KALTIMPOST.ID, Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI dapat menjadi momentum untuk merenungkan makna syukur, perjuangan, dan tanggung jawab sebagai warga negara.
Materi khutbah Jumat ini mengimbau jamaah umat Islam untuk mengisi kemerdekaan dengan nilai-nilai keislaman.
Isi teks Khutbah Jumat ini membahas cara mensyukuri kemerdekaan, meneladani perjuangan para pahlawan, serta menjaga persatuan di tengah keberagaman bangsa.
Baca Juga: Naskah Khutbah Jumat Singkat, 14 Agustus 2026: 4 Hal yang Menghalangi Terkabulnya Doa
Mengangkat isu yang relevan dengan kehidupan masyarakat, khutbah Jumat terbaru ini juga mengajak umat memahami pentingnya toleransi, tanggung jawab, dan menjaga kehormatan agama.
Khutbah Jumat Kemerdekaan ini dapat menjadi bahan renungan agar perjuangan para pendahulu tidak berhenti sebagai sejarah, tetapi diteruskan melalui karya dan pengabdian.
Bagi khatib yang sedang mencari materi khutbah Jumat HUT RI, naskah berikut dapat menjadi referensi yang tepat.
Khutbah Pertama
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan tidak cukup hanya diwujudkan dalam kesalehan pribadi. Seorang Muslim juga dituntut menghadirkan kesalehan sosial dengan menjaga kedamaian, keadilan, persaudaraan, ketertiban, dan kemaslahatan di tengah masyarakat.
Hari ini, Jumat, 14 Agustus 2026, kita berada dalam suasana menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Delapan puluh satu tahun perjalanan kemerdekaan merupakan rentang sejarah yang panjang. Karena itu, peringatan kemerdekaan seharusnya tidak berhenti pada kegiatan seremonial seperti pemasangan bendera, perlombaan, atau upacara.
Baca Juga: Khutbah Jumat Terbaru tentang Kemerdekaan, Disertai Link Download: Merdeka di Dunia dan di Akhirat
Lebih dari itu, kemerdekaan perlu menjadi momentum untuk melakukan muhasabah. Kita perlu mengingat dari mana kemerdekaan diperoleh, siapa saja yang telah berjuang dan mengorbankan jiwa serta raganya, dan apa yang sudah kita lakukan untuk menjaga serta mengisi kemerdekaan tersebut.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Kemerdekaan merupakan nikmat dan karunia yang patut kita syukuri. Allah SWT menjanjikan tambahan nikmat bagi orang-orang yang bersyukur.
Allah SWT berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
"Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, sesungguhnya azab-Ku sangat berat." (QS. Ibrahim: 7)
Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa syukur tidak berhenti pada ucapan alhamdulillah. Syukur harus diwujudkan melalui perbuatan.
Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini tidak diperoleh dengan mudah. Di baliknya terdapat perjuangan panjang, pengorbanan harta dan tenaga, air mata, bahkan nyawa. Para ulama, kiai, santri, tentara, pemuda, dan rakyat biasa mengambil bagian dalam perjuangan mempertahankan tanah air.
Mereka berjuang dengan keyakinan dan keberanian. Semangat perjuangan tersebut tercermin dalam prinsip 'isy kariman au mut syahidan, yakni hidup mulia atau mati syahid.
Karena itu, bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan jasa para pendahulunya.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Lantas, bagaimana cara kita mensyukuri kemerdekaan?
Setidaknya ada tiga hal yang dapat kita lakukan.
Pertama, mendoakan para pahlawan dan pejuang bangsa.
Allah SWT berfirman:
وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَٰكِنْ لَا تَشْعُرُونَ
"Janganlah kamu mengatakan bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Sebenarnya mereka hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya." (QS. Al-Baqarah: 154)
Kita tidak boleh gegabah menetapkan seseorang secara individual sebagai syahid karena kedudukan seseorang di sisi Allah merupakan urusan Allah SWT. Namun, kita dapat mendoakan para kiai, ulama, mujahid, santri, dan seluruh pejuang yang telah gugur dalam perjuangan membela agama, bangsa, tanah air, dan kemanusiaan.
Kita memohon agar Allah SWT menerima amal mereka, mengampuni dosa mereka, memberikan rahmat, dan menempatkan mereka dalam kemuliaan di sisi-Nya.
Kedua, meneladani jiwa kepahlawanan.
Pahlawan tidak hanya mereka yang mengangkat senjata di medan perang. Setiap zaman memiliki medan perjuangannya sendiri.
Dahulu, medan perjuangan adalah medan pertempuran. Hari ini, medan perjuangan jauh lebih beragam. Ada perjuangan melalui pendidikan, ekonomi, kesehatan, sosial, kebudayaan, teknologi, dan ruang digital.
Guru berjuang mencerdaskan generasi. Ulama berdakwah melalui ilmu dan keteladanan. Orang tua berjuang mendidik anak sekaligus memberikan nafkah yang halal. Petani menyediakan pangan. Pedagang menggerakkan perekonomian dengan kejujuran.
Aparatur negara memberikan pelayanan dengan integritas. Tenaga kesehatan menjaga kehidupan dan mengembangkan ilmu kesehatan. Anak muda berjuang melalui ilmu, kreativitas, inovasi, dan akhlak.
Semua itu merupakan bentuk kepahlawanan sesuai konteks zaman.
Karena itu, seorang Muslim hendaknya tidak hanya bertanya, "Apa yang telah negara berikan kepada saya?" Tetapi juga bertanya, "Apa yang telah saya berikan kepada bangsa, agama, dan sesama?"
Rasulullah SAW bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia."
Menjadi warga negara yang baik merupakan salah satu bentuk aktualisasi kemanfaatan tersebut.
Ketiga, meneruskan perjuangan.
Para pahlawan telah mewariskan kemerdekaan kepada kita. Tugas generasi sekarang bukan sekadar menikmati hasil perjuangan tersebut. Kita harus merawat, mengisi, dan meneruskannya kepada generasi berikutnya.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok." (QS. Al-Hasyr: 18)
Ayat ini mengajarkan pentingnya memikirkan masa depan. Jangan sampai kita hanya menikmati hasil perjuangan generasi sebelumnya tanpa menanam sesuatu yang dapat dinikmati generasi setelah kita.
Jangan sampai kita menerima Indonesia yang merdeka tetapi meninggalkan Indonesia yang terpecah. Jangan sampai kita menerima persatuan sebagai warisan, tetapi justru mewariskan permusuhan kepada anak cucu.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Indonesia merupakan bangsa yang sangat beragam. Kita berbeda suku, bahasa, adat, budaya, organisasi, dan pilihan. Bahkan dalam sejumlah persoalan keagamaan, terdapat perbedaan pendapat di antara umat Islam.
Namun, perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk saling meniadakan.
Allah SWT berfirman:
وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ
"Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah penciptaan langit dan bumi serta perbedaan bahasa dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui." (QS. Ar-Rum: 22)
Allah juga berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا
"Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal." (QS. Al-Hujurat: 13)
Allah tidak memerintahkan manusia untuk saling meniadakan. Allah justru menggunakan kata lita'arafu, agar manusia saling mengenal.
Karena itu, kebinekaan harus dikelola dengan baik. Jika dikelola dengan kedewasaan, perbedaan menjadi kekuatan. Sebaliknya, jika dikelola dengan kebencian, perbedaan dapat berubah menjadi sumber perpecahan.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Islam mengajarkan kita untuk memahami batas toleransi. Tidak setiap perbedaan harus dipertentangkan. Namun, toleransi juga tidak berarti membenarkan semua hal.
Dalam khazanah fikih Islam terdapat perbedaan pendapat yang mu'tabar, yakni perbedaan yang memiliki dasar keilmuan dan berada pada wilayah yang memang memungkinkan terjadinya perbedaan.
Dalam wilayah tersebut, kita harus belajar menghormati perbedaan dan tidak memaksakan pandangan kepada orang lain.
Dalam perspektif maqashid as-syari'ah, syariat bertujuan menjaga kemaslahatan manusia, antara lain menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Karena itu, aturan agama tidak dimaksudkan untuk merusak kehidupan, melainkan menjaga kehidupan agar berjalan tertib, adil, dan membawa maslahat.
Maka kita perlu membedakan toleransi dengan permisivisme. Menghormati perbedaan tidak berarti membiarkan kemaksiatan atau tindakan yang jelas bertentangan dengan prinsip agama dan hukum.
Kebebasan juga selalu disertai tanggung jawab.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Persatuan bangsa juga dapat terganggu ketika kebebasan digunakan untuk merendahkan agama.
Kita patut prihatin terhadap tindakan yang menjadikan bacaan Alquran sebagai bagian dari tantangan atau permainan untuk memperoleh sesuatu yang diharamkan. Alquran bukan bahan lelucon, bukan permainan, dan bukan sarana memperoleh sesuatu yang haram.
Alquran adalah kalam Allah yang wajib dimuliakan.
Allah SWT berfirman:
ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
"Demikianlah. Barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, sesungguhnya hal itu termasuk ketakwaan hati." (QS. Al-Hajj: 32)
Terlebih jika tindakan tersebut dikaitkan dengan minuman keras yang secara tegas diharamkan dalam Islam.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ
"Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah." (QS. Al-Ma'idah: 90)
Pelajaran yang dapat kita ambil adalah pentingnya menghormati sesuatu yang dianggap suci oleh pemeluk agama.
Jika kita ingin agama kita dihormati, kita juga harus belajar menghormati keyakinan orang lain. Kebinekaan tidak akan menjadi kekuatan apabila setiap orang merasa memiliki hak untuk merendahkan sesuatu yang dianggap suci oleh orang lain.
Namun ketika terjadi penghinaan terhadap agama, umat Islam tidak boleh membalasnya dengan kekerasan atau tindakan main hakim sendiri.
Allah SWT berfirman:
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ
"Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa." (QS. Al-Ma'idah: 8)
Kita dapat menolak penghinaan terhadap agama. Kita dapat menuntut penegakan hukum. Namun, semua harus dilakukan dengan cara yang adil dan sesuai hukum.
Kita boleh teguh dalam prinsip, tetapi tetap santun dalam bermuamalah.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Ancaman terhadap persatuan pada zaman sekarang juga datang melalui ruang digital.
Jika dahulu penjajahan dan politik divide et impera digunakan untuk memecah masyarakat, hari ini perpecahan dapat masuk melalui telepon genggam yang berada di tangan kita.
Satu berita bohong dapat menimbulkan prasangka. Satu potongan video yang tidak utuh dapat memicu kemarahan. Satu komentar kasar dapat memutus persaudaraan. Satu unggahan provokatif dapat mempertemukan kelompok masyarakat dalam pertentangan.
Karena itu, umat Islam harus menjadi penjaga persatuan, termasuk di ruang digital.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
"Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya." (QS. Al-Hujurat: 6)
Rasulullah SAW juga bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itu, sebelum membagikan sebuah informasi, mari bertanya kepada diri sendiri: Apakah informasi ini benar? Apakah bermanfaat? Apakah pantas disebarkan? Apakah akan membawa kedamaian?
Jika belum jelas, lakukan tabayyun. Jika hanya akan menimbulkan fitnah dan kebencian, tinggalkan.
Jangan biarkan jari-jari kita menjadi alat untuk memecah bangsa. Jadikan teknologi sebagai sarana menyebarkan ilmu, kebaikan, persaudaraan, dan kemaslahatan.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Dalam momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia ini, mari kita memperbarui komitmen.
Pertama, syukuri kemerdekaan dengan mendoakan para pahlawan dan pejuang bangsa. Jangan lupakan jasa mereka.
Kedua, teladani jiwa kepahlawanan dengan memberikan kontribusi terbaik sesuai profesi, kemampuan, dan kesempatan yang kita miliki.
Ketiga, teruskan perjuangan. Jangan hanya mewarisi kemerdekaan, tetapi wariskan pula persatuan, ilmu, akhlak, keadilan, dan kehidupan yang lebih baik.
Keempat, rawat kebinekaan. Berbeda tidak berarti harus bermusuhan. Berbeda tidak berarti saling meniadakan. Perbedaan tidak menghalangi kita untuk bekerja sama.
Kelima, hormati batas agama dan hukum. Toleransi bukan berarti membenarkan semua hal. Kebebasan bukan berarti bebas tanpa tanggung jawab.
Keenam, jadilah penjaga persatuan di tengah berbagai tantangan. Jaga keluarga, lingkungan, akhlak, ruang digital, persaudaraan, ketertiban, dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
NKRI tidak akan kokoh hanya karena kuatnya pemerintah. Negara akan kuat apabila masyarakatnya juga kuat: kuat iman, ilmu, ekonomi, akhlak, persaudaraan, dan kesadaran untuk hidup bersama dalam perbedaan.
Tanamkan dalam diri kita: kita boleh berbeda, tetapi tidak boleh memecah belah. Kita boleh memiliki pilihan, tetapi tidak boleh merendahkan. Kita boleh kritis, tetapi harus tetap adil. Kita boleh teguh pada keyakinan, tetapi tetap menghormati sesama.
Kita berbeda-beda, tetapi kita adalah satu Indonesia.
Semoga Allah SWT menjaga Indonesia, menjaga persatuan bangsa, menjaga anak cucu kita, menerima pengorbanan para pahlawan, dan memberikan kekuatan kepada bangsa Indonesia untuk mengisi kemerdekaan dengan keadilan, kemakmuran, ilmu pengetahuan, akhlak, dan kemaslahatan.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِىْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Ketahuilah bahwa Allah SWT memerintahkan kita memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ.
اللّٰهُمَّ احْفَظْ إِنْدُونِيْسِيَا وَأَهْلَهَا وَشَعْبَهَا، وَاحْفَظْ وَحْدَتَهَا وَسَلَامَتَهَا.
اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِشُهَدَائِنَا وَأَبْطَالِنَا وَمَنْ ضَحَّوْا مِنْ أَجْلِ دِيْنِهِمْ وَوَطَنِهِمْ وَأُمَّتِهِمْ، وَارْحَمْهُمْ وَتَقَبَّلْ أَعْمَالَهُمْ.
اللّٰهُمَّ وَحِّدْ قُلُوْبَنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ.
اللّٰهُمَّ احْفَظْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا وَشَبَابَنَا مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.
اللّٰهُمَّ احْفَظْهُمْ مِنْ فِتْنَةِ الْفَضَاءِ الرَّقْمِيِّ، وَاجْعَلْهُمْ جِيْلًا صَالِحًا، مُتَعَلِّمًا، مُبْدِعًا، وَنَافِعًا لِدِيْنِهِ وَوَطَنِهِ.
اللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ خَيْرُ الْعِبَادِ وَالْبِلَادِ، وَاجْعَلْهُمْ أُمَنَاءَ عَلَى مَصَالِحِ الشَّعْبِ وَالْوَطَنِ.
اللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا الْعَدْلَ وَالْأَمَانَةَ وَالْعِلْمَ وَالْحِكْمَةَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ بِالْخَيْرِ وَالْإِصْلَاحِ.
اللّٰهُمَّ اجْعَلْ بَلَدَنَا إِنْدُونِيْسِيَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، سَخَاءً رَخَاءً، وَاجْعَلْهَا دَارَ عَدْلٍ وَسَلَامٍ وَرَحْمَةٍ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
*) Oleh: Prof Dr KH M Asrorun Ni’am Sholeh, MA, Ketua Bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia/Guru Besar Ilmu Fikih Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Editor : AlmasrifahSumber : mozaik.inilah.com