KALTIMPOST.ID, Sebaran abu vulkanik dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda meluas, Minggu (6/9).
Tak hanya di Banten, abu vulkanik juga turun di sebagian wilayah Jakarta.
Paparan abu vulkanik akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau perlu menjadi perhatian khusus bagi orangtua, terutama karena abu vulkanik berbeda dari debu biasa dan dapat mengganggu kesehatan anak.
Dalam paparannya bertajuk “Anak dan Bencana Erupsi Gunung Berapi”, dokter spesialis anak dr. Yogi Prawira, Sp.A, Subsp. ETIA (K) menjelaskan, abu vulkanik mengandung silika kristalin yang dapat berdampak pada kesehatan pernapasan maupun kondisi psikologis anak.
“Anak dengan asma bisa kambuh dan memberat gejalanya,” papar Yogi dalam materi yang dibagikan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melalui akun Instagram @idai_ig.
Selain gangguan pernapasan, paparan abu vulkanik juga dapat berkaitan dengan masalah psikologis pada anak, seperti stres, kecemasan, hingga gejala Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) subklinis.
Baca Juga: Dokter Tirta Imbau Cara Hadapi Abu Vulkanik Anak Krakatau, Ikuti 4 Langkah Ini
Karena itu, orangtua perlu mengambil sejumlah langkah untuk mengurangi paparan abu vulkanik pada anak.
5 Cara Lindungi Anak dari Abu Vulkanik
1. Tetap di Dalam Rumah
Langkah pertama yang disarankan adalah menjaga anak tetap berada di dalam rumah selama abu vulkanik menyebar.
Jendela dan pintu sebaiknya ditutup rapat, sementara celah yang memungkinkan abu masuk dapat ditutup menggunakan lakban jika diperlukan. Aktivitas bermain di luar rumah juga sebaiknya ditunda.
Orangtua dapat mengalihkan kegiatan anak ke dalam rumah, seperti menggambar, membaca buku, atau bermain. Lantai juga dianjurkan dibersihkan dengan pel basah, bukan disapu dalam kondisi kering karena abu yang mengendap dapat kembali beterbangan.
Selain itu, ia mengingatkan, tandon dan wadah air perlu ditutup. Pengolahan buah dan sayuran juga harus dicuci dengan lebih teliti.
2. Gunakan Masker Sesuai Usia Anak
Untuk anak yang lebih besar dan harus keluar rumah, gunakan masker N95 atau KN95 yang dapat menutup wajah dengan rapat.
Bila masker tersebut tidak tersedia, masker bedah berlapis atau kain lembap tetap dapat digunakan sebagai perlindungan tambahan. Namun, bayi dan balita kecil tidak dianjurkan menggunakan N95 karena berisiko membuat mereka kesulitan bernapas.
Perlindungan utama untuk kelompok usia ini adalah tetap berada di dalam ruangan yang tertutup. Anak dengan asma juga perlu membawa obat pelega napas dan mengikuti rencana penanganan yang telah diberikan dokter.
3. Lindungi Mata dan Kulit
Abu vulkanik juga dapat mengiritasi mata dan kulit. Jika mata anak terasa perih, bilas menggunakan air bersih yang mengalir dan hindari menguceknya.
Yogi mengimbau pada remaja yang menggunakan lensa kontak, sebaiknya tidak mengenakannya ketika terjadi paparan abu.
Jika harus keluar rumah, anak dapat menggunakan kacamata pelindung atau goggle serta mengenakan pakaian yang menutupi tubuh.
Setelah kembali ke rumah, anak dianjurkan mandi dan mengganti pakaian untuk membersihkan sisa abu yang menempel.
4. Komunikasikan Tanpa Menakuti Anak
Perlindungan anak saat bencana tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik. Orangtua juga perlu membantu anak memahami situasi tanpa membuat mereka semakin takut. Untuk anak usia 3–5 tahun, orangtua dapat menggunakan kalimat sederhana seperti,
“Gunungnya sedang batuk. Kita main di dalam supaya aman.”
Sementara anak usia 6–10 tahun dapat diberi penjelasan mengenai abu vulkanik dan alasan jendela harus ditutup.
Pada remaja, orangtua dapat melibatkan mereka dalam persiapan tas siaga keluarga. Rasa takut juga perlu divalidasi dengan mengatakan, “Wajar merasa takut. Kita sudah bersiap.”
Orangtua juga dianjurkan membatasi tontonan video bencana yang menakutkan di media sosial serta memastikan kebenaran informasi sebelum meneruskannya.
5. Siaga Tanda Bahaya pada Anak
Yogi memaparkan, orangtua perlu segera membawa anak ke puskesmas atau rumah sakit jika mengalami sesak atau napas cepat, bibir atau ujung jari kebiruan, serta batuk yang tidak berhenti, terutama pada anak dengan asma.
Pertolongan medis diperlukan jika mata merah dan nyeri tidak membaik setelah dibilas. Pada bayi, kondisi seperti malas menyusu atau tampak lemas juga perlu menjadi tanda peringatan.
IDAI mengingatkan, bahwa kesiapan orangtua penting untuk mengurangi dampak paparan abu vulkanik pada anak.
Di sisi lain, anak juga perlu tetap merasa aman selama menghadapi situasi bencana.