KALTIMPOST.ID-Kabar duka menyelimuti sepasang pengantin baru, GK (28) dan CDN (28), yang sedang berbulan madu di sebuah lokasi wisata glamping di kawasan Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat.
Momen bahagia itu berubah menjadi pilu setelah CDN ditemukan meninggal dunia pada Kamis (9/10). Sementara itu, sang suami, GK, ditemukan dalam kondisi kritis dan segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.
Berdasarkan investigasi awal dari aparat berwajib, peristiwa nahas yang menimpa pasangan tersebut disinyalir disebabkan oleh keracunan gas yang berasal dari alat pemanas air (water heater) yang berada di kamar mandi. Dugaan ini menguat karena tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.
Tragedi ini menjadi pelajaran penting mengenai risiko penggunaan pemanas air. Penting untuk memahami berbagai faktor yang dapat menyebabkan kerusakan atau kebocoran pada perangkat ini.
Secara umum, pemanas air dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan sumber energinya: listrik dan gas. Saat ini, banyak konsumen yang beralih menggunakan water heater gas karena kecepatannya dalam memanaskan air, lebih unggul dibandingkan tipe listrik.
Selain itu, perangkat ini tetap berfungsi saat listrik padam dan cenderung lebih hemat biaya operasional.
Meskipun menawarkan berbagai keunggulan, penggunaan pemanas air, terutama yang berbasis gas, memerlukan kehati-hatian. Pemasangan dan perawatan yang tidak tepat dapat menimbulkan bahaya serius.
Faktor-faktor Utama Kerusakan Water Heater:
Korosi atau karat pada tangki penyimpanan. Kerusakan ini adalah salah satu masalah paling umum, terutama pada perangkat yang sudah lama digunakan.
Seiring waktu, air di dalam tangki logam (steel) dapat memicu proses karat, yang secara bertahap mengikis dinding tangki dari dalam.
Jika dinding menjadi terlalu tipis atau muncul lubang karat, kebocoran air akan terjadi. Kualitas air yang buruk dapat mempercepat proses korosi ini.
Batang Anoda (Anode Rod) habis. Kebocoran tangki seringkali terjadi tak lama setelah batang anoda benar-benar kehilangan fungsinya.
Batang anoda, umumnya terbuat dari magnesium atau aluminium, sengaja dirancang agar lebih mudah berkarat. Tujuannya adalah untuk menarik reaksi korosi agar tidak merusak dinding tangki utama.
Jika perangkat tidak pernah diservis, batang ini akan habis termakan karat dalam beberapa tahun. Ketika batang anoda hilang, proses korosi akan langsung menyerang dinding baja tangki.
Tekanan air berlebihan. Tekanan air yang terlalu tinggi dalam sistem dapat memberikan beban berlebih pada tangki dan sambungan pipa, yang berujung pada kerusakan.
Peningkatan tekanan yang signifikan bisa terjadi jika tekanan air dari pompa terlalu kuat, atau jika pengaturan suhu gas terlalu tinggi.
Tekanan atau suhu yang melebihi batas aman dapat menyebabkan katup Temperature and Pressure Relief (TPR) tidak berfungsi atau macet.
Akibatnya, tekanan tidak dapat dilepaskan, menimbulkan tegangan berlebihan pada tangki hingga akhirnya retak atau bocor.
Kerusakan pada segel (seal). Kebocoran pada alat pemanas air tidak selalu bersumber dari tangki; segel atau peredam yang rusak juga bisa menjadi penyebabnya.
Jika segel mengalami kerusakan atau aus, rembesan air dan kebocoran dapat terjadi. Komponen ini dapat menjadi longgar atau rusak akibat pemakaian dan paparan suhu tinggi, sehingga perlu diperiksa secara rutin.
Selang penghubung retak. Selang bertugas menghubungkan pasokan air dengan unit pemanas. Seiring pemakaian, komponen ini bisa mengalami keretakan dan memicu kebocoran.
Kebocoran pada komponen pemanas air dapat berdampak fatal jika tidak ditangani segera, terutama jika air merembes ke area instalasi listrik, yang berpotensi menyebabkan kebakaran.
Sambungan pipa longgar. Kebocoran juga bisa diakibatkan oleh sambungan pipa air yang aus atau rusak. Sambungan ini bisa mengendur karena getaran terus-menerus, tekanan air berlebihan, dan perubahan suhu selama penggunaan.
Penting untuk memastikan sambungan pipa selalu dalam kondisi baik guna mencegah kerusakan dan kebocoran.
Bagaimana Water Heater Gas Menghasilkan Racun?
Water heater gas berpotensi menghasilkan gas karbon monoksida (CO) yang bersifat sangat beracun. Hal ini terjadi jika proses pembakarannya tidak berlangsung sempurna atau sistem ventilasi di tempat pemasangan tidak memadai.
Idealnya, pembakaran gas alam akan menghasilkan residu berupa karbon dioksida (CO2) dan uap air, yang seharusnya dialirkan keluar ruangan melalui sistem pembuangan. Namun, jika saluran ventilasi tersumbat atau sirkulasi udara buruk, gas buang tidak dapat keluar.
Selain itu, instalasi yang tidak sesuai standar atau kerusakan pada perangkat dapat menyebabkan gas beracun ini menumpuk di dalam ruangan, menciptakan risiko keracunan serius bagi orang-orang di sekitarnya. (*)
Editor : Almasrifah