KALTIMPOST.ID – Kasus yang menimpa Yuvita Tri Rezeki, dara asal Bandung, menjadi pengingat bahwa hubungan abusive sering kali diawali dengan hubungan yang mulanya berjalan normal.
Namun, dibalik itu terdapat perilaku mengendalikan, manipulasi, hingga kekerasan emosional dan fisik yang baru disadari ketika kondisinya sudah membahayakan.
Kasus Yuvita menjadi perhatian publik setelah kisah hubungan asmara yang awalnya berjalan seperti seharusnya justru berakhir dengan penyekapan dan penganiayaan.
Yuvita yang mulanya mengenal pelaku, Taufik Hidayat, dari acara musik memutuskan untuk menjalin hubungan pada 2024.
Hubungan keduanya berkembang cukup dekat hingga korban sempat memperkenalkan Taufik kepada keluarganya.
Namun, kepercayaan tersebut justru berujung petaka. Korban diduga disekap, diputus dari komunikasi dengan keluarga, serta menjadi korban penganiayaan berat selama 3 tahun.
Kekerasan tersebut hingga mengakibatkan korban cacat permanen; buta, lumpuh, dan bagian atas bibir hilang. Saat ini, pelaku telah ditangkap polisi dan tengah menjalani proses hukum.
Tentunya kejadian ini harus diwaspadai setiap wanita saat menjalin hubungan, salah satunya dengan mengenali tanda-tanda awal hubungan abusive.
Hubungan abusive merupakan hubungan yang ditandai adanya upaya salah satu pihak untuk menguasai atau mengendalikan pihak lain melalui kekerasan fisik, verbal, emosional, seksual, maupun finansial.
Banyak korban yang tidak langsung menyadari bahwa sedang mengalami hubungan yang tidak sehat.
Pelaku biasanya memulai dengan tindakan yang tampak sederhana, kemudian perlahan berkembang menjadi kontrol yang berlebihan hingga kekerasan.
Berikut beberapa tanda hubungan abusive yang perlu dikenali.
1. Terlalu Mengontrol Komunikasi
Pasangan selalu ingin mengetahui dengan siapa Anda berkomunikasi, meminta kata sandi media sosial, mengecek isi ponsel, hingga memantau aktivitas di media sosial.
Perilaku tersebut sering dibungkus dengan alasan perhatian atau rasa sayang, padahal merupakan bentuk kontrol terhadap kehidupan pribadi pasangan.
2. Menjauhkan dari Keluarga dan Teman
Pelaku kerap melarang korban bertemu keluarga atau sahabat, membuat korban merasa bersalah ketika ingin berkumpul dengan orang lain, bahkan menyebarkan kebohongan agar hubungan korban dengan lingkungan sekitarnya memburuk.
Akibatnya, korban kehilangan tempat bercerita dan semakin bergantung kepada pelaku.
3. Sering Memaksa dan Mengatur Kehidupan Pasangan
Hubungan yang sehat dibangun atas dasar kesepakatan, bukan paksaan. Jika pasangan mulai mengatur cara berpakaian, membatasi aktivitas, menentukan dengan siapa Anda boleh berteman, atau memaksa melakukan sesuatu yang tidak diinginkan, termasuk hubungan intim, kondisi tersebut patut diwaspadai.
4. Kerap Melakukan Kekerasan Emosional
Tidak semua kekerasan meninggalkan luka di tubuh. Menghina, merendahkan, mempermalukan di depan orang lain, memberi julukan negatif, mengabaikan pasangan melalui silent treatment.
Bahkan, hingga mengancam merupakan bentuk kekerasan emosional yang dapat mengikis rasa percaya diri korban dan berdampak pada kesehatan mental.
5. Mengendalikan Keuangan
Dalam beberapa kasus, pelaku juga berusaha membuat korban bergantung secara finansial. Misalnya dengan melarang pasangan bekerja, menguasai penghasilan, atau membatasi akses terhadap rekening dan uang.
Baca Juga: Kekejaman Taufik Hidayat: Pukul Yuvita hingga Luka Parah tapi Bantah Congkel Mata
Cara ini membuat korban merasa tidak memiliki pilihan untuk mengakhiri hubungan.
6. Terjadi Kekerasan Fisik
Kekerasan fisik merupakan tanda paling nyata dari hubungan abusive. Bentuknya bisa berupa mendorong, menampar, memukul, menendang, mencekik, melempar benda, hingga merusak barang milik pasangan.
Apa pun alasannya, tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan dan sering menjadi puncak dari pola kekerasan yang sebelumnya diawali dengan kontrol dan intimidasi. (*)
Editor : Almasrifah