KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Banyak orang menganggap keseleo sebagai masalah sepele yang akan pulih dengan sendirinya. Padahal, jika tidak ditangani dengan benar, cedera akibat olahraga, terpeleset, atau mengangkat beban berat ini bisa berdampak panjang pada kesehatan sendi.
Dr. Kundan Kumar Jha, seorang pakar bedah sendi dan konsultan cedera olahraga dari RS Arete, mengingatkan bahwa pengobatan mandiri di rumah tidak selalu aman untuk semua jenis keseleo. Melansir laporan Hindustan Times (28/1), terdapat beberapa kondisi yang mengharuskan penderita segera menemui dokter.
Kapan Keseleo Menjadi Serius?
Baca Juga: Bocoran Reshuffle Kabinet Prabowo 2026, Sejumlah Menteri Diisukan Masuk Daftar Evaluasi
Meskipun istirahat cukup biasanya bisa menyembuhkan cedera ringan dalam hitungan hari, penderita perlu waspada jika mengalami gejala bengkak berkepanjangan. Kundar Umar Jha menegaskan, jika pembengkakan tidak kunjung mengempis atau justru muncul kembali saat sendi digerakkan, itu pertanda pemulihan tidak berjalan normal.
Faktor lainnya adalah keterbatasan Gerak. Menurutnya, kesulitan dalam menumpu beban, menggenggam benda, atau berjalan merupakan sinyal adanya kerusakan otot yang cukup parah.
Lalu, sendi tidak stabil yaitu rasa goyah atau "lemas" pada lutut, bahu, maupun pergelangan tangan menandakan adanya gangguan pada ligamen atau otot penyangga. Berikutnya, gejala neurologis segera hubungi tenaga medis jika nyeri disertai dengan mati rasa, kesemutan, atau perubahan bentuk pada bagian tubuh yang cedera.
Baca Juga: Ormas di Kaltim Serukan Tolak Polri di Bawah Kementrian, Ini Alasannya
Pentingnya Pemulihan yang Tepat
Kelemahan otot di sekitar area yang pernah cedera sering kali memicu risiko keseleo berulang. Untuk mencegah kekakuan sendi permanen, penanganan profesional seperti fisioterapi atau penggunaan alat penyangga sangat disarankan.
Jangan menganggap rasa nyeri atau sendi yang tidak stabil sebagai hal yang normal jika berlangsung lama. Konsultasi dini adalah kunci agar fungsi sendi kembali optimal dan terhindar dari kelemahan jangka panjang.(*)
Editor : Thomas Priyandoko