KALTIMPOST.ID - Kabar soal prediksi gempa dahsyat yang disebut bakal terjadi di Indonesia sebelum 2026 berakhir kembali ramai di media sosial. Informasi tersebut dikaitkan dengan YouTuber asal Kanada, Frankie MacDonald, dan membuat sebagian masyarakat khawatir.
Namun, BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak begitu saja mempercayai informasi tersebut. Sampai saat ini, waktu, lokasi, dan kekuatan gempa belum dapat diprediksi secara pasti.
Lantas, bagaimana Islam mengajarkan umatnya dalam menghadapi kabar tentang prediksi gempa dan ancaman bencana?
Kabar mengenai gempa dahsyat yang beredar di media sosial sebaiknya tidak langsung dipercaya, apalagi jika tidak disertai dasar ilmiah dan sumber yang jelas.
Dalam Islam, umat dianjurkan melakukan tabayun atau memeriksa kebenaran sebuah informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya.
Allah SWT berfirman dalam QS Al-Hujurat ayat 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.”
Prinsip tersebut semakin penting di tengah cepatnya penyebaran informasi digital. Video yang viral belum tentu menunjukkan bahwa informasi di dalamnya benar.
Baca Juga: Toyota Siapkan Mobil Terbaru Seharga Rp 100 Jutaan dengan Konsumsi BBM Tembus 24 Km Per Liter
BMKG belum bisa memastikan kapan gempa terjadi
BMKG telah menegaskan bahwa gempa bumi belum dapat diprediksi secara pasti. Ilmu pengetahuan memang dapat digunakan untuk memantau aktivitas kegempaan dan mengetahui wilayah yang memiliki potensi bahaya, tetapi bukan untuk memastikan gempa akan terjadi pada tanggal tertentu.
Karena itu, klaim mengenai prediksi gempa Indonesia yang menyebut waktu kejadian secara spesifik perlu disikapi secara kritis.
Masyarakat sebaiknya mengutamakan informasi dari lembaga resmi daripada ramalan yang beredar melalui media sosial.
Islam mengingatkan manusia
Dalam Islam, perkara gaib merupakan sesuatu yang tidak dapat diketahui manusia secara mutlak.
Allah SWT berfirman dalam QS An-Naml ayat 65:
قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ
Artinya: “Katakanlah, ‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib kecuali Allah.’”
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam mengetahui apa yang akan terjadi. Karena itu, klaim yang memastikan gempa dahsyat akan terjadi pada waktu tertentu tidak seharusnya diterima tanpa pertimbangan.
Sikap yang lebih tepat adalah tetap menggunakan ilmu pengetahuan sekaligus menyadari keterbatasan manusia.
Tidak mempercayai prediksi gempa yang belum terbukti bukan berarti mengabaikan risiko bencana.
Masyarakat tetap perlu melakukan langkah kesiapsiagaan, terutama bagi mereka yang tinggal di wilayah rawan gempa. Mengenali jalur evakuasi, mengetahui titik kumpul, menyiapkan kebutuhan darurat, serta memahami langkah penyelamatan diri dapat dilakukan sebagai bentuk ikhtiar.
Baca Juga: Pakai Kaca Spion Motor Cuma Satu Bisa Kena Tilang, Ini Aturan Hukum dan Dendanya
Dengan begitu, kesiapsiagaan tidak didasarkan pada ramalan, melainkan pada kondisi nyata dan informasi kebencanaan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Jangan ikut menyebarkan kepanikan
Informasi mengenai gempa Indonesia yang belum terbukti juga sebaiknya tidak disebarkan secara sembarangan.
Rasulullah SAW bersabda:
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
Artinya: “Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan setiap apa yang didengarnya.” (HR Muslim).
Pesan tersebut relevan dengan kebiasaan membagikan informasi di media sosial. Ketika sebuah kabar belum jelas kebenarannya, menahan diri untuk tidak menyebarkannya merupakan langkah yang lebih bijak.
Apalagi, informasi tentang gempa dahsyat dapat membuat masyarakat panik dan mengambil keputusan berdasarkan ketakutan.
Ketika muncul kabar mengenai prediksi gempa, masyarakat dapat memeriksa informasi melalui BMKG, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta pemerintah daerah.
Sumber resmi menjadi rujukan penting karena informasi kebencanaan disampaikan berdasarkan pemantauan dan analisis yang dilakukan oleh lembaga terkait.
Masyarakat tidak perlu menjadikan video viral atau unggahan media sosial sebagai satu-satunya dasar untuk mengambil keputusan.
Tawakal tetap disertai ikhtiar
Dalam Islam, tawakal tidak berarti hanya menunggu tanpa melakukan persiapan. Menghadapi risiko gempa Indonesia, masyarakat tetap dapat melakukan berbagai upaya untuk menjaga keselamatan diri dan orang lain.
Selain meningkatkan kesiapsiagaan, umat Islam juga dapat memperbanyak doa dan memohon perlindungan kepada Allah SWT.
Salah satu doa yang dapat diamalkan adalah memohon perlindungan dari berbagai bahaya, termasuk tertimpa reruntuhan, jatuh, tenggelam, dan terbakar.
Pada akhirnya, kabar prediksi gempa dahsyat sebelum 2026 berakhir tidak perlu disikapi dengan kepanikan. Masyarakat perlu membedakan antara informasi ilmiah dan klaim yang belum terbukti.
BMKG belum dapat memastikan kapan, di mana, dan seberapa kuat sebuah gempa akan terjadi. Karena itu, langkah yang lebih tepat adalah memeriksa informasi, mengikuti sumber resmi, meningkatkan kesiapsiagaan, serta tetap tenang.
Bagi umat Islam, menghadapi kabar bencana dapat dilakukan dengan menyeimbangkan ikhtiar dan tawakal. Bukan larut dalam ramalan, melainkan bersiap berdasarkan informasi yang dapat dipercaya dan menyerahkan hal-hal yang berada di luar kemampuan manusia kepada Allah SWT.***
Editor : Dwi PuspitariniSumber : akurat.co