KALTIMPOST.ID - Utang pernikahan yang awalnya dianggap sebagai jalan untuk mewujudkan resepsi impian justru berubah menjadi beban berat bagi sepasang pengantin baru di Malaysia. Keputusan meminjam dana dalam jumlah besar membuat kehidupan mereka setelah menikah jauh dari bayangan yang diharapkan.
Kisah utang pernikahan ini menjadi pengingat bahwa pesta yang berlangsung hanya beberapa jam dapat meninggalkan kewajiban finansial yang harus dibayar selama bertahun-tahun. Alih-alih menikmati masa-masa awal rumah tangga, pasangan tersebut justru berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dilansir dari Weird Kaya, pasangan tersebut mengaku meminjam RM40.000 atau sekitar Rp175 juta untuk membiayai resepsi pernikahan. Padahal sejak awal mereka hanya ingin menggelar acara sederhana sesuai kemampuan.
Rencana pernikahan sederhana yang diinginkan pasangan itu tidak berjalan sesuai harapan. Keluarga mereka menginginkan pesta yang lebih besar dengan jumlah tamu lebih banyak serta digelar di hotel.
Baca Juga: Perempuan Wajib Tahu Ini! 5 Tanda Pria Benar-Benar Siap Jadi Suami
Akhirnya, resepsi tetap berlangsung sesuai keinginan keluarga. Meski acara berjalan lancar, konsekuensi finansial mulai terasa tidak lama setelah pesta usai.
Biaya yang besar membuat pasangan tersebut harus menanggung cicilan dalam jumlah besar setiap bulan. Kondisi itu memaksa mereka mengubah pola hidup demi bertahan.
Sang suami yang bekerja sebagai pegawai administrasi mengambil pekerjaan tambahan sebagai pengantar makanan setelah jam kerja selesai. Pendapatan tambahan itu digunakan untuk membantu membayar cicilan pinjaman.
Sementara itu, istrinya juga berusaha menambah pemasukan dengan berjualan melalui platform e-commerce. Namun, hasil yang diperoleh belum cukup untuk meringankan beban keuangan keluarga mereka.
Akibat besarnya cicilan, kebutuhan sehari-hari pun ikut terdampak. Bahkan membeli makanan menjadi hal yang harus dipertimbangkan karena pembayaran utang menjadi prioritas utama.
Selama dua bulan pertama setelah menikah, pasangan tersebut mengaku tidak bisa menikmati kehidupan rumah tangga seperti yang dibayangkan sebelumnya. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu makan di dapur dengan menu yang sama setiap hari.
Baca Juga: Pria dan Pose Jempol saat Berfoto, Ternyata Terbentuk dari Otak
Mi instan menjadi pilihan utama, bukan karena tidak bisa memasak, tetapi karena uang yang dimiliki hampir habis untuk membayar cicilan pinjaman pernikahan.
Pengalaman itu kemudian menjadi pelajaran berharga bagi sang suami mengenai pentingnya menyesuaikan biaya pernikahan dengan kondisi keuangan.
"Istriku saat itu memang benar. Pesta pernikahan hanya berlangsung sehari, tetapi hutang akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dibayar," ujar pria tersebut, dilansir dari detikfood, Jumat (7/8/2026).
Kisah ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan dalam pernikahan tidak selalu ditentukan oleh kemewahan resepsi. Perencanaan keuangan yang matang justru dapat membantu pasangan baru memulai kehidupan rumah tangga dengan lebih tenang tanpa dibayangi beban utang.***
Editor : Dwi Puspitarini