh orang tak bertanggung jawab.
Mereka bisa menggunakan informasi ini untuk tujuan buruk, dari menguntit hingga pelecehan.
- Data Anak Jadi 'Mata Uang' Digital
Ini mungkin yang paling sulit dibayangkan, namun tak kalah mengerikan. Setiap data yang Anda bagikan, setiap foto atau video anak, bisa jadi 'makanan' bagi platform media sosial atau pihak ketiga.
Mereka bisa menggunakannya untuk melatih kecerdasan buatan (AI), teknologi pengenalan wajah (facial recognition), hingga membentuk profil digital anak Anda sejak dini.
"Mungkin suatu saat, keputusan tentang anak Anda diambil berdasarkan data yang Anda unggah—oleh manusia atau algoritma," jelas Leah Plunkett.
Bayangkan, keputusan penting di masa depan, seperti penerimaan sekolah impian atau bahkan peluang kerja, bisa saja dipengaruhi oleh jejak digital yang Anda ciptakan hari ini.
Sebuah keputusan orang tua di masa lalu, bisa jadi bayangan yang mengikuti anak hingga dewasa.
Tidak Terlambat untuk Berubah! Cara Aman Berbagi Momen Bahagia Si Kecil
Kabar baiknya, tidak pernah ada kata terlambat untuk mengubah kebiasaan sharenting yang mungkin sudah telanjur kita lakukan.
Seperti kata Hanifah Atmi Nurmala dari Komite Edukasi Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) yang dikutip dari VoaIndonesia, "Banyak orang tua mungkin tidak mengetahui sharenting sebagai kegiatan yang bisa mengundang bahaya. Padahal men-share banyak foto di medsos itu menawarkan banyak risiko."
Beliau menegaskan, apa yang kita lakukan bisa membuat keselamatan dan privasi anak terancam.
Bahkan, ada cerita miris dari Hanifah, orang tua memposting foto atau video anak dengan warna kulit gelap.
Niatnya tidak buruk, tapi di kemudian hari, anak bisa jadi sasaran bullying dengan sebutan "si ireng" atau "si hitam".
Baca Juga: Kamar Selalu Gelap, Hidup Tanpa Tujuan: Fenomena Ini Ternyata Viral di Kalangan Gen Z
Lebih jauh, foto-foto konyol masa kecil bisa muncul kembali dan merusak peluang karier, bahkan dalam dunia politik!
"Kalau punya jejak digital yang buruk, jangan coba-coba nyalon di dunia politik, karena itu bisa jadi intrik," ujar Hanifah mengingatkan.
Edward Dewaruci, seorang pengacara yang aktif mengadvokasi hak-hak anak, menambahkan bahwa teknologi geo-tagging di foto atau video bisa membocorkan lokasi rumah, sekolah, atau tempat bermain anak.
Ini membuka pintu bagi perdagangan anak, pencurian identitas, atau bahkan penculikan.
"Beberapa kasus memang seperti itu. Misalnya saja urusan utang piutang. Orang tuanya punya utang, anak kemudian diculik dan disandera, supaya orang tuanya terpaksa memenuhi kewajibannya,” katanya, menggambarkan skenario terburuk yang bisa terjadi.
Jadi, bagaimana cara kita tetap bisa berbagi kebahagiaan tanpa mengorbankan keamanan anak?
- Batasi Informasi Pribadi
Ini adalah kunci pertama. Hindari membagikan nama lengkap, tanggal lahir, lokasi detail, atau rutinitas harian anak.
Lebih penting lagi, jangan pernah posting foto anak dalam keadaan kurang pantas, misalnya tanpa busana, atau di depan rumah/sekolah yang mudah dikenali.
Ingat, gambar-gambar ini bisa dengan mudah disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, termasuk pedofil.
Investigasi Komisi Keamanan Anak Australia pada 2013 menemukan fakta mengejutkan, setengah dari materi di situs pedofil berasal dari foto polos anak-anak yang diunggah di media sosial keluarga!
- Terapkan Aturan "Kartu Ucapan"
Sebelum mengunggah, gunakan prinsip sederhana ini, anggap foto atau cerita itu akan dicetak di kartu ucapan dan dibaca oleh siapa saja, dari kerabat terdekat hingga atasan di kantor.
Apakah Anda akan nyaman? Jika ada sedikit keraguan, sebaiknya tahan dulu sebelum menekan tombol "posting".
- Libatkan Anak dalam Pengambilan Keputusan, Ajari Mereka 'Digital Consent' Sejak Dini
Ini adalah langkah krusial untuk membangun kesadaran digital pada anak sejak dini.
Tanyakan pada mereka apakah mereka nyaman difoto atau divideo, dan jelaskan ke mana gambar itu akan dibagikan.
Hal ini bukan hanya tentang melindungi privasi mereka, tapi juga membangun rasa hormat dan kepercayaan anak pada orang tua, serta mengajarkan mereka tentang hak atas tubuh dan data pribadi.
- Kendalikan Akses dan Privasi
Pastikan akun media sosial Anda diatur ke mode privat. Seleksi siapa saja yang bisa melihat unggahan Anda.
Jika Anda merasa sudah terlalu banyak postingan lama yang berisiko, jangan ragu untuk menghapus atau membatasi aksesnya.
Ingat, jejak digital itu ibarat tato, sangat sulit bahkan terkadang mustahil untuk dihapus sepenuhnya.
"Jejak digital yang diciptakan orang tua dapat mengikuti si anak hingga dewasa," Hanifah mengingatkan.
Menghadapi Keluarga atau Teman yang 'Nyaman' Berbagi
Tak jarang, kita dihadapkan pada situasi canggung ketika keluarga atau teman dekat tanpa sengaja (atau sengaja) mengunggah foto anak kita, misalnya saat ulang tahun atau acara keluarga. Anda punya hak penuh untuk melindungi privasi anak Anda.
Anda bisa menyampaikan permintaan ini dengan sopan dan lembut. Leah Plunkett menyarankan kalimat seperti ini, "Terima kasih sudah hadir di momen spesial ini. Kami ingin benar-benar menikmati kebersamaan, jadi mohon tidak mengambil atau membagikan foto/video."
Jika ada yang tetap mengunggah, jangan ragu untuk berdiskusi secara pribadi, jelaskan alasan Anda, dan mintalah mereka untuk menghapus atau membatasi unggahan tersebut.
Baca Juga: Panduan Lengkap Beasiswa LPDP Georgetown 2025: Syarat, Jadwal, dan Tips Sukses
Milenial dan 'Sharenting'
Penelitian menunjukkan bahwa sharenting ini bukanlah fenomena langka. Sebuah studi di Italia, yang dipublikasikan di Italian Journal of Pediatrics edisi Juli 2024, mengungkap bahwa sharenting adalah praktik yang sangat umum, terutama di kalangan orang tua dari generasi Milenial.
Studi ini menyurvei 228 orang tua, dan hasilnya mengejutkan, 98% menggunakan medsos, dan 75% di antaranya mempublikasikan konten terkait anak-anak mereka.
Yang lebih memprihatinkan, 93% responden yang melakukan sharenting tidak sadar dengan risiko yang dihadapi anak terkait praktik itu!
Ini menggarisbawahi poin Hanifah dan Rita Pranawati, advokat hak anak dari KPAI sebelumnya, yang menekankan pentingnya kehati-hatian.
"Sebenarnya kalau tujuannya positif tidak apa-apa, namun harus menjaga kehati-hatian, terutama identitas dan hanya memposting visual yang normal," kata Rita, menegaskan bahwa "kepentingan yang terbaik bagi anak harus menjadi prioritas."
Sharenting mungkin terasa sepele di awal, sekadar berbagi momen bahagia. Namun, dampaknya bisa panjang dan serius, membentuk masa depan anak kita.
Dengan mulai membatasi informasi pribadi, melibatkan anak dalam setiap keputusan berbagi, dan secara aktif mengendalikan pengaturan privasi akun media sosial kita, kita bisa tetap menikmati kebersamaan dan mengabadikan momen berharga tanpa mengorbankan keamanan dan privasi keluarga.
Tidak perlu terlalu keras pada diri sendiri jika Anda merasa sudah terlalu banyak membagikan di masa lalu.
Yang terpenting adalah langkah kecil yang kita ambil hari ini untuk masa depan anak.
Baca Juga: Dilema setelah SMA, Kerja Dulu atau Kuliah? Pahami Dulu 4 Pertimbangan Ini agar Tak Menyesal Nanti
Setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk buah hatinya, dan perubahan kecil dalam kebiasaan berbagi di dunia maya bisa berdampak sangat besar.
Ingat, jejak digital anak adalah tanggung jawab kita bersama. Sudah siap menjadi orang tua yang lebih bijak dalam berbagi di dunia maya?
Pikirkan dua kali sebelum posting, karena privasi anak Anda adalah aset paling berharga yang harus kita jaga. ***
Editor : Dwi Puspitarini