Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Ternyata, Aktivitas Sehari-hari Ini Berisiko Merusak Lapisan Ozon

Khoirun Nisa • Rabu, 17 September 2025 | 09:48 WIB
Lapisan Ozon.
Lapisan Ozon.

KALTIMPOST.ID, Di tengah aktivitas masyarakat modern yang padat, seringkali kita tidak menyadari bahwa beberapa kebiasaan sehari-hari ternyata berpotensi merusak lapisan ozon—pelindung alami Bumi dari bahaya sinar ultraviolet.

Menjaga lapisan ozon berarti menjaga kesehatan kita semua, dan memahami penyebab kerusakannya adalah langkah pertama yang penting. Terlebih tanggal 16 September diperingati sebagai Hari Ozon Sedunia.

Berikut adalah beberapa aktivitas yang perlu diwaspadai karena berisiko merusak lapisan ozon!

1. Penggunaan dan Perbaikan Zat Pendingin Berbahaya

Masih banyak alat pendingin seperti AC dan kulkas model lama yang menggunakan zat pendingin jenis CFC (chlorofluorocarbon) atau HCFC.

Kebocoran zat ini saat proses perbaikan atau pembuangan alat dapat menyebabkan bahan kimia perusak ozon tersebut lepas ke udara dan berpotensi merusak atmosfer.

2. Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla)

Kebakaran hutan yang masih sering terjadi di Indonesia bukan hanya menyebabkan polusi udara dan kerusakan ekosistem, tapi juga berkontribusi pada penipisan ozon.

Asap dan gas yang dihasilkan mengandung berbagai senyawa yang dapat memicu reaksi kimia yang mempercepat kerusakan lapisan ozon di stratosfer.

3. Penggunaan Alat Pemadam Api Jenis Lama (Halon)

Selain zat pendingin, ada zat lain yang sangat berbahaya bagi ozon, yaitu Halon. Zat ini umumnya ditemukan pada Alat Pemadam Api Ringan (APAR) model lama, yang seringkali masih terpasang di gedung-gedung tua, pabrik, atau fasilitas industri.

Halon memiliki potensi perusakan ozon yang jauh lebih kuat daripada CFC dan dapat menyebabkan kerusakan signifikan jika terlepas.

4. Pengelolaan Limbah Elektronik yang Tidak Tepat

Proses pembuangan dan pembongkaran alat elektronik bekas, terutama AC dan kulkas, yang tidak sesuai prosedur dapat menyebabkan zat pendingin berbahaya bocor ke lingkungan.

Banyak bengkel atau pengepul barang bekas yang belum memiliki fasilitas untuk mengelola limbah ini dengan aman.

5. Rendahnya Kesadaran dan Edukasi tentang Ozon

Kurangnya sosialisasi dan edukasi mengenai isu ini membuat banyak warga dan pelaku usaha kecil belum menyadari dampak aktivitas sehari-hari mereka.

Padahal, pemilihan produk ramah lingkungan dan pengelolaan limbah yang tepat dapat mengurangi risiko kerusakan ozon secara signifikan.

Menjaga Ozon, Menjaga Masa Depan

Meski Indonesia sudah berhenti memproduksi zat perusak ozon sejak bergabung dalam Protokol Montreal, tantangan terbesar saat ini adalah pengawasan penggunaan produk lama dan edukasi masyarakat.

Oleh karena itu, peran aktif kita semua sangat penting untuk mengurangi risiko kerusakan ozon, mulai dari hal-hal kecil di sekitar kita.

Yuk bersama-sama menjaga lapisan ozon sebagai warisan berharga untuk generasi mendatang. (*)

Editor : Almasrifah
#apar #bumi #cfc #sinar ultraviolet #lapisan ozon #limbah elektronik #karhutla