KALTIMPOST.ID, Pernahkah kamu berada dalam sebuah argumen di mana kamu yakin akan suatu fakta, namun pasangan kamu menyangkalnya dengan sangat meyakinkan sehingga kamu mulai meragukan ingatan kamu sendiri?
“Saya tidak pernah bilang begitu,” “Kamu pasti salah ingat,” atau “Itu semua hanya di kepalamu.”
Ini bukan sekadar perbedaan pendapat. Ini adalah taktik kekerasan psikologis yang halus namun merusak, yang dikenal sebagai gaslighting.
Istilah ini berasal dari sebuah film lawas di mana seorang suami sengaja meredupkan lampu gas di rumah mereka, namun meyakinkan istrinya bahwa lampu itu tidak redup, hingga sang istri percaya bahwa dirinya menjadi gila.
Itulah tujuan gaslighting: membuat korban meragukan persepsi, ingatan, dan akhirnya kewarasan mereka sendiri.
Bagaimana Gaslighting Bekerja?
Gaslighting bukanlah insiden tunggal, melainkan pola yang terjadi berulang kali. Pelaku (gaslighter) secara sistematis meruntuhkan realitas korban untuk mendapatkan kendali penuh.
Mereka tidak menggunakan kekerasan fisik, melainkan kata-kata sebagai senjata untuk memanipulasi realitas.
Taktik Umum Gaslighting
Baca Juga: Ciri-Ciri Love Bombing: Saat Cinta Kilat Sebenarnya Adalah Manipulasi
1. Penyangkalan Tegas: Mereka akan menyangkal fakta yang jelas-jelas terjadi. (“Aku tidak selingkuh, kamu hanya membayangkannya.”)
2. Trivialisasi Perasaan (Menyepelekan): Mereka membuat kamu merasa reaksi kamu berlebihan. (“Kamu terlalu sensitif,” “Berhentilah baper, itu bukan masalah besar.”)
3. Menyalahkan Korban (Victim Blaming): Mereka memutarbalikkan fakta sehingga kamu yang bersalah. (“Kalau saja kamu tidak memancing, aku tidak akan semarah ini.”)
4. Menggunakan Orang Lain: Mereka mengklaim orang lain setuju dengan mereka. (“Teman-temanmu juga berpikir kamu aneh akhir-akhir ini.”)
Dampak jangka panjangnya adalah korban kehilangan kepercayaan diri, menjadi terisolasi, dan merasa bingung.
Mereka menjadi takut mempercayai naluri sendiri dan akhirnya bergantung penuh pada pelaku untuk mendefinisikan apa yang benar dan salah.
Cara Melindungi Diri dan Membangun Kembali Realitas
Kesadaran adalah langkah pertama untuk melepaskan diri dari jerat ini.
1. Catat Kejadian (Jurnaling): Tuliskan percakapan, tanggal, dan fakta penting di buku harian atau catatan ponsel yang aman. Ini bukan untuk diperdebatkan dengan pelaku, tetapi sebagai “jangkar realitas” untuk kamu sendiri.
2. Cari Validasi dari Luar (Reality Check): Ceritakan pengalaman kamu kepada teman, keluarga, atau terapis yang kamu percayai. Dengarkan saat mereka mengatakan, “Apa yang kamu rasakan itu wajar,” atau “Reaksimu tidak berlebihan.”
3. Hentikan Perdebatan: Sadari bahwa kamu tidak akan pernah “menang” dalam argumen dengan seorang gaslighter. Mereka tidak mencari kebenaran, mereka mencari kendali.
Jangan terpancing. Cukup katakan, “Kita memiliki ingatan yang berbeda tentang kejadian ini,” lalu tinggalkan percakapan.
4. Fokus pada Perasaan Kamu: Alih-alih berdebat tentang “apa yang terjadi”, fokuslah pada “apa yang saya rasakan.” Perasaan kamu valid, bahkan jika faktanya diperdebatkan.
Mempercayai diri sendiri setelah mengalami gaslighting adalah sebuah proses. Mulailah dengan langkah kecil, dan ingat bahwa naluri kamu adalah sistem perlindungan diri yang paling kuat. (*)
Editor : Almasrifah