Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Bukan Soal Anak Jadi Dokter atau Profesor, Miss R Ungkap Makna Sejati Keberhasilan Mendidik Anak

Khoirun Nisa • Selasa, 21 Oktober 2025 | 12:44 WIB

 

Ilustrasi.
Ilustrasi.

KALTIMPOST.ID, Banyak orang tua menaruh harapan besar pada masa depan anak-anaknya.

Anak yang berprestasi di sekolah, memenangkan lomba, atau kelak menjadi dokter dan profesor kerap dianggap sebagai tanda keberhasilan dalam mendidik.

Padahal, ukuran keberhasilan itu kini mulai dipertanyakan oleh banyak pakar pendidikan dan parenting.

Salah satunya oleh Education & Parenting Coach asal Balikpapan, Sri Erniati, atau yang akrab disapa Miss R.

Menurutnya, kesuksesan orang tua tidak seharusnya diukur dari profesi anak, melainkan dari seberapa jauh orang tua mampu bertumbuh menjadi pribadi yang dewasa secara emosional.

“Kunci utamanya adalah orang tua tumbuh menjadi orang tua,” ujar Miss R kepada Kaltim Post, baru-baru ini.

Anak Tumbuh, Orang Tua Tumbuh

Ia menjelaskan, banyak orang tua secara usia memang sudah dewasa, namun di dalam dirinya masih menyimpan “anak kecil” yang belum sembuh dari luka masa lalu. Dalam istilah psikologi modern, kondisi ini dikenal sebagai inner child.

Luka itu bisa muncul dalam bentuk mudah marah, reaktif terhadap anak, atau cepat tersinggung terhadap pasangan.

“Anak dan pasangan itu sebenarnya cermin dari luka-luka masa lalu yang belum diselesaikan. Kalau kita mudah marah sama pasangan atau anak, artinya ada luka dengan orang tua kita dulu yang belum selesai,” jelasnya.

Karena itu, Miss R menilai mendidik anak sejatinya bukan hanya soal mengajarkan nilai dan disiplin, tetapi juga tentang proses menyembuhkan diri sendiri.

Orang tua perlu menyadari emosi yang belum tuntas, belajar menenangkan diri, dan memahami bahwa kasih sayang hanya bisa diberikan secara utuh jika tangki kasih sayang dalam diri telah terisi penuh.

“Belajarlah untuk selesai dengan dirimu. Penuhi tangki kasih sayangmu agar bisa memberikan kasih sayang seutuhnya kepada anak,” pesannya.

Kolaborasi Ayah dan Ibu

Selain kesadaran diri, hubungan antara ayah dan ibu juga memegang peran penting dalam proses pengasuhan.

Miss R menjelaskan, energi feminin yang dibawa ibu dan energi maskulin dari ayah harus berjalan beriringan.

Ibu biasanya hadir dengan kelembutan, kasih, dan empati, sementara ayah memberikan ketegasan, arah, serta contoh daya juang.

“Keduanya penting. Anak butuh rasa aman dari ibunya, tapi juga butuh keteguhan dari ayah agar belajar menghadapi dunia,” katanya.

Keseimbangan dua peran itu, menurut Miss R, akan menciptakan lingkungan yang sehat bagi anak untuk bertumbuh.

Di dalam rumah yang penuh kasih, anak belajar mengenali emosi, menghargai perbedaan, dan membangun kepercayaan diri tanpa tekanan berlebihan.

 Baca Juga: Jangan Asal Posting Foto Anak di Medsos! Ini Risiko Sharenting yang Perlu Diketahui Orang Tua

Kesuksesan Anak Jalan yang Berbeda

Lebih jauh, Miss R juga mengingatkan bahwa setiap anak memiliki jalannya masing-masing.

Orang tua perlu menurunkan ekspektasi berlebihan yang sering kali bersumber dari keinginan pribadi atau pembuktian sosial.

“Itu kan doktrin lama, sekarang enggak berlaku,” ujarnya sambil tersenyum.

“Sukses bukan ketika anak jadi dokter, tapi ketika orang tua bisa hadir secara emosional, penuh kasih, dan sadar dalam mendampingi anak tumbuh.”

Kini keberhasilan sejati dalam mendidik anak tidak lagi dilihat dari gelar atau profesi, melainkan dari proses tumbuh bersama antara orang tua dan anak.

Sebab, saat orang tua belajar mengenali dan menyembuhkan dirinya, ia sedang menyiapkan ruang yang aman bagi anak untuk berkembang menjadi pribadi yang bahagia dan utuh. ***

Editor : Dwi Puspitarini
#inner child #luka batin orang tua #parenting