KALTIMPOST.ID - Tren Estetika Natural semakin mendapat tempat di kalangan Gen Z. Jika beberapa tahun lalu banyak orang menginginkan perubahan wajah yang terlihat signifikan, kini arah perawatan estetika justru bergeser ke hasil yang lebih segar, proporsional, dan tetap mencerminkan karakter asli seseorang.
Perubahan tren ini menunjukkan semakin tingginya kesadaran Gen Z terhadap kesehatan kulit jangka panjang. Bagi banyak anak muda, perawatan estetika tidak lagi dianggap sebagai solusi instan untuk mengatasi masalah penampilan, melainkan bagian dari investasi kesehatan kulit sejak usia muda.
Seiring meningkatnya minat terhadap tren estetika natural, berbagai pilihan perawatan pun semakin banyak tersedia. Namun para ahli mengingatkan bahwa tidak semua prosedur cocok untuk setiap orang karena kondisi kulit dan struktur wajah memiliki karakteristik yang berbeda.
Gen Z Lebih Mengutamakan Wajah Sehat daripada Perubahan Drastis
Founder Beauty Sister Clinic, Elizabeth Lisa, menilai tren kecantikan saat ini mengarah pada hasil yang lebih alami. Menurutnya, setiap orang memiliki bentuk wajah, kondisi kulit, hingga proses penuaan yang berbeda sehingga pendekatan yang digunakan tidak bisa disamaratakan.
Dalam acara Unlock the Natural Combination Treatment PLLA-SCA & NASHA-OBT di Jakarta, Lisa menjelaskan bahwa evaluasi menyeluruh menjadi langkah penting sebelum menentukan jenis perawatan yang dibutuhkan.
"Dokter akan menentukan prioritas perawatan setelah melihat kebutuhan masing-masing orang. Tidak ada wajah yang sama. Kita harus mengecek kondisi kulit, bentuk wajah, proporsi wajah, simetri wajah, termasuk ekspresinya karena setiap orang memiliki tipe yang berbeda, termasuk proses aging-nya," ujar Founder Beauty Sister Clinic Elizabeth Lisa, dilansir dari CNN, Minggu (5/7).
Menurut Lisa, hasil terbaik bukanlah perubahan yang mencolok, melainkan wajah yang tetap terlihat alami dengan kondisi kulit yang lebih sehat dan segar.
Penurunan Kolagen Sudah Dimulai Sejak Usia 20 Tahun
Di tengah meningkatnya minat terhadap perawatan estetika, banyak orang mulai bertanya kapan waktu yang tepat untuk memulai perawatan pencegahan penuaan.
Lisa menjelaskan bahwa penurunan kolagen sebenarnya sudah terjadi sejak seseorang memasuki usia 20 tahun. Kondisi ini berlangsung secara alami dan menjadi salah satu penyebab munculnya tanda-tanda penuaan dini seperti garis halus, kulit kendur, hingga berkurangnya elastisitas kulit.
"Mulai usia 20 tahun, kolagen yang hilang sekitar 1 persen setiap tahun. Pada usia 40 tahun, sekitar 20 persen kolagen sudah hilang. Jadi lebih baik melakukan perawatan sebagai pencegahan daripada menunggu tanda penuaan semakin banyak yang akhirnya membutuhkan biaya lebih besar," jelas Elizabeth Lisa.
Karena itu, perawatan pencegahan kini semakin banyak dipilih dibandingkan menunggu tanda penuaan muncul dalam kondisi yang lebih jelas.
Jangan Memilih Treatment Hanya Karena Sedang Viral
Popularitas konten kecantikan di media sosial membuat banyak orang tertarik mencoba berbagai prosedur yang sedang tren. Namun, Lisa mengingatkan agar masyarakat tidak menjadikan viralitas sebagai dasar utama dalam memilih perawatan.
Menurutnya, konsultasi dengan dokter tetap menjadi langkah penting agar treatment yang dipilih sesuai dengan kebutuhan kulit dan kondisi wajah masing-masing individu.
"Pemilihan terapi sebaiknya dilakukan berdasarkan kebutuhan masing-masing melalui konsultasi dengan dokter yang kompeten sehingga hasil yang didapat tidak hanya optimal, tetapi juga tetap natural, harmonis, dan aman," katanya.
Pendekatan yang tepat dinilai mampu memberikan hasil yang lebih memuaskan sekaligus meminimalkan risiko yang tidak diinginkan.
Kombinasi Treatment Jadi Pilihan Baru dalam Dunia Estetika
Perkembangan teknologi membuat dunia perawatan estetika tidak lagi bergantung pada satu jenis prosedur. Kini semakin banyak dokter menggabungkan beberapa metode untuk mendapatkan hasil yang lebih menyeluruh dan alami.
Salah satu pendekatan yang mulai banyak digunakan adalah kombinasi collagen stimulator dan filler. Metode ini dinilai mampu membantu mengembalikan volume wajah sekaligus merangsang pembentukan kolagen secara bertahap.
Lisa menjelaskan bahwa kombinasi tersebut memungkinkan dokter menyesuaikan perawatan berdasarkan kondisi dan kebutuhan setiap pasien sehingga hasil akhir terlihat lebih proporsional.
"Dengan dua teknologi ini, dokter dapat melakukan personalized treatment sehingga hasilnya lebih natural, proporsional, dan sesuai kebutuhan masing-masing pasien. Filler memberikan efek instan untuk mengisi cekungan di bawah mata, pipi, dagu, atau rahang, sedangkan collagen stimulator bekerja bertahap dan hasilnya semakin terlihat seiring waktu," jelas Elizabeth Lisa.
Menurutnya, pendekatan personal seperti ini menjadi salah satu alasan mengapa tren estetika natural semakin diminati oleh Gen Z maupun kelompok usia lainnya.
Fokus pada Hasil Alami Jadi Arah Baru Industri Kecantikan
Perubahan preferensi masyarakat menunjukkan bahwa standar kecantikan kini mulai bergeser. Alih-alih mengejar perubahan wajah yang ekstrem, banyak orang lebih menginginkan hasil yang membuat mereka terlihat sehat, segar, dan tetap menjadi diri sendiri.
Tren tersebut juga memperlihatkan bahwa kesadaran terhadap kesehatan kulit dan pencegahan penuaan dini semakin meningkat. Dengan dukungan teknologi dan pendekatan yang lebih personal, tren estetika natural diperkirakan akan terus berkembang dalam beberapa tahun mendatang.***
Editor : Dwi Puspitarini