KALTIMPOST.ID, Menerima gaji pertama adalah momen yang sangat membahagiakan sekaligus menegangkan. Setelah sekian lama berjuang meniti karier, akhirnya ada apresiasi yang bisa dinikmati.
Tidak sedikit setelah menerima gaji pertama ingin mentraktir keluarga atau teman, membeli barang yang selama ini diincar, atau sekadar menikmati makan di tempat yang lebih mahal. Tidak ada yang salah dengan merayakan gaji pertama.
Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai seluruh penghasilan habis hanya karena ingin menikmati momen tersebut.
Perencana keuangan mengingatkan ada beberapa kesalahan yang cukup sering dilakukan pekerja pemula ketika menerima penghasilan pertama.
Jika dibiarkan, kebiasaan ini bisa terbawa ke bulan-bulan berikutnya.
1. Menganggap gaji pertama sebagai uang bebas
Kesalahan pertama biasanya muncul karena terlalu senang melihat nominal gaji masuk ke rekening. Setelah sekian lama tidak memiliki penghasilan sendiri, muncul anggapan bahwa uang tersebut bebas digunakan untuk apa saja.
Traktir teman, membelikan sesuatu untuk keluarga, makan di restoran, sampai belanja barang yang sudah lama diinginkan terasa seperti bentuk penghargaan atas keberhasilan mendapatkan pekerjaan.
Boleh saja. Namun, tetap perlu ada batasnya. Jangan sampai uang untuk kebutuhan satu bulan justru ikut terpakai hanya demi merayakan gaji pertama.
Sebelum mengeluarkan uang untuk bersenang-senang, pastikan kebutuhan utama sudah dihitung.
Dengan begitu, perayaan gaji pertama tetap terasa menyenangkan tanpa membuat kondisi keuangan berantakan di akhir bulan.
2. Gaya hidup naik terlalu cepat
Miliki gaji sendiri terkadang membuat seseorang merasa sudah waktunya menaikkan standar hidup.
Dulu cukup makan sederhana, sekarang mulai sering nongkrong di tempat yang lebih mahal. Belum lagi pengaruh media sosial yang membuat gaya hidup orang lain terlihat seperti sesuatu yang harus diikuti. Inilah yang sering disebut sebagai lifestyle inflation. Persoalannya bukan pada membeli barang bagus atau menikmati hasil kerja. Persoalannya muncul ketika pengeluaran ikut naik setiap kali pendapatan bertambah.
Di awal karier, justru ada baiknya menikmati kenaikan penghasilan secara bertahap. Jangan sampai gaji naik, tetapi kebutuhan gaya hidup ikut melonjak sehingga tidak ada ruang untuk menabung.
3. Terlalu cepat mengambil cicilan dan utang konsumtif
Godaan lain datang dari kemudahan membeli barang secara cicilan. Begitu memiliki penghasilan tetap, pekerja baru mungkin mulai merasa lebih percaya diri mengambil kredit kendaraan, membeli ponsel baru, atau menggunakan paylater untuk berbagai kebutuhan.
Padahal, memiliki kemampuan membayar cicilan setiap bulan belum tentu berarti barang tersebut memang perlu dibeli sekarang.
Cicilan yang terlalu besar dapat membuat sebagian besar penghasilan sudah habis sebelum bulan berjalan.
Akibatnya, ketika muncul kebutuhan mendadak, pilihan yang tersisa justru kembali menggunakan utang.
Karena itu, pekerja pemula perlu menghitung kemampuan keuangan secara realistis sebelum mengambil cicilan.
Jangan hanya melihat nominal angsuran, tetapi perhatikan juga total pengeluaran bulanan setelah cicilan tersebut berjalan.
4. Menunggu sisa gaji untuk menabung
Kalimat "nanti kalau ada sisa baru ditabung" terdengar sederhana, tetapi justru bisa menjadi kebiasaan yang sulit diperbaiki.
Masalahnya, biasanya tidak pernah ada sisa yang benar-benar terasa aman untuk disimpan. Karena itu, sebagian penghasilan sebaiknya langsung dipisahkan begitu gaji diterima.
Tidak perlu langsung dalam jumlah besar. Yang penting, kebiasaan menyisihkan uang sudah dimulai. Selain tabungan, pekerja yang baru memiliki penghasilan juga perlu mulai memikirkan dana darurat.
Dana ini nantinya berguna ketika ada pengeluaran yang tidak direncanakan, misalnya kebutuhan kesehatan, kehilangan pekerjaan, atau keperluan mendesak lainnya.
Semakin awal kebiasaan tersebut dibangun, semakin ringan ketika jumlah dana yang perlu dikumpulkan mulai bertambah.