KALTIMPOST.ID - Pernah melihat pose jempol pria saat foto ketika diminta bergaya bebas di depan kamera? Banyak pria, mulai dari remaja hingga orang dewasa, secara spontan memilih mengacungkan ibu jari tanpa banyak berpikir. Ternyata, kebiasaan sederhana ini memiliki alasan yang berkaitan dengan cara otak manusia merespons situasi spontan.
Alih-alih hanya dianggap sebagai gaya foto yang monoton, kebiasaan pria saat foto dengan gestur jempol ternyata muncul karena tubuh dan pikiran mencari pilihan gerakan yang paling nyaman. Ketika seseorang tidak memiliki persiapan untuk bergaya, otak cenderung memilih respons yang sudah dikenal dan mudah dilakukan.
Hal ini diungkapkan dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Aditya Surya Pratama. Menurutnya, gerakan tersebut berkaitan dengan mekanisme alami otak dalam menentukan gestur ketika seseorang merasa ragu atau tidak tahu harus melakukan pose seperti apa.
"Kalian sadar nggak? Kenapa kalau cowok disuruh foto gaya bebas, ujung-ujungnya adalah banyak yang angkat jempol. Jempol lagi, jempol lagi. Padahal nggak disuruh, tapi refleks. Nggak usah bingung karena ini ada ilmu medisnya," kata dr. Aditya dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, dilansir dari inews, Selasa (4/8/2026).
Baca Juga: Minecraft 2026 Punya "Kekuatan Rahasia", Fitur Ini Bisa Ubah Cara Main Tanpa Mod Tambahan
Otak Cenderung Memilih Gerakan yang Familiar dan Aman
Fenomena pose jempol pria saat foto berkaitan dengan kecenderungan otak manusia memilih tindakan yang sudah dikenal. Saat seseorang berada dalam situasi spontan, terutama ketika kamera tiba-tiba mengarah kepadanya, otak akan mencari pilihan yang tidak membutuhkan banyak usaha.
Menurut dr. Aditya, jempol menjadi salah satu gestur yang mudah dipilih karena sudah memiliki makna positif yang dikenal luas. Gerakan tersebut tidak membutuhkan kemampuan khusus dan dianggap aman dalam berbagai situasi sosial.
"Ini soal default gesture otak. Dalam neuroscience, otak manusia itu punya kecenderungan memilih gerakan yang paling simpel, familiar, dan aman secara sosial. Dan jempol adalah simbol yang paling mudah dilakukan, nggak perlu butuh mikir, nggak aneh, dan sudah dikenal sebagai tanda positif. Jadi saat bingung mau gaya apa, otak itu langsung pilih yang paling basic, jempol," ujar dr. Aditya.
Dengan kata lain, ketika seseorang merasa kehabisan ide untuk bergaya, tubuh secara otomatis memilih gerakan yang sudah tersimpan dalam kebiasaan sehari-hari.
Baca Juga: Keji! Ayah Tiri di Mojokerto Siksa Anak Tiri Sejak SD hingga Kuliah, Hakim Jatuhkan Vonis 12 Tahun
Jempol Menjadi Simbol Positif yang Tersimpan Sejak Kecil
Selain faktor spontanitas, alasan pria angkat jempol saat foto juga dipengaruhi oleh pengalaman yang terbentuk sejak kecil. Banyak orang sudah mengenal acungan jempol sebagai tanda bahwa sesuatu dianggap baik, berhasil, atau mendapat persetujuan.
Pengulangan makna tersebut membuat otak menyimpan gestur jempol sebagai simbol yang memberikan rasa nyaman. Karena itu, ketika seseorang menggunakan gestur tersebut, ada hubungan dengan pengalaman positif yang pernah diterima sebelumnya.
"Gestur jempol itu sejak kecil diasosiasikan dengan 'oke', 'bagus', dan 'setuju'. Artinya, gestur ini terhubung dengan dopamin atau reward system. Jadi saat seseorang pakai gestur ini, secara tidak sadar dia sedang memberi sinyal, 'Oke, gue aman, santai, dan positif'," ucap dr. Aditya.
Hal ini membuat jempol menjadi salah satu gestur yang mudah muncul ketika seseorang ingin menunjukkan suasana santai atau ramah di depan kamera.
Faktor Sosial Membuat Pria Memilih Pose yang Sederhana
Selain cara kerja otak, faktor lingkungan dan kebiasaan sosial juga ikut memengaruhi gaya seseorang saat difoto. Banyak pria cenderung memilih pose yang dianggap sederhana dan tidak terlalu berlebihan.
Dalam budaya sosial tertentu, sebagian pria merasa lebih nyaman dengan gaya yang terlihat santai, tegas, dan tidak terlalu menunjukkan ekspresi berlebihan. Akibatnya, gestur seperti mengangkat jempol menjadi pilihan yang dianggap aman.
"Banyak pria yang tidak terbiasa mengekspresikan diri lewat pose yang variatif atau ekspresif. Jadi dibandingkan gaya yang dianggap terlalu effort atau kurang maskulin, mereka pilih gestur yang paling simpel, tegas, dan nggak bikin ribet," kata dr. Aditya.
Kondisi ini membuat fakta psikologi pria dalam memilih pose foto menjadi menarik, karena keputusan kecil tersebut ternyata dipengaruhi oleh kebiasaan dan lingkungan sekitar.
Tubuh Memiliki Cara Mengatasi Rasa Canggung di Depan Kamera
Tidak sedikit orang yang merasa kaku ketika harus berpose di depan kamera. Dalam kondisi tersebut, tubuh dapat melakukan gerakan otomatis untuk membantu mengurangi rasa tidak nyaman.
Menurut dr. Aditya, selain jempol, beberapa gestur lain seperti memasukkan tangan ke saku atau melipat tangan juga sering muncul ketika seseorang merasa canggung.
"Biasanya muncul gestur otomatis seperti jempol, tangan di saku, atau tangan dilipat. Ini disebut self-regulation gesture, yaitu cara tubuh mengurangi rasa canggung. Jadi kesimpulannya, itu adalah kombinasi dari kebiasaan sejak kecil, sistem reward otak, faktor sosial, dan respons saat canggung," ujarnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kebiasaan sederhana seperti memilih pose foto ternyata tidak terjadi secara acak. Ada kombinasi antara pengalaman masa lalu, cara kerja otak, dan kondisi emosional seseorang saat berada di depan kamera.
Pose Jempol Bukan Karena Kehabisan Ide
Kebiasaan pria mengangkat jempol saat berfoto bukan berarti mereka tidak memiliki variasi gaya. Gestur tersebut merupakan hasil dari proses alami tubuh yang memilih gerakan paling mudah, familiar, dan nyaman.
Dengan memahami cara kerja otak manusia, kebiasaan kecil seperti pose jempol saat foto dapat dilihat sebagai bagian dari respons psikologis yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah gerakan sederhana ternyata menyimpan alasan yang lebih kompleks dari yang terlihat.***
Editor : Dwi Puspitarini