KALTIMPOST.ID, Sering chat intens sampai larut malam? Jalan bareng setiap akhir pekan? Saling kenal teman dekat, tapi saat ditanya “Kalian pacaran?”, jawabannya kompak, “Kita... teman dekat aja.”
Selamat datang di era situationship.
Istilah ini mungkin sudah tidak asing lagi di telinga Gen Z. Ini adalah fenomena hubungan abu-abu yang makin lumrah: lebih dari sekadar teman, tapi tidak pernah ada peresmian status sebagai pacar.
Bagi generasi sebelumnya yang terbiasa dengan “tembak-menembak” dan status yang jelas, konsep ini mungkin bikin pusing. Tapi bagi Gen Z, ini seringkali jadi pilihan sadar.
Apa Itu ‘Situationship’ Sebenarnya?
Secara sederhana, situationship adalah hubungan romantis yang tidak terdefinisi. Tidak ada label, tidak ada komitmen jangka panjang, dan tidak ada ekspektasi yang jelas layaknya orang berpacaran.
Ini adalah zona nyaman di antara pertemanan dan komitmen. Kamu bisa mendapatkan keintiman emosional dan fisik, tapi tanpa “beban” tanggung jawab atau label “pacar”.
Mengapa Jadi Pilihan Populer?
Lalu, kenapa banyak Gen Z yang nyaman-nyaman saja terjebak, atau justru memilih zona ini?
Fokus pada Diri Sendiri: Banyak Gen Z yang sedang dalam fase membangun karier, menyelesaikan pendidikan, atau mengejar passion. Komitmen pacaran sering dianggap sebagai “gangguan” atau butuh energi emosional ekstra yang belum siap mereka berikan.
Takut Akan Kegagalan: Tumbuh di era digital di mana perpisahan dan perceraian terekspos jelas, sebagian Gen Z mengembangkan ketakutan akan komitmen.
“Kalau tidak ada status, tidak ada yang namanya putus,” begitu logikanya. Ini dianggap sebagai cara melindungi diri dari sakit hati.
Kebebasan dan Fleksibilitas: Situationship menawarkan kebebasan. Tidak ada kewajiban untuk melapor, tidak ada drama cemburu (secara teori), dan pintu selalu terbuka untuk “pergi” kapan saja tanpa perlu ada obrolan “putus” yang berat.
Sisi ‘Jebakan’-nya: Saat Salah Satu Mulai ‘Baper’
Masalah terbesar dari situationship muncul ketika perasaan tidak lagi seimbang. Hubungan ini berjalan mulus hanya jika kedua belah pihak punya pemahaman yang sama.
Namun, manusia punya hati. Seringkali, salah satu pihak mulai berharap lebih. Ia menginginkan kejelasan, status, dan komitmen. Sementara pihak lainnya masih nyaman di zona abu-abu.
Di sinilah letak “jebakan”-nya. Tidak adanya label membuat salah satu pihak sulit untuk menuntut. Mau cemburu? “Kita kan Cuma teman.” Mau minta kejelasan? Takut dibilang “baper” dan malah ditinggal.
Pada akhirnya, situationship sering berakhir dengan kebingungan, patah hati yang tidak tervalidasi, atau salah satu pihak menghilang begitu saja (ghosting).
Jadi, pilihan atau jebakan? Jawabannya ada pada ekspektasi masing-masing. Selama kedua pihak jujur dan sepakat, situationship bisa jadi solusi kencan yang fleksibel. Tapi jika kamu mencari kepastian, hubungan tanpa label ini mungkin adalah resep patah hati yang paling modern.
Editor : Hernawati