Matcha hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari latte, frappe, dan es krim. Ada juga campuran dalam kue, donat, bahkan saus untuk pasta.
Matcha sering diasosiasikan dengan gaya hidup sehat. Kandungan antioksidan yang tinggi, terutama epigallocatechin gallate (EGCG) menjadikannya pilihan populer bagi mereka yang ingin menjaga kesehatan, meningkatkan fokus, dan memperbaiki metabolisme.
Bagi beberapa orang, matcha jadi opsi yang dianggap “lebih sehat” dibanding kopi atau minuman manis biasa. Namun, di balik manfaatnya, konsumsi matcha secara berlebihan ternyata juga bisa menimbulkan dampak negatif bagi tubuh.
Sebagai salah satu bentuk teh hijau yang dikonsumsi utuh dalam bentuk bubuk, matcha memiliki kandungan kafein yang cukup tinggi. Dalam satu cangkir matcha latte saja, kadar kafeinnya bisa setara dengan secangkir kopi espresso ringan.
Bagi sebagian orang, terutama mereka yang sensitif terhadap kafein, efeknya bisa berupa jantung berdebar, gelisah, gangguan tidur, bahkan masalah lambung seperti maag. Apalagi jika dikonsumsi lebih dari dua kali sehari, efek stimulasi tersebut bisa bertambah kuat.
Yang lebih mengkhawatirkan, banyak produk matcha yang dijual di pasaran tidak lagi murni.
Dalam usaha menyesuaikan dengan selera pasar, banyak varian matcha kekinian yang mengandung kadar gula tinggi, krimer buatan, pemanis sintetis, bahkan topping ekstra seperti boba atau whipped cream.
Kombinasi tersebut justru menjadikan matcha sebagai minuman tinggi kalori dan gula, yang jika dikonsumsi rutin tanpa kontrol bisa meningkatkan risiko obesitas dan masalah metabolik.
Tren matcha yang merajalela memang mencerminkan peningkatan kesadaran akan pilihan makanan dan minuman yang lebih “natural” dan “sehat”. Tapi kita juga harus tau dan sadar batas konsumsi yang kita dibutuhkan.
Minuman ini tetap bisa dinikmati sebagai bagian dari rutinitas harian, selama disesuaikan dengan kebutuhan tubuh masing-masing.
Sebisa mungkin, disarankan untuk memilih varian matcha tanpa gula tambahan, menghindari topping tinggi kalori, dan memperhatikan respon tubuh kita terhadap kafein.
Fenomena “matcha everywhere” adalah refleksi dari bagaimana tren bisa dengan cepat memengaruhi pola konsumsi masyarakat.
Tapi seperti halnya tren lain, bijak dalam menikmatinya adalah kunci agar manfaat yang didapat tidak berubah menjadi risiko.
Jadi, untuk kamu yang doyan matcha, jangan sampai terlalu banyak mengkonsumsi ya! Nikmati secukupnya dan pastinya selalu utamakan kesehatan kamu sendiri. (*)
Editor : Uways Alqadrie