Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Tren De-Influencing: Saat Netizen Tak Lagi Gampang ‘Keracunan’ Konten Review Influencer

Khoirun Nisa • Kamis, 30 Oktober 2025 | 14:16 WIB
Ilustrasi konten kreator.
Ilustrasi konten kreator.

KALTIMPOST.ID, Linimasa media sosial selama bertahun-tahun penuh dengan “racun”. Para influencer, besar maupun kecil, berlomba-lomba memamerkan haul belanja, skincare ajaib, hingga gadget terbaru.

Dengan satu kalimat “Kalian harus punya ini!”, ribuan orang langsung tergoda dan ikut membeli.

Namun belakangan, tren itu mulai berbalik arah. Netizen tampak jenuh. Dari kejenuhan itu lahirlah sebuah fenomena baru bernama “De-Influencing.”

De-Influencing adalah gerakan di mana kreator konten justru mendapatkan kepercayaan dan popularitas dengan melakukan hal sebaliknya: bukan menyuruh audiens membeli sesuatu, melainkan memberi tahu produk apa yang tidak perlu dibeli.

Mereka berani membongkar skincare viral yang ternyata biasa saja, fashion item yang kualitasnya tidak sebanding dengan harga, atau lipstik mahal yang formulanya mirip produk di bawah Rp50 ribu.

Intinya, mereka menggeser pertanyaan dari “Apa yang harus saya beli?” menjadi “Apa yang sebaiknya saya hindari?”

Fenomena ini muncul sebagai tanda pendewasaan digital dan kejenuhan massal. Salah satu penyebab utamanya adalah faktor ekonomi. Di tengah biaya hidup yang makin tinggi, masyarakat kini lebih kritis dalam membelanjakan uang. Mereka tak lagi mudah tergoda oleh rasa takut ketinggalan tren (FOMO).

Selain itu, muncul pula gejala yang disebut review fatigue atau kelelahan terhadap ulasan. Audiens semakin pintar membedakan mana review jujur dan mana iklan terselubung. Kepercayaan terhadap influencer besar yang “semua-nya bagus” perlahan terkikis.

Karena itu, kehadiran para kreator de-influencing terasa seperti angin segar. Mereka dianggap lebih autentik, jujur, dan dekat dengan audiens. Tidak tampil sempurna, tapi apa adanya seperti teman yang memberi nasihat jujur, bukan penjual yang memaksa.

Fenomena ini menjadi bentuk perlawanan halus terhadap budaya konsumtif yang selama ini didorong media sosial. Netizen kini tidak lagi mencari influencer dengan hidup sempurna, melainkan kreator yang bisa dipercaya bahkan jika itu berarti disarankan untuk tidak membeli apa pun. Kalau kamu suka dengan konten de-influencing juga?

Editor : Hernawati
#de influencing #influencer #Linimasa #konten kreator