KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Euforia waktu berbuka puasa sering kali membuat kita "lapar mata". Segala macam takjil, gorengan, hingga makanan berat tersaji dan disantap dalam waktu singkat. Alhasil, perut bukannya nyaman, justru terasa kembung dan begah.
Kondisi ini, menurut pakar kesehatan, bukan disebabkan oleh ibadah puasanya, melainkan pola makan yang serampangan saat membatalkan puasa.
Mengapa Perut Jadi Kembung?
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dr. Mira Dewi, menjelaskan bahwa sensasi kembung biasanya dipicu oleh tumpukan gas di saluran cerna. "Penyebab utama perut kembung adalah akumulasi gas di usus. Hal ini bisa terjadi karena gangguan pencernaan atau intoleransi terhadap jenis makanan tertentu," ungkap dr. Mira.
Baca Juga: Sebut Tak Paham Birokrasi karena Bekas Pedangdut, Golkar Tegur Bupati Pekalongan: No Excuse!
Beberapa pemicu utama perut terasa "penuh" saat berbuka antara lain porsi "balas dendam". Langsung makan besar saat lambung kosong seharian. Laju makan terlalu cepat sehingga udara ikut tertelan saat mengunyah terburu-buru.
Menu pemicu gas seperti terlalu banyak makan kol, kacang-kacangan, atau minuman berkarbonasi (soda). Kurang hidrasi karena asupan air putih yang minim membuat metabolisme melambat. Bagi pemilik riwayat lambung seperti GERD, risiko kembung ini jauh lebih tinggi jika langsung menyantap makanan pemicu gas saat adzan maghrib berkumandang.
Strategi Berbuka Tanpa "Siksa" Perut
Agar ibadah tetap nyaman dan tubuh tetap bugar, dr. Mira membagikan beberapa langkah sederhana. Metode bertahap, jangan langsung "hantam" nasi padang. Mulailah dengan air putih dan sedikit buah (kurma atau semangka) untuk membangunkan kerja lambung secara perlahan.
Baca Juga: Stok BBM Nasional Dipastikan Aman, Menteri ESDM Minta Warga Tak Panic Buying
Kunyah lebih lama proses mekanis di mulut sangat membantu meringankan kerja usus. Selektif memilih menu dengan batasi makanan tinggi lemak dan gorengan yang sulit dicerna di awal waktu berbuka. Tetap bergerak, meski sedang berpuasa, aktivitas fisik ringan tetap diperlukan untuk menjaga kelancaran sistem pencernaan.
Panduan Stamina ala WHO
Melengkapi tips tersebut, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga memberikan rekomendasi agar stamina tetap terjaga di tengah rutinitas bekerja atau sekolah. Hindari kafein, kopi dan teh bersifat diuretik yang bisa memicu dehidrasi lebih cepat.
Baca Juga: Dokter Richard Lee Resmi Ditahan, Polisi Sebut Hambat Penyidikan Padahal Live TikTok
Prioritas sahur, jangan melewatkan sahur, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan anak-anak. Pilih sumber protein berkualitas seperti telur. Takjil sehat, ganti gorengan dengan buah berkadar air tinggi seperti melon atau semangka yang lebih menghidrasi.
Kurangi garam dan lemak dengan batasi makanan olahan seperti sosis, acar, atau camilan yang terlalu asin karena dapat meningkatkan rasa haus berlebih di siang hari. Dengan mengatur pola makan yang lebih bijak, momen Ramadan tidak hanya menjadi ladang pahala, tetapi juga momentum untuk detoksifikasi dan penyehatan sistem pencernaan.(*)
Editor : Hernawati