KALTIMPOST.ID, Dorongan pemerintah terhadap penggunaan atap genteng tanah liat melalui program “gentengisasi” tidak semata berkaitan dengan pilihan material bangunan, tetapi juga diarahkan pada pembentukan wajah kawasan yang dinilai lebih rapi, seragam, dan memiliki nilai visual yang mendukung pengembangan pariwisata.
Penggunaan genteng tanah liat dipandang mampu memperkuat estetika permukiman sekaligus menciptakan kesan tata kota yang lebih tertata dan selaras, terutama di kawasan destinasi wisata.
Melalui penataan atap rumah yang dianggap lebih menyatu dengan lanskap dan identitas lokal, pemerintah berharap kualitas lingkungan meningkat dan memberikan pengalaman visual yang lebih nyaman bagi wisatawan, sehingga sektor pariwisata dapat tumbuh seiring dengan perbaikan estetika kawasan.
Di Indonesia, perdebatan paling klasik soal atap masih seputar atap genteng yang sudah puluhan tahun menemani rumah-rumah tradisional, versus atap baja ringan atau atap seng yang kini mendominasi perumahan modern.
Keduanya sama-sama populer, sama-sama punya penggemar fanatik, dan sama-sama punya kelemahan yang sering ditutup-tutupi.
Agar tidak salah pilih, mari kita bedah kelebihan dan kekurangannya satu per satu.
Baca Juga: Februari Baru Dimulai, Tanda-Tanda Ramadhan 2026 Sudah Mulai Terasa
Kelebihan Atap Genteng
- Lebih Sejuk untuk Rumah Tropis
Atap genteng, baik tanah liat maupun beton dikenal mampu menahan panas matahari dengan lebih baik. Dilansir dari Kementerian PUPR, material dengan massa tebal seperti genteng tanah liat membantu meredam panas sebelum masuk ke dalam rumah. Inilah alasan rumah-rumah lama terasa lebih adem meski tanpa AC.
- Tahan Lama dan Tidak Mudah Berisik
Genteng tidak menimbulkan suara bising saat hujan deras. Menurut beberapa studi material bangunan yang dikutip oleh Housing Estate, genteng memiliki daya redam suara alami yang lebih baik dibandingkan seng atau metal tipis. - Tampilan Lebih “Rumah”
Bagi banyak orang, genteng memberi kesan kokoh, hangat, dan mapan. Secara visual, genteng sering dianggap lebih memperkuat estetika permukiman untuk hunian jangka panjang.
Kekurangan Atap Genteng
- Bobot Berat, Struktur Harus Kuat
Genteng memiliki berat yang besar. Mengutip dari Buku Panduan Rumah Sederhana Sehat – Kemenkes RI, beban atap genteng menuntut rangka yang lebih kuat, yang artinya biaya struktur bisa membengkak. - Risiko Bocor dan Bergeser
Gempa kecil, angin kencang, atau pemasangan kurang rapi bisa membuat genteng bergeser dan menimbulkan kebocoran. Masalah klasik ini sering muncul seiring usia bangunan. - Perawatan Tidak Bisa Diabaikan
Genteng bisa berlumut, retak, bahkan pecah. Artinya, perlu pengecekan rutin—sesuatu yang sering dilupakan pemilik rumah.
Baca Juga: Tarif Listrik dan Emas Perhiasan Jadi Penekan Inflasi Kaltim Awal 2026
Kelebihan Atap Baja Ringan/Seng
- Ringan dan Lebih Aman Saat Gempa
Menurut Kementerian PUPR, struktur bangunan yang lebih ringan memiliki risiko kerusakan lebih kecil saat gempa. Inilah alasan atap baja ringan banyak direkomendasikan untuk wilayah rawan gempa di Indonesia. - Pemasangan Cepat dan Presisi
Baja ringan diproduksi dengan ukuran pabrik yang presisi. Dilansir dari Asosiasi Produsen Baja Ringan Indonesia, waktu pemasangan bisa jauh lebih singkat dibandingkan rangka kayu atau genteng konvensional. - Anti Rayap dan Minim Perawatan
Berbeda dengan kayu dan genteng tertentu, baja ringan tidak lapuk dan tidak dimakan rayap. Ini mengurangi biaya perawatan jangka panjang.
Kekurangan Atap Baja Ringan/Seng
- Panas dan Bising Jika Tanpa Pelapis
Ini keluhan paling sering. Atap seng dan atap metal mudah menghantarkan panas dan suara. Menurut LIPI (sekarang BRIN), material logam memiliki konduktivitas panas tinggi, sehingga tanpa insulasi tambahan, rumah akan terasa lebih panas. - Tampilan Kurang Estetis bagi Sebagian Orang
Meski kini banyak desain modern, tidak sedikit yang menilai atap seng terlihat “kaku” atau terlalu industrial, terutama untuk rumah tinggal. - Biaya Tambahan untuk Kenyamanan
Agar tidak panas dan bising, diperlukan lapisan peredam panas dan suara. Jika dihitung total, biaya akhirnya bisa mendekati—bahkan melampaui—atap genteng biasa.
Baca Juga: Indonesia Darurat TBC, Kenali Gejalanya sebelum Terlambat, Penularan Kini Lebih Masif!
Jadi, Mana yang Lebih Baik?
Jawabannya bukan soal mana yang paling bagus, tapi mana yang paling sesuai.
- Pilih genteng jika kamu mengutamakan kesejukan, kenyamanan suara, dan tampilan rumah yang klasik dan memperkuat estetika permukiman.
- Pilih baja ringan/seng jika kamu butuh struktur ringan, cepat dibangun, dan minim perawatan—asal siap menambah insulasi.
Seperti dilansir dari Kementerian PUPR, keputusan material bangunan idealnya mempertimbangkan iklim, lokasi, anggaran, dan kebutuhan jangka panjang, bukan sekadar tren.
Karena pada akhirnya, atap bukan hanya soal menutup rumah, tapi soal melindungi hidup di bawahnya. ***
Editor : Dwi Puspitarini