KALTIMPOST.ID, Gara-gara viralnya tren di TikTok Bismillah Avoidant, label “avoidant” kini jadi ‘stempel’ baru yang gampang dilekatkan pada siapa saja.
Pasangan balas chat singkat? Dibilang avoidant. Gebetan tidak mau diajak cepat-cepat jadian? Dituduh avoidant.
Padahal, Avoidant Attachment Style adalah pola psikologis kompleks yang terbentuk sejak kecil. Itu bukan sekadar perilaku cuek atau dingin yang banyak terjadi.
Kenyataannya, banyak perilaku yang sering salah dilabeli. Berikut adalah 5 hal yang sering dianggap avoidant, padahal sebenarnya bukan:
1. Sekadar ‘Dry Text’ atau Malas Balas Chat
Ini adalah kesalahan paling umum. Seseorang yang balas ‘Y’ atau ‘Ok’ belum tentu avoidant. Bisa jadi dia memang tidak tertarik, sedang sibuk, tidak jago merangkai kata, atau memang punya basic manner komunikasi yang buruk.
2. Tidak Mau Buru-Buru Pacaran
Baca Juga: Terlalu Banyak Label Bikin Gen Z Justru Kehilangan Diri Sendiri? Ini yang Harus Kamu Tahu!
Seseorang yang memilih untuk berteman dulu atau fokus pada karier tidak otomatis avoidant. Bisa jadi dia memang punya prioritas lain, baru putus cinta, atau sedang menilai keseriusan hubungan. Itu adalah batasan (boundary) yang sehat, bukan ketakutan akan keintiman.
3. Benar-Benar Sibuk
Di era hustle culture, banyak orang benar-benar sibuk dengan pekerjaan, kuliah, atau side hustle. Jika seseorang bilang butuh ‘me time’ di akhir pekan, itu bisa jadi artinya dia memang lelah, bukan sedang “menghindar” secara emosional.
4. Introvert atau Butuh Waktu Sendiri
Orang introvert mengisi ulang energi mereka dengan kesendirian. Kebutuhan mereka untuk “menghilang” sejenak setelah kumpul ramai-ramai sering disalahartikan sebagai sikap dingin atau avoidant. Padahal, itu murni cara kerja baterai sosial mereka.
5. Memang Tidak Tertarik (Lagi)
Kadang, jawaban paling sederhana adalah yang benar. Seseorang yang tiba-tiba menjaga jarak, slow response, dan tampak tidak peduli, mungkin artinya sederhana: dia tidak (lagi) tertarik. Itu bukan pola psikologis, itu sinyal penolakan. Jadi jangan anggap avoidant.
Melabeli setiap perilaku negatif sebagai ‘avoidant’ adalah tindakan self-diagnosis yang keliru dan berlebihan.
Jauh lebih bijak untuk melihat perilaku apa adanya: jika seseorang memperlakukan kita dengan buruk atau cuek, masalahnya mungkin sesederhana bad attitude atau ketidaktertarikan, bukan attachment style yang rumit.
Jika kamu atau orang terdekatmu merasa diri avoidant tapi takut melabeli diri sampai self diagnosis, kamu bisa coba konsultasi lebih lanjut bersama profesional ya! (*)
Editor : Almasrifah