Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Aneh! Musim Kemarau tapi Malam Dingin Menusuk, Ini Biang Keroknya

Dwi Puspitarini • Sabtu, 19 Juli 2025 | 06:55 WIB

 

Ilustrasi. Fenomena Bediding yang menyebabkan suhu udara dingin di dataran tinggi saat musim kemarau, dengan langit yang cerah.
Ilustrasi. Fenomena Bediding yang menyebabkan suhu udara dingin di dataran tinggi saat musim kemarau, dengan langit yang cerah.

KALTIMPOST.ID, Beberapa waktu terakhir, Anda mungkin merasa perlu menarik selimut lebih tebal saat tidur.

Udara malam hingga pagi hari terasa lebih dingin dari biasanya, bahkan sampai menusuk tulang.

Anehnya, fenomena ini justru terjadi saat kita sedang memasuki puncak musim kemarau yang identik dengan cuaca panas dan terik.

Fenomena ini dikenal dengan istilah "Bediding", sebuah kondisi yang lazim terjadi di musim kemarau, terutama di wilayah dataran tinggi seperti Dieng, serta dirasakan di banyak wilayah Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara.

Ini adalah sebuah paradoks cuaca yang menarik, siang hari terasa menyengat, namun malamnya terasa seperti di pegunungan.

Menurut BMKG, fenomena Bediding adalah hal yang wajar dan disebabkan oleh kombinasi tiga faktor atmosferik yang bekerja sama.

  1. Langit Cerah Tanpa Awan: Saat musim kemarau, langit cenderung cerah dan minim tutupan awan. Awan sebenarnya berfungsi seperti "selimut alami" yang menahan panas Bumi. Tanpa awan, panas yang diserap permukaan Bumi sepanjang hari akan dengan mudah lepas kembali ke atmosfer pada malam hari, membuat suhu turun drastis.
  2. Udara Kering Minim 'Selimut' Uap Air: Kelembapan udara yang rendah saat kemarau berarti kandungan uap air di atmosfer sangat sedikit. Sama seperti awan, uap air juga berperan penting dalam menyerap dan menahan panas. Ketika udara kering, tidak ada media yang cukup untuk memerangkap panas, sehingga permukaan Bumi mendingin lebih cepat.
  3. Kiriman Angin Dingin dari Australia: Faktor terakhir datang dari benua tetangga. Pada periode ini, Angin Monsun Timur yang bersifat kering dan dingin bertiup dari Australia—yang sedang mengalami puncak musim dingin—menuju wilayah Indonesia. Angin "impor" ini memperkuat efek pendinginan, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan seperti Jawa, Bali, NTB, dan NTT.

Banyak yang mengira suhu dingin ini terjadi karena posisi Bumi berada di titik terjauh dari Matahari, atau yang disebut Aphelion.

Namun, BMKG dengan tegas membantah mitos ini. Pengaruh Aphelion terhadap suhu di Bumi sangat kecil dan tidak signifikan untuk menyebabkan perubahan suhu seekstrem ini.

Penyebab utamanya murni karena dinamika atmosfer yang telah dijelaskan di atas.

Meskipun Bediding adalah fenomena normal, BMKG mencatat ada yang tidak biasa dengan musim kemarau tahun ini.

Sebagian besar wilayah Indonesia justru mengalami kemarau basah, yaitu musim kemarau dengan curah hujan di atas normal.

Kondisi ini diprediksi akan berlangsung hingga Oktober 2025 dan berpotensi memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor, terutama di wilayah yang masih sering diguyur hujan.

 Baca Juga: Cara Mengeringkan Pakaian saat Musim Hujan! Trik Mudah, Cepat, dan Anti Bau Apek

Tips Tetap Nyaman dan Sehat Selama 'Bediding'

Fenomena suhu dingin yang diperkirakan berlangsung hingga September 2025 ini memang tidak berbahaya, namun BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan menjaga kondisi tubuh dengan beberapa cara:

Jadi, nikmatilah langit cerah khas musim kemarau di siang hari, namun jangan lupa siapkan jaket atau selimut tebal untuk menghadapi dinginnya malam "Bediding". ***

Editor : Dwi Puspitarini
#suhu dingin #Fenomena Bediding #Angin Monsun Timur #puncak musim kemarau #bmkg #kemarau basah #bediding