KALTIMPOST.ID-Generasi Z, generasi muda yang mulai memenuhi pasar kerja, selalu punya fenomena yang menarik. Mereka berani mendobrak sistem kerja yang berjalan selama ini, hingga punya karakteristik tersendiri di tempat kerja. Kadang bikin geleng-geleng generasi lebih senior.
Salah satunya fenomena side job atau side hustle. Begitu jam kantor berakhir, sebagian anak muda langsung mematikan laptop dan menolak segala bentuk lembur.
Tapi anehnya, beberapa jam kemudian, layar mereka kembali menyala. Bedanya, bukan untuk mengerjakan tugas kantor, melainkan untuk mengedit video, mengurus pesanan online, atau menulis konten promosi bisnis kecil mereka sendiri.
Tren kerja sampingan yang kini banyak digandrungi, bukan sekadar FOMO media sosial, tapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup generasi muda.
Mereka menolak kerja keras demi perusahaan, tapi rela begadang demi proyek pribadi. Paradoks? Bisa jadi. Tapi bagi Gen Z, justru di situlah keseimbangannya.
Mereka bukan tidak mau bekerja keras. Mereka hanya ingin mengatur arah kerja kerasnya. Banyak anak muda yang kini menjalani dua “shift” kehidupan: siang untuk pekerjaan utama, malam untuk passion project.
Fenomena ini tumbuh dari realitas ekonomi yang tidak mudah. Bagi banyak fresh graduate, gaji pertama sering kali belum cukup untuk menutup biaya hidup, menabung, sekaligus menikmati hidup.
Maka muncullah cara-cara kreatif: menjual karya digital, jadi freelancer, membuka toko online, hingga menjadi content creator di sela waktu.
Selain alasan finansial, ada faktor mental dan eksistensial. Generasi ini menyaksikan banyak orang tua mereka stres karena terlalu setia pada satu pekerjaan.
Mereka belajar dari situ, dengan mengaminkan konsep boleh bertahan, tapi bergantung sepenuhnya pada satu sumber pendapatan bukan pilihan bijak. Side job memberi rasa aman: kalau satu pintu tertutup, masih ada jalan lain.
Namun di balik semua itu, banyak juga yang menjadikan side job sebagai ruang pelarian dari rutinitas. Bagi mereka, pekerjaan utama mungkin sekadar “bayar tagihan”, sementara kerja sampingan adalah cara mengekspresikan diri.
Seorang analis keuangan bisa berubah jadi fotografer malam hari. Pegawai administrasi yang serius di kantor, justru bertransformasi jadi penjual aktif di media sosial.
Kafe dan co-working space di perkotaan kini menjadi saksi tren ini. Di saat kebanyakan orang bersiap tidur, di sudut-sudut kota masih banyak anak muda yang sibuk mengetik, mendesain, atau merekam video.
Dunia kerja memang berubah bukan lagi soal lembur di kantor, tapi tentang bagaimana seseorang memilih di mana mereka ingin mengeluarkan energinya.
Side job juga dimaknai bukan sekadar cari uang tambahan. Ini adalah bentuk kemandirian baru, simbol dari keinginan Gen Z untuk punya kendali atas hidup dan waktu mereka sendiri.
Mereka mungkin menolak lembur untuk bos, tapi mereka tidak pernah berhenti “lembur” untuk masa depan yang mereka impikan.(*)
Editor : Thomas Priyandoko