KALTIMPOST.ID,JAKARTA–Masyarakat yang aktif di media sosial (medsos) dan aplikasi kencan diimbau untuk ekstra waspada. Belakangan, terungkap jaringan penipuan daring (online scammer) internasional yang memanfaatkan figur publik, termasuk bekas artis Fabiola Elizabeth, untuk menjaring dan menguras harta korbannya.
Pakar Keamanan Siber dari Vaksincom, Alfons Tanujaya menjelaskan, modus yang digunakan komplotan ini terbilang berani. Di saat mayoritas pelaku kejahatan siber mulai beralih menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI video call), kelompok Fabiola justru masih menggunakan metode konvensional yang meyakinkan.
Mereka melakukan panggilan video (video call) secara langsung untuk memikat targetnya. "Secara esensi modusnya tetap sama. Pelaku berusaha memikat korban lewat paras yang menarik, kemudian mengajak berkenalan secara intensif di media sosial," ujar Alfons, Jumat (5/6).
Alfons pun memberikan peringatan yang cukup menohok, namun realistis bagi para pengguna medsos. Ia meminta masyarakat logika tetap berjalan saat ada orang asing yang terlalu atraktif tiba-tiba mendekat.
Baca Juga: Benarkah Purbaya Dicopot dari Jabatan Menkeu Efek Tekanan Rupiah yang Melemah? Ini Jawaban Istana
"Tipsnya agak menyakitkan tapi realistis. Kalau kita sadar penampilan kita biasa-biasa saja, lalu tahu-tahu ada perempuan sangat cantik mati-matian minta kenalan dan kita langsung percaya, ya itu kurang bijak," tuturnya.
Hal yang sama juga berlaku bagi pengguna perempuan yang tiba-tiba didekati oleh pria dengan profil sangat tampan.
Lebih lanjut, Alfons memaparkan bahwa algoritma platform medsos saat ini turut mempermudah ruang gerak para pelaku. Fitur seperti friend suggestion atau people you may know sering kali menyusupkan akun-akun palsu yang dioperasikan oleh sindikat penipu dari luar negeri. Modus ini juga jamak ditemukan melalui pesan langsung (direct message) dari akun tak dikenal yang memasang foto profil seksi atau rupawan.
Jika korban terbuai dan mengikuti alur permainan pelaku, mereka akan digiring masuk ke dalam perangkap yang disebut pig butchering scam.
Baca Juga: Polres PPU Gulung Tujuh Pengedar, Sabu Dilarutkan ke Air Mineral hingga Disisipkan ke Teh Kotak
"Itu isinya akun-akun tidak jelas semua. Kalau diikuti, jadilah pig butchering scam," kata Alfons, merujuk pada istilah kejahatan di mana korban 'digemukkan' terlebih dahulu dengan janji manis atau keuntungan semu, sebelum akhirnya dikuras habis-habisan.(*)
Editor : Thomas Priyandoko