KALTIMPOST.ID, Kekeringan panjang melanda Indonesia. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam, dianjurkan untuk melaksanakan salat istisqa.
Salat istiqa adalah ibadah sunnah muakkadah untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan sebagai sumber kehidupan.
Dilansir dari baznas.go.id, secara bahasa, al-istisqa berarti meminta curahan air penghidupan atau thalab al-saqaya.
Dalam fikih, salat istisqa dilakukan ketika masyarakat mengalami kekeringan atau hujan lama tidak tercurah.
Pelaksanaannya dilakukan pada siang hari, setelah matahari terbit, pada waktu yang menyerupai awal pelaksanaan salat Idulfitri atau Iduladha.
Baca Juga: Khutbah Jumat Terbaru: Bulan Berganti, Amal Jangan Berhenti, Ini Amalan Sunnah di Rabiul Akhir
Niat salat istisqa dilakukan sebelum takbiratul ihram. Salat ini dikerjakan dua rakaat secara berjamaah di tanah lapang tanpa azan dan iqamat. Niatnya sebagai berikut:
أُصَلِّيْ سُنَّةَ الاِسْتِسْقَاءِ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْمًا /إِمَامًا لِلهِ تَعَالَى
“Ushalli sunnat al-istisqai, rak'ataini mustaqbil al-qiblati (imaman/makmuman) lillahi taala.”
Tata Cara Salat Istisqa
- Berkumpul di tanah lapang. Imam dan makmum melaksanakan salat istisqa secara berjamaah tanpa didahului azan dan iqamat.
- Membaca niat salat istisqa dua rakaat sebagai imam atau makmum karena Allah SWT.
- Takbiratul ihram, kemudian pada rakaat pertama melakukan takbir sebanyak tujuh kali.
- Membaca Al-Fatihah dan surah pendek pada rakaat pertama secara jahr atau dengan suara yang dapat didengar makmum.
- Melanjutkan gerakan salat dengan rukuk, bangkit dari rukuk, sujud, duduk di antara dua sujud, kemudian sujud kedua.
- Berdiri untuk rakaat kedua, lalu melakukan takbir sebanyak lima kali.
- Membaca Al-Fatihah dan surah pendek pada rakaat kedua secara jahr, kemudian dilanjutkan dengan rukuk dan seluruh rangkaian gerakan hingga dua sujud.
- Tahiyat akhir. Setelah sujud pada rakaat kedua, imam dan makmum duduk membaca tahiyat, tasyahud, dan salawat seperti dalam salat wajib.
- Mengucapkan salam dengan menolehkan wajah dan kepala ke kanan, kemudian ke kiri.
- Mendengarkan khutbah istisqa. Setelah salat selesai, imam menyampaikan dua khutbah dengan berdiri dan diselingi duduk di antara kedua khutbah.
- Memperbanyak istighfar dan doa. Pada awal khutbah pertama, khatib membaca istighfar sembilan kali. Pada awal khutbah kedua, istighfar dibaca tujuh kali. Bacaan istighfarnya: أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
- Mengangkat tangan saat doa. Ketika khatib memanjatkan doa, makmum mengangkat tangan sambil mengucapkan amin.
- Membalik posisi selendang atau surban. Pada sekitar dua pertiga khutbah kedua, khatib disunnahkan menghadap kiblat kemudian membalik posisi selendang dari bahu kanan ke bahu kiri dengan posisi terbalik, yakni bagian bawah diletakkan di atas dan bagian dalam berada di luar. Setelah itu, khutbah dilanjutkan.
Baca Juga: Teks Khutbah Jumat Besok, 18 September 2026: Saat Hoaks dan Ujaran Kebencian Menyulut Perpecahan
Dalam khutbah istisqa, khatib juga dianjurkan memperbanyak istighfar dan mengajak jemaah memohon ampun kepada Allah.
Salah satu bacaan yang dianjurkan adalah: اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا . يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا.
Doa dan istighfar menjadi bagian penting dalam pelaksanaan salat istisqa sebagai bentuk permohonan agar Allah SWT memberikan curahan hujan dan mengakhiri kondisi kekeringan. (*)
Editor : AlmasrifahSumber : baznas.go.id, nu.or.id