KALTIMPOST.ID - Banyak orang yang gagal berhenti merokok meski sudah berulang kali mencoba. Kondisi ini sering dianggap sebagai tanda kurangnya kemauan atau lemahnya tekad. Padahal, menurut dokter sekaligus influencer kesehatan dr Mario Johan, penyebabnya tidak sesederhana itu.
Gagal berhenti merokok, kata dr Mario, berkaitan dengan pola yang telah dibentuk otak selama seseorang terbiasa merokok. Akibatnya, keinginan untuk menyalakan rokok bisa muncul secara otomatis ketika menjalani aktivitas tertentu yang selama ini selalu dikaitkan dengan kebiasaan tersebut.
Dalam video yang diunggah di akun Instagram pribadinya, dr Mario Johan menjelaskan bahwa berhenti merokok membutuhkan strategi yang tepat agar keinginan merokok tidak terus berulang akibat pola kebiasaan yang sudah terbentuk.
"Ini ya guys, kalau lu berkali-kali gagal berhenti merokok itu bukan selalu karena lu lemah. Masalahnya otak kamu itu udah bikin pola. Habis makan, merokok, lagi stres merokok, minum kopi merokok. Jadi pas stop, itu muncul yang namanya craving secara otomatis," kata dr Mario Johan dalam video yang diunggah di akun Instagram pribadinya, dilansir dari inews, Senin (3/7/2026)
Baca Juga: Baru Update Minecraft? Ini Hal Penting yang Perlu Dipahami Sebelum Buat Dunia Survival
Kebiasaan Sehari-hari Bisa Memicu Keinginan Merokok
Menurut dr Mario, seseorang yang sudah lama merokok biasanya memiliki rutinitas tertentu yang selalu diikuti dengan menyalakan rokok. Misalnya setelah makan, ketika menikmati secangkir kopi, atau saat menghadapi tekanan dan stres.
Karena pola tersebut terus diulang dalam waktu lama, otak kemudian menghubungkan aktivitas-aktivitas itu dengan rokok. Akibatnya, ketika seseorang memutuskan berhenti merokok, keinginan merokok atau craving dapat muncul secara refleks meski sebenarnya sudah memiliki niat kuat untuk berhenti.
Jangan Hanya Mengandalkan Tekad
Dr Mario menilai masih banyak orang yang mencoba berhenti merokok secara mendadak hanya bermodalkan niat. Padahal, nikotin yang masuk ke tubuh melalui rokok maupun vape bekerja sangat cepat sehingga memicu ketergantungan dan munculnya gejala putus nikotin ketika pengguna berhenti.
Karena itu, ia menyebut terapi pengganti nikotin atau Nicotine Replacement Therapy (NRT) menjadi salah satu pilihan medis yang dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap nikotin sekaligus meredakan gejala withdrawal.
"Ini by data ya, salah satu lini pertama yang bisa dipakai itu namanya ini: NRT atau Nicotine Replacement Therapy. Ini tuh salah satu contoh untuk kontrol ketergantungan sama nikotin dan bantu kurangin tanda-tanda withdrawal," ujar dr Mario Johan.
Baca Juga: Awal Pekan Terasa Berat? Ini 30 Kata-kata Motivasi Hari Senin untuk Jadi Penyemangat
Peluang Berhasil Lebih Besar dengan Pendampingan Dokter
Menurut dr Mario, penggunaan terapi pengganti nikotin akan lebih efektif apabila dibarengi dengan niat yang kuat dan pendampingan dari tenaga kesehatan. Berdasarkan data medis yang ia sampaikan, kombinasi tersebut dapat meningkatkan peluang seseorang berhasil berhenti merokok.
"Nah, kalau NRT plus niat plus konsultasi, itu bisa sampai lima kali lebih tinggi. Jadi idealnya itu jangan jalan sendiri. Bisa mulai dari konsul ke dokter dulu, kayak spesialis paru, penyakit dalam, bisa juga ke kedokteran jiwa, atau cari yang namanya klinik UBM, Usaha Berhenti Merokok. Di puskesmas itu setahu gue ada juga," kata dr Mario Johan.
Ia juga menjelaskan bahwa terapi pengganti nikotin kini tersedia di berbagai apotek, salah satunya dalam bentuk permen karet nikotin. Namun, penggunaannya tetap harus mengikuti petunjuk agar nikotin dapat diserap tubuh dengan baik. Bagi orang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu, konsultasi dengan dokter tetap dianjurkan sebelum menggunakannya.
Berhenti Merokok Perlu Sistem yang Tepat
Di akhir penjelasannya, dr Mario menegaskan bahwa berhenti merokok bukan hanya soal memiliki kemauan, tetapi juga membutuhkan strategi yang tepat agar peluang keberhasilannya lebih besar.
"Berhenti merokok itu memang susah, tapi jangan cuma modal niat. Harus pakai yang namanya sistem," ujar dr Mario Johan.
Dengan memahami penyebab munculnya keinginan merokok dan memanfaatkan bantuan medis bila diperlukan, proses berhenti merokok diharapkan dapat berlangsung lebih efektif serta mengurangi risiko kembali pada kebiasaan lama.***
Editor : Dwi PuspitariniSumber : inews