KALTIMPOST.ID, Hari pertama sekolah sering kali dipenuhi rasa gugup. Bagi banyak anak, masa orientasi sekolah dulu dikenal dengan tugas aneh, atribut tak masuk akal, dan tekanan dari senior.
Namun, semua itu mulai ditinggalkan. Pemerintah kini menggagas Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang lebih manusiawi, aman, dan penuh makna.
MPLS Ramah bukan hanya tentang mengenal gedung sekolah atau nama guru. Lebih dari itu, ini adalah momen awal anak menyerap nilai-nilai hidup yang akan membentuk kepribadian mereka selama bersekolah.
Di sinilah sekolah dituntut tak hanya jadi tempat belajar ilmu, tapi juga tempat anak merasa diterima, dihargai, dan didorong untuk berkembang.
Dalam webinar resmi yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan pada 8 Juli 2025, seperti dilaporkan dari Kemendikbud.go.id, ditegaskan bahwa MPLS Ramah menjadi bagian dari upaya membangun budaya positif di sekolah, tanpa kekerasan, tanpa perpeloncoan, dan tanpa tekanan psikologis yang merendahkan martabat siswa.
Baca Juga: MPLS Ramah 2025, Apa Saja yang Boleh dan Tidak Boleh Dilakukan? Simak Selengkapnya!
Nilai-Nilai Karakter yang Ditekankan dalam MPLS Ramah
- Menghormati Hak Anak
Menurut Rusprita Budi Utami, Kepala Pusat Penguatan Karakter Kemendikbud, MPLS harus dimulai dengan memuliakan hak anak.
Artinya, anak tidak boleh dijadikan objek hiburan atau tekanan. Setiap kegiatan harus menjunjung rasa aman, tidak mempermalukan, dan tidak menyinggung harga diri.
- Kedisiplinan yang Positif
Dilansir dari Panduan MPLS Kemendikbud Tahun 2024/2025, anak didorong menumbuhkan disiplin bukan lewat hukuman, tapi melalui pembiasaan, mulai datang tepat waktu, mengikuti kegiatan pagi ceria, dan membentuk rutinitas sehat.
Disiplin menjadi bagian dari tanggung jawab diri, bukan paksaan.
- Rasa Ingin Tahu dan Belajar Sepanjang Hayat
Kegiatan MPLS yang bersifat eksploratif, seperti pengenalan ekstrakurikuler, budaya sekolah, dan permainan kreatif bertujuan membangun rasa ingin tahu.
Anak didorong bertanya, mencoba hal baru, dan mulai menyukai proses belajar.
- Empati dan Kebersamaan
Pengenalan budaya antre, kerja kelompok, hingga senam bersama membentuk interaksi sosial yang sehat.
MPLS menekankan bahwa sekolah adalah rumah kedua, dan semua siswa adalah keluarga. Anak belajar saling menghargai sejak awal.
- Keberanian Berpendapat
Dengan suasana yang aman dan inklusif, siswa baru diberi ruang untuk mengutarakan pendapat.
Kegiatan diskusi ringan, berbagi pengalaman, atau sesi tanya jawab membuat anak merasa suara mereka penting.
- Mandiri dan Tanggung Jawab
Melalui pembiasaan aktivitas pagi, pengenalan tugas ringan, dan perkenalan fasilitas sekolah, MPLS melatih anak mengenal tanggung jawab pribadi. Ini menjadi pondasi kemandirian mereka selama bersekolah.
- Cinta Tanah Air dan Karakter Kebangsaan
MPLS juga mengajarkan siswa menyanyikan lagu Indonesia Raya, memahami simbol-simbol negara, dan menghargai keberagaman. Anak sejak dini dikenalkan pada nilai-nilai kebangsaan.
Baca Juga: 6 Perbedaan Sekolah Negeri dan Swasta yang Perlu Orang Tua Tahu, Pilih yang Mana?
MPLS Ramah tidak hanya membuat anak merasa diterima, tetapi juga menjadi langkah awal mencegah kekerasan, perundungan, dan krisis kepercayaan diri di lingkungan sekolah.
Menurut Kemendikbudristek, sekolah yang menanamkan nilai karakter sejak hari pertama akan membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tapi juga tangguh dan berakhlak.
Sebagai orang tua, guru, dan warga sekolah, mari pastikan MPLS benar-benar menjadi ruang yang ramah, membangun, dan penuh harapan.
Karena dari sinilah karakter anak Indonesia dibentuk tanpa kekerasan, tanpa rasa takut. ***
Editor : Dwi Puspitarini