KALTIMPOST.ID – Banyak orang panik ketika hasil pemeriksaan tekanan darah menunjukkan angka 140/90 mmHg atau lebih. Padahal, menurut dokter Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Medika Sangatta Kutai Timur, Muhammad Yusuf Aditya Prawira, satu kali pemeriksaan belum cukup untuk langsung menyimpulkan seseorang mengidap hipertensi.
Dia menjelaskan, tekanan darah seseorang bisa meningkat sementara karena berbagai kondisi, mulai dari demam, nyeri, stres, baru selesai beraktivitas, hingga kurang rileks saat diperiksa. “Kalau pasien datang dengan batuk pilek dan demam, peningkatan suhu satu derajat itu bisa meningkatkan denyut jantung sekitar 10 persen. Tekanan darah juga bisa meningkat,” jelasnya.
Oleh sebab itu, pemeriksaan tekanan darah memiliki prosedur khusus agar hasilnya akurat. Pasien harus dalam kondisi rileks dan sudah beristirahat sekitar lima menit sebelum pemeriksaan. “Tidak boleh habis buru-buru terus langsung di-tensi,” lanjut dokter perusahaan PT Liebherr Site Sangatta itu.
Baca Juga: Hipertensi di Kaltim Bergeser ke Usia Muda, Dokter Soroti Sedentary Life
Selain itu, pasien juga tidak dianjurkan merokok, minum kopi, atau berolahraga sekitar 30 menit sebelum pemeriksaan. Posisi tubuh pun berpengaruh terhadap hasil tensi. “Kalau kita tensi pasien dalam posisi baring sama duduk itu tensinya akan beda,” terang dr Yusuf.
Ukuran manset alat tensi juga harus sesuai dengan ukuran lengan pasien. Jika terlalu kecil, hasil tekanan darah bisa tampak lebih tinggi. Sebaliknya, jika terlalu longgar hasilnya justru lebih rendah. Setelah pemeriksaan awal menunjukkan angka tinggi, dokter biasanya akan mengulang pemeriksaan dua hingga tiga kali dengan jeda sekitar lima menit.
Bahkan, pasien biasanya diminta kembali kontrol satu bulan kemudian untuk memastikan tekanan darah tetap tinggi dalam kondisi normal tanpa keluhan lain. Dia menyebut standar hipertensi di Indonesia masih menggunakan angka 140/90 mmHg. Sedangkan di Amerika Serikat, tekanan darah 130-139 mmHg sudah mulai dikategorikan hipertensi.
Meski begitu, tidak semua orang dengan tekanan darah tinggi langsung mendapatkan obat. Penanganan awal justru difokuskan pada perubahan gaya hidup. “Untuk hipertensi sebenarnya lini pertama bukan pengobatan, tapi mengubah gaya hidup,” tegasnya.
Baca Juga: Rambut Putih Tumbuh Dini? Ini 8 Formula Ampuh Cegah Uban di Usia Muda
Pasien biasanya diberi kesempatan sekitar tiga bulan untuk memperbaiki pola hidup, mulai dari mengurangi garam, memperbanyak sayur dan buah, rutin olahraga, hingga menurunkan berat badan. “Kalau konsumsi diet sehat itu tekanan darah bisa turun sekitar 8 sampai 14,” ujarnya.
Namun, dr Yusuf mengakui banyak pasien gagal konsisten menjalani perubahan gaya hidup sehingga akhirnya membutuhkan obat. Dia juga mengingatkan pasien hipertensi agar rutin kontrol dan tidak menghentikan obat sembarangan meski tekanan darah mulai membaik. “Kita evaluasi tiap tiga bulan. Pasien kontrol tiap bulan untuk ambil obat, lalu kita lihat rata-rata tensinya,” jelasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo