Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Vape Jadi “Pintu Masuk” Narkoba, Psikolog Soroti Pengaruh Lingkungan dan Minimnya Kewaspadaan

Raden Roro Mira Budi Asih • Sabtu, 18 April 2026 | 19:46 WIB
BERBAHAYA: Masyarakat diminta lebih waspada terhadap potensi bahaya vape, termasuk kemungkinan disalahgunakan sebagai media konsumsi narkoba.
BERBAHAYA: Masyarakat diminta lebih waspada terhadap potensi bahaya vape, termasuk kemungkinan disalahgunakan sebagai media konsumsi narkoba.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Fenomena vape kini tak lagi sekadar gaya hidup. Di tengah maraknya temuan penyalahgunaan cairan vape yang disusupi zat berbahaya, muncul kekhawatiran bahwa rokok elektrik tersebut bisa menjadi pintu masuk baru bagi penyalahgunaan narkoba.

Kondisi itu tidak lepas dari kebiasaan sosial yang telah terbentuk, khususnya di kalangan anak muda. “Dari dulu kita tahu bahwa merokok itu adalah salah satu jalur masuknya narkoba. Nah, ini vape pula, yang basic-nya liquid,” ujar Psikolog Klinis Wahyu Nhira Utami.

Menurutnya, vape memiliki kesamaan dengan rokok dalam hal potensi adiksi. Kandungan nikotin di dalamnya tetap memengaruhi otak, terutama pada bagian yang berperan dalam pengendalian diri.

“Nikotin itu mengganggu perkembangan prefrontal cortex, yang merupakan pusat pengendalian keputusan. Jadi kontrol terhadap dorongan itu bisa menurun,” jelasnya. Kondisi tersebut dinilai membuat seseorang lebih rentan terhadap perilaku adiktif lainnya, termasuk mencoba zat berbahaya tanpa disadari.

Baca Juga: Vape Dianggap Lebih Aman, Psikolog: Itu Sekadar Ilusi yang Dibentuk Branding

Apalagi, bentuk konsumsi vape yang tidak mencolok membuat penyalahgunaan menjadi lebih terselubung. “Karena bentuknya seperti vape biasa, orang tidak curiga. Padahal bisa saja itu sudah disusupi zat lain,” katanya.

Selain itu, pengaruh lingkungan juga dinilai sangat kuat dalam membentuk kebiasaan tersebut. Dalam satu tongkrongan, perilaku ngevape bisa dengan mudah “menular”.

“Dalam psikologi ada teori kognitif sosial. Perilaku itu terbentuk dari interaksi antara cara berpikir, lingkungan, dan kemudahan akses,” ujarnya. Ketika lingkungan pertemanan, influencer, hingga kemudahan membeli perangkat vape mendukung, seseorang menjadi lebih mudah ikut-ikutan.

Terlebih pada remaja yang sedang berada dalam fase pencarian jati diri. Mereka cenderung ingin diterima dalam kelompoknya. “Di usia remaja, dunia mereka berpusat pada teman sebaya. Jadi mudah sekali merasa fear of missing out (FOMO) dan ikut-ikutan,” jelasnya.

Baca Juga: Ngeri! Berawal dari 'Cuma Penasaran', Pria Ini Ungkap Sulitnya Lepas dari Jeratan Vape

Di sisi lain, kesadaran sosial juga dinilai masih rendah. Banyak orang merasa wajar menggunakan vape di ruang publik tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi orang lain. “Pemahaman bahwa kita bagian dari lingkungan sosial itu masih minim. Empati dan kesadaran emosionalnya juga berkurang,” tambahnya.

Untuk itu, Nhira menekankan pentingnya peningkatan literasi, baik bagi anak muda maupun orang tua. Edukasi perlu diberikan secara konkret agar risiko dapat dipahami dengan lebih jelas. “Literasi itu wajib. Anak-anak perlu dijelaskan secara konkret dampaknya, bukan sekadar dilarang,” tegasnya.

Dia berharap, dengan pemahaman yang lebih baik, masyarakat bisa lebih waspada terhadap potensi bahaya vape, termasuk kemungkinan disalahgunakan sebagai media konsumsi narkoba. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#Vape Pintu Masuk Narkoba #Dampak nikotin pada otak #penyalahgunaan liquid vape #risiko narkoba cair #psikologi remaja FOMO