Khutbah Jumat Terbaru, 31 Juli 2026: Jangan Menjadi Muslim yang Rajin Ibadah tapi Kasar pada Sesama

Almasrifah • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 06:55 WIB
Khutbah Jumat terbaru, 31 Juli 2026. (ai/chatgpt)
Khutbah Jumat terbaru, 31 Juli 2026. (ai/chatgpt)

KALTIMPOST.ID, Ketakwaan tidak hanya diukur dari banyaknya ibadah, tetapi juga dari akhlak dan kepedulian kepada sesama.

Melalui khutbah Jumat ini, jamaah diajak memahami bahwa kesalehan ritual harus melahirkan sikap yang lembut, penuh kasih sayang, dan bermanfaat bagi orang lain.

Dalam naskah Khutbah Jumat ini dijelaskan bahwa Al-Qur'an dan hadis menegaskan hubungan erat antara ibadah kepada Allah dengan kepedulian sosial.

Ibadah yang benar akan membentuk pribadi yang mampu menjaga lisan, menghormati sesama, dan menjauhi permusuhan.

Sebagai khutbah Jumat terbaru, materi ini relevan dengan kehidupan masa kini, terutama di tengah maraknya ujaran kebencian dan konflik di media sosial.

Jamaah diajak menjadikan ibadah sebagai jalan memperbaiki akhlak, bukan sekadar menjalankan ritual.

Dilansir dari lama bincangsyariah.com, berikut ini teks khutbah Jumat selengkapnya yang sesuai untuk khatib sampaikan hari ini, 31 Juli 2026.

KHUTBAH JUMAT I

الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَزْمَانَ مَوَاسِمَ لِلطَّاعَاتِ، وَفَضَّلَ بَعْضَ الشُّهُوْرِ عَلَى بَعْضٍ بِالْحِكَمِ وَالْبَرَكَاتِ, وَجَعَلَ شَهْرَ شَعْبَانَ شَهْرَ الصَّلَاةِ وَالْإِعْتِيَادِ. وَأَشْهَدُ أنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

أَمَّا بَعْدُ،  فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan melaksanakan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan bukan hanya tampak dalam banyaknya ibadah yang kita lakukan, tetapi juga terlihat dalam cara kita memperlakukan sesama manusia.

Baca Juga: Teks Khutbah Jumat, 31 Juli 2026: Kemuliaan Menjaga Kerukunan Bermasyarakat

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah

Marilah kita bersama-sama merenungkan sebuah kegelisahan yang tengah kita saksikan dalam kehidupan umat dewasa ini. Di satu sisi, kehidupan beragama tampak semakin semarak.

Masjid-masjid dipenuhi oleh jamaah, majelis-majelis ilmu tumbuh di berbagai tempat, dan kajian-kajian Islam kini semakin mudah diakses melalui berbagai platform digital. Semangat untuk menjalankan ibadah sunnah pun tampak semakin hidup di tengah masyarakat.

Namun, di sisi yang lain, kita juga menyaksikan kenyataan yang tidak kalah memprihatinkan. Ruang-ruang publik justru dipenuhi pertengkaran, ujaran kebencian, perundungan di media sosial, bahkan kebiasaan saling menghakimi atas nama agama. Perbedaan pendapat yang semestinya menjadi rahmat, sering kali berubah menjadi permusuhan yang mengikis ukhuwah dan persaudaraan.

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah

Di sinilah letak persoalan yang patut kita renungkan. Mengapa semakin banyak orang yang rajin beribadah tidak selalu diikuti dengan semakin mulianya akhlak? Mengapa lisan masih begitu mudah melukai, sementara dahi begitu sering bersentuhan dengan sajadah? Mengapa seseorang dapat begitu khusyuk ketika menghadap Allah, tetapi begitu keras saat berhadapan dengan sesama manusia?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukanlah untuk mengurangi pentingnya ibadah. Justru sebaliknya, pertanyaan ini mengajak kita untuk kembali memahami hakikat dan tujuan ibadah yang sesungguhnya. Jangan-jangan selama ini kita lebih sibuk menyempurnakan gerakan-gerakan ritual, namun belum sungguh-sungguh menghadirkan nilai-nilai ibadah itu dalam kehidupan sosial kita.

Baca Juga: Naskah Khutbah Jumat, 31 Juli 2026: 4 Hal yang Menghalangi Terkabulnya Doa Seorang Muslim

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah

Sejak awal, Al-Qur’an tidak pernah memisahkan hubungan manusia dengan Allah (ablun minallāh) dari hubungan manusia dengan sesama (ablun minannās). Kesalehan ritual dan kesalehan sosial adalah dua sisi yang tidak dapat dipisahkan. Ibadah yang benar seharusnya melahirkan pribadi yang semakin rendah hati, semakin penyayang, dan semakin bermanfaat bagi orang lain.

Allah Swt. berfirman:

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ ۝ فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ ۝ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ ۝ فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ۝ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ ۝ وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ

Artinya; “Tahukah engkau orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu mereka yang lalai terhadap shalatnya, yang berbuat riya, dan enggan memberikan bantuan kepada sesama.” (QS. Al-Ma’un [107]: 1–7).

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah

Susunan ayat-ayat ini sangat menarik untuk kita renungkan. Allah tidak memulai dengan menyebut orang yang meninggalkan shalat. Justru yang pertama kali disoroti adalah mereka yang kehilangan kepedulian kepada anak yatim dan orang miskin. Seakan-akan Al-Qur’an hendak menegaskan bahwa kerusakan agama sering kali bermula ketika rasa kasih sayang menghilang dari dalam hati.

Baca Juga: Materi Khutbah Jumat Terbaru: "Pendidikan Adalah Tanggung Jawab Bersama", Relevan di Awal Tahun Pembelajaran

Barulah setelah menggambarkan hilangnya kepedulian sosial itu, Allah mengecam orang-orang yang tetap melaksanakan shalat, tetapi shalatnya tidak meninggalkan bekas dalam perilakunya. Mereka berdiri menghadap Allah, tetapi menutup mata terhadap penderitaan manusia. Mereka menjaga ritualnya, tetapi melupakan nilai yang hendak dibangun oleh ritual itu sendiri.

Karena itu, Surah Al-Ma’un sesungguhnya bukan hanya berbicara tentang kewajiban shalat. Surah ini juga berbicara tentang wajah kemanusiaan dalam agama. Sebab ibadah yang tidak melahirkan kasih sayang akan kehilangan ruhnya, dan agama yang tidak menghadirkan kepedulian hanya akan menyisakan simbol-simbol yang kosong dari makna.

Allah Swt. kembali mengingatkan:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ

Artinya; “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 45).

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah

Ayat ini menunjukkan bahwa shalat bukan sekadar kewajiban yang harus ditunaikan, tetapi juga sarana pembentukan karakter dan akhlak. Shalat yang diterima bukan hanya shalat yang benar gerakan dan bacaannya, tetapi shalat yang mampu mengubah cara seseorang memandang dan memperlakukan orang lain.

Baca Juga: Teks Khutbah Jumat Pembakar Semangat Para Bapak: Bagaimanapun Kerasnya Kehidupan, Mencari Rezeki Halal Tetap Utama

Apabila seseorang semakin rajin shalat, tetapi semakin mudah menghina, memfitnah, merendahkan, dan menyebarkan kebencian, maka persoalannya bukan terletak pada syariat shalat. Persoalannya adalah karena shalat itu belum benar-benar menyentuh hati dan membentuk kepribadiannya.

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah

Suatu hari Rasulullah diberi tahu tentang seorang perempuan yang sangat tekun beribadah. Ia rajin melaksanakan shalat malam, banyak berpuasa sunnah, dan gemar bersedekah. Akan tetapi, ia juga dikenal sering menyakiti tetangganya dengan perkataan.

Mendengar hal itu, Rasulullah bersabda:

هِيَ فِي النَّارِ

Artinya; “Dia berada di neraka.” (HR. Ahmad).

Kemudian disebutkan seorang perempuan lain yang ibadah sunnahnya tidak sebanyak perempuan pertama. Namun, ia tidak pernah menyakiti tetangganya dan rajin bersedekah.

Baca Juga: Naskah Khutbah Jumat Hari Ini, 24 Juli 2026: Palestina Memanggil Nurani, Masihkah Hati Kita Tergerak?

Tentang perempuan ini Rasulullah bersabda:

هِيَ فِي الْجَنَّةِ

Artinya; “Dia berada di surga.”

Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa banyaknya ibadah ternyata belum cukup menjadi ukuran kesalehan seseorang. Rasulullah justru mengaitkan keselamatan seseorang dengan akhlaknya kepada sesama. Sebab ibadah yang benar akan menghadirkan kedamaian, bukan menghadirkan luka bagi orang lain.

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah

Rasulullah juga bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.” (Muttafaq ‘Alaih).

Perhatikanlah bagaimana Rasulullah mendefinisikan seorang Muslim. Beliau tidak menjadikan banyaknya ibadah sunnah atau panjangnya bacaan shalat sebagai ukuran utama. Akan tetapi, beliau menjadikan keamanan sosial sebagai ciri utama seorang Muslim.

Artinya, kehadiran seorang Muslim harus menghadirkan rasa aman bagi orang lain. Orang merasa dihormati, dihargai, dan tidak takut disakiti oleh ucapan maupun perbuatannya. Inilah akhlak mulia yang menjadi buah dari ibadah yang benar.

Allah Swt. berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

Artinya; “Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut kepada mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, niscaya mereka menjauh dari sekelilingmu.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 159).

Baca Juga: Teks Khutbah Jumat Terbaru, 24 Juli 2026: Jaga Kesucian Batin, Jangan Biarkan Mata Terlalu Sibuk Melihat Nikmat Orang Lain

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah

Ayat ini menunjukkan bahwa kelembutan bukan sekadar etika dalam pergaulan, melainkan bagian dari risalah kenabian. Rasulullah adalah manusia yang paling sempurna ibadahnya. Namun demikian, Allah tetap menegaskan bahwa keberhasilan dakwah beliau bertumpu pada kelembutan hati dan kemuliaan akhlaknya.

Semakin dekat seseorang kepada Allah, seharusnya semakin lembut pula sikapnya kepada sesama manusia. Kedekatan kepada Allah tidak melahirkan kesombongan, tetapi kerendahan hati. Tidak melahirkan kekerasan, melainkan kasih sayang.

Rasulullah bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah

Hadis ini terasa semakin relevan pada zaman media sosial seperti sekarang. Hari ini, lisan tidak lagi hanya berupa ucapan yang keluar dari mulut. Lisan juga hadir dalam bentuk komentar, unggahan, pesan singkat, dan berbagai bentuk komunikasi digital yang dapat menjangkau ribuan orang hanya dalam hitungan detik.

Baca Juga: Khutbah Jumat Singkat Terbaru, 24 Juli 2026, Disertai Link Download Materi PDF: Makna di Balik Bulan Safar

Oleh sebab itu, menjaga lisan pada era digital juga berarti menjaga jari-jari kita ketika menulis. Setiap kalimat yang kita tuliskan adalah cerminan isi hati. Setiap komentar mencerminkan kualitas iman kita. Apa yang kita unggah mungkin segera dilupakan oleh manusia, tetapi tidak pernah luput dari pengetahuan Allah Swt.

Mudah-mudahan Allah Swt. menjadikan shalat yang kita dirikan benar-benar mampu membentuk akhlak yang mulia, melembutkan hati, menjaga lisan, serta menghadirkan manfaat dan rasa aman bagi sesama. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ، لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

KHUTBAH JUMAT II

   الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّااللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى  فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

 اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِى الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ  اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ.

اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ

 عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ

Editor : Almasrifah
Sumber : bincangsyariah.com
menjaga lisan teks khutbah jumat Naskah Khutbah Jumat khutbah Jumat terbaru khutbah jumat