KALTIMPOST.ID, Ibu Kota Nusantara (IKN) dikenal sebagai ibukota baru Indonesia yang dibangun dengan gagasan sebagai “kota hutan” atau smart forest city.
Namun, Ibu Kota Nusantara (IKN) juga mengadopsi konsep sponge city atau kota spons sebagai salah satu prinsip utamanya yaitu forest city. Tujuan penggunaan konsep ini dalam pengembangan pembangunan IKN agar nantinya saat kota ini siap beroperasi akan dapat menyerap, menahan, dan menggunakan kembali air hujan secara efektif, sehingga mengurangi risiko banjir dan genangan.
Pendekatan ini menjadi bagian integral dalam Rencana Induk IKN yang bertujuan untuk mewujudkan kota berkelanjutan dengan pengelolaan air yang cerdas dan ramah lingkungan. Lantas apa itu sponge city?
Apa itu Sponge City?
Konsep kedua adalah Sponge City, konsep ini merujuk pada kawasan perkotaan dengan banyak fitur alami salah satunya dapat menangkal bencana alam banjir dengan cara menyerap air. Fitur area ini mencakup pepohonan dan ruang hijau hingga taman, danau, dan bahkan atap.
Mengingat bahwa perubahan iklim merupakan bagian dari tantangan yang kita hadapi saat ini, maka konsep sponge city yang hadir sebagai infrastruktur hijau dalam perencanaan kota berkelanjutan mampu menjadi solusi yang dapat diterapkan secara internasional.
Daftar Negara yang Mengadopsi Konsep Sponge City
1. Shanghai, Tiongkok
Konsep Sponge City telah menjadi hal yang lumrah di kalangan perencana kota di Tiongkok, hal ini disebabkan karena ini negara memiliki risiko banjir yang sangat tinggi. 641 dari 654 kotanya terdampak banjir secara rutin, sehingga pemerintah Tiongkok menunjuk 30 kota untuk menjadi percontohan program sponge city.
Selain bencana banjir, Tiongkok juga mengalami tantangan lain seperti kekurangan air yang serius. Urbanisasi yang terjadi begitu cepat mengakibatkan fasilitas air yang berada di perkotaan kurang tersebar di seluruh negeri, sehingga hampir separuh kota besar di Tiongkok tenggelam akibat peningkatan ekstraksi air.
Dengan begitu banyak tantangan tersebut, akhirnya Tiongkok meresmikan Starry Sky, sebagai bagian dari pendekatannya terhadap tantangan penurunan tanah, banjir, dan pengelolaan air.
2. Berlin, Jerman
Berlin, ibu kota Jerman tidak menggunakan pipa untuk mengalirkan air dari mata airnya. Penduduk kota ini justru mengambil air minumnya dari tanah. Hal ini menunjukan pendekatan dari konsep sponge city yang dapat memberi manfaat bagi masyarakat. Prinsip spons diadopsi oleh Berlin setelah mengalami banjir bandang pada tahun 2017 , dan sejak saat itu menjadi bagian dari undang-undang pembangunan perkotaan baru.
3. Auckland, Selandia Baru
Dalam penelitian Arup tentang tingkat kelenturan beberapa kota besar, Auckland berada di posisi teratas, mencapai tingkat kelenturan 35%. Keberhasilan ini sebagian berkat faktor geografi dan desain perkotaannya, dengan para peneliti menemukan bahwa 50% permukaannya berwarna hijau atau biru .
Auckland secara historis telah mengalami banjir. Meskipun ada upaya positif dalam penerapan konsep spons, kota ini mengalami apa yang dijuluki 'peristiwa iklim terbesar dalam sejarah Selandia Baru' pada Januari 2023, menewaskan empat orang dan menyebabkan kerusakan properti senilai lebih dari NZ$1,95 miliar.
4. Copenhagen, Denmark
Ibu kota negara Denmark, Copenhagen, menerapkan konsep sponge city untuk menghadapi persoalan banjir yang mengancam setiap tahun. Negara di Eropa Utara tersebut mengadaptasi konsep tersebut dalam perencanaan Cloudburst Management Plan pada 2012.
Cloudburst Management Plan didirikan dengan tujuan untuk mengurangi dampak peristiwa banjir akibat hujan lebat yang diperkirakan akan meningkat frekuensinya sebagai akibat dari perubahan iklim. Alasan Denmark mengadopsi konsep sponge city ini terjadi setelah banjir besar yang terjadi pada 2 Juli 2011. Nilai kerugian akibat bencana itu sekitar miliaran kroner atau sekitar US$ 1 miliar.
Editor : Hernawati