KALTIMPOST.ID, Dalam beberapa dekade, Adobe Photoshop telah menjadi raja tak terbantahkan di dunia desain grafis dan fotografi digital profesional.
Namun kini, semakin banyak desainer di berbagai negara, termasuk Indonesia, yang mulai melirik satu alternatif yang sebelumnya hanya dianggap “pilihan kecil”—yaitu Affinity.
Lalu apa yang membuat Affinity jadi pembicaraan dan dianggap mampu menggoyang dominasi Photoshop?
Lahirnya Alternatif yang Layak
Affinity awalnya lahir dari Serif Europe Ltd, dengan tujuan sederhana: menyediakan opsi yang lebih terjangkau dan lebih efisien bagi pengguna desain.
Kemunculan aplikasi ini berarti, Anda tak lagi benar-benar “terpaksa” memilih Photoshop jika anggaran atau alurnya tidak cocok.
Sementara itu, kehadiran dukungan besar dari Canva (melalui akuisisi Serif) menambah daya tarik bagi pengguna yang ingin fleksibilitas lebih besar.
Apa yang Membuat Affinity Menarik?
Beberapa aspek kunci yang memikat pengguna:
- Model biaya yang ramah: Tidak ada langganan bulanan yang terasa memberatkan, ataupun biaya tersembunyi yang membuat pengguna gelisah.
- Antarmuka yang terasa familiar tapi ringan: Bagi pengguna yang sudah terbiasa dengan Photoshop atau program serupa, adaptasi terasa lebih mulus.
- Performa yang baik di perangkat menengah: Beberapa pengujian menyebut bahwa Affinity terasa lebih responsif dibanding Photoshop di komputer dengan spesifikasi standar.
- Fokus pada kebutuhan nyata banyak pengguna: Banyak desainer bukan hanya butuh “semua fitur” tapi butuh alur yang simpel, cepat, dan biaya yang masuk akal.
Baca Juga: 5 Prompt Foto AI Liburan, Ubah Foto Biasa Jadi Karya Seni ala Traveler Pro Tanpa Perlu Tiket Pesawat
Mengapa Ini Jadi “Ancaman” Serius bagi Photoshop?
Karena bagi banyak pelaku kreatif (pelajar, freelancer, UMKM) faktor biaya dan kemudahan menjadi pertimbangan besar.
Saat aplikasi alternatif menawarkan fitur profesional tanpa beban langganan, maka keputusan untuk pindah atau sekadar mencoba menjadi jauh lebih mudah.
Ditambah, ekosistem yang semakin terbuka (file lintas platform, dukungan format populer) makin membuat “pindah” terasa kurang menakutkan.
Namun, Tidak Semua Hal Mulus
Memang, Affinity juga memiliki kekurangan, seperti:
- Ekosistem plugin dan ekstensi belum sebesar Photoshop.
- Pengguna lama dengan workflow kompleks mungkin butuh adaptasi dan mungkin merasa ada “fitur kecil” yang belum sama persis.
- Untuk studio besar atau tim yang sangat bergantung pada kolaborasi tingkat tinggi, Photoshop masih punya keunggulan tertentu.
Baca Juga: Tren Foto AI “Nano Banana” Google Gemini: Dari Miniatur Action Figure hingga Poster MotoGP
Untuk Anda yang Sedang Mempertimbangkan
Jika Anda adalah:
- Pelajar atau freelancer dengan budget terbatas
- Pengguna yang ingin alur yang lebih ringan dan efisien
- Kreator yang tidak membutuhkan fitur ultra-spesifik (misalnya 3D modelling di Photoshop), maka Affinity bisa jadi pilihan tepat untuk dicoba.
Namun jika Anda bekerja di lingkungan yang sangat besar, dengan kebutuhan plugin khusus dan integrasi tim besar, maka tetap layak untuk mempertahankan Photoshop sambil memantau perkembangan. ***
Editor : Dwi Puspitarini