Tak Sekadar Ayunan Raket, Sinnet Club dan Cerita Pertemanan yang Melampaui Sekat Profesi

Dwi Restu A • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 12:09 WIB
LEBIH POSITIF: Aktivitas anggota Sinnet Club saat berlatih tenis bersama di Samarinda. Di balik pukulan dan keringat yang menguras tenaga, terselip suasana akrab yang mempertemukan pekerja muda dari beragam profesi.
LEBIH POSITIF: Aktivitas anggota Sinnet Club saat berlatih tenis bersama di Samarinda. Di balik pukulan dan keringat yang menguras tenaga, terselip suasana akrab yang mempertemukan pekerja muda dari beragam profesi.
 

 

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Sejak berdiri pada Mei 2025, tumbuh menjadi wadah olahraga sekaligus ruang pertemanan untuk saling berbagi pengalaman dan melepas penat dari kesibukan sehari-hari.

Bunyi pantulan bola berpadu dengan tawa renyah puluhan anak muda yang berkeringat di salah satu sudut lapangan tenis di Samarinda.

Bunyi dentuman raket yang beradu dengan bola kuning neon di lapangan tenis kota Samarinda kini bukan lagi monopoli para atlet senior. Bagi puluhan pekerja muda di Kota Tepian, arena lapangan hijau justru bertransformasi menjadi ruang katarsis dan pelepas penat dari rutinitas kantor.

 Baca Juga: Peringati Hari Kesaktian Pancasila, PLN Indonesia Power Perkuat Kepedulian melalui Srikandi Movement

Semangat itu hidup lewat Sinnet Club, sebuah komunitas tenis yang diinisiasi sekumpulan anak muda sejak Mei 2025. Wadah ini bermula dari obrolan santai sesama alumnus SMA 10 Samarinda, yakni Widi, Acun, Vitta, Esa, beserta Putri dan Rangga.

Dari sekadar ajang coba-coba memukul bola, animo bermain tenis rupanya kian meluas. Kini, anggota aktif komunitas tersebut telah menembus sekitar 25 orang yang rutin turun ke lapangan saban pekan.

Menariknya, keanggotaan Sinnet Club tidak lagi eksklusif bagi kalangan satu almamater sekolah. Banyak anggota baru bergabung setelah sering berinteraksi di berbagai sesi lapangan terbuka di penjuru Samarinda.

 Baca Juga: California Resmi Akui Idulfitri dan Iduladha sebagai Hari Libur Negara Bagian

Mayoritas personel komunitas ini merupakan generasi Z yang tengah meniti karier di beragam sektor profesional. Latarnya terbilang beragam, mulai dari pelaku wirausaha, pegawai swasta, aparatur sipil negara (ASN), hingga praktisi kesehatan.

"Hampir semua profesi ada di Sinnet, mulai fisioterapis, dokter umum, dokter gigi, psikolog, sampai instruktur pilates," beber Rangga, salah satu inisiator Sinnet Club.

Keberagaman profesi itu menciptakan dinamika unik di luar lapangan. "Jadi kadang kami bisa main tenis sambil konsul macam-macam keluhan kerja dan kesehatan," kelakar Rangga seraya tersenyum.

Suasana guyub terbentuk secara organik di sela-sela pergantian set. Perbincangan mengenai lika-liku dunia kerja hingga kiat menjaga stamina mengalir tanpa sekat canggung di pinggir lapangan.

Kendati mengedepankan rekreasi dan kegembiraan, Sinnet Club tidak mengabaikan teknik bermain. Calon anggota baru saat ini dipersyaratkan memiliki jam terbang latihan dasar tenis minimal selama tiga bulan.

Aturan tersebut diberlakukan demi menjaga ritme permainan bersama sekaligus mencegah risiko cedera fisik. Fondasi teknik pukulan yang benar dinilai menjadi kunci kenyamanan bermain tenis dalam jangka panjang. "Basic tenis itu sangat penting, karena kalau fondasi awalnya keliru bakal sulit memperbaikinya di kemudian hari," tegasnya.

 

FOKUS: Meski hadir dari berbagai latar belakang profesi, Sinet Club tak ingin sekadar main-main ketika ada game play.
FOKUS: Meski hadir dari berbagai latar belakang profesi, Sinet Club tak ingin sekadar main-main ketika ada game play.

Dia menambahkan, komunitasnya saat ini berfokus pada pemain yang sudah menguasai teknik dasar lantaran belum memiliki pelatih tetap. Kendati demikian, Sinnet Club tetap berencana membuka pintu bagi pemain pemula pada masa mendatang.

Tenis lapangan memang menyuguhkan tantangan fisik dan mental tersendiri bagi pemain pemula. Di layar kaca gerakannya tampak mudah, namun di lapangan membutuhkan koordinasi mata, kaki, serta fokus ayunan yang presisi. "Dulu saat menonton pertandingan tenis kelihatannya gampang sekali," imbuhnya.

Baca Juga: Ingin Nikah Hemat di Samarinda? Cek Paket Rp 8,8 Juta Ini

"Ternyata setelah turun bermain langsung, tingkat kesulitannya tinggi dan justru itu yang memicu rasa penasaran untuk terus berlatih,” sambung Rangga yang saat ini sebagai ketua Sinnet Club.

Untuk membenahi teknik bermain, para anggota berinisiatif merekam aksi permainan menggunakan kamera ponsel pintar. Cuplikan video tersebut diputar kembali bersama untuk mengevaluasi posisi kaki hingga arah putaran raket.

Selain latihan internal, Sinnet Club memberi keleluasaan bagi anggotanya untuk bertanding melawan komunitas lain. Langkah latih tanding ke luar dinilai efektif menguji mental bertanding serta memperluas jejaring sosial anak muda Samarinda.

Baca Juga: Google Mulai Blokir Aplikasi Android Tak Terverifikasi? Indonesia Kena Aturan Baru

"Bertemu kawan-kawan baru dengan latar belakang berbeda itu sangat menyegarkan, apalagi atmosfernya suportif dan tidak ada yang mudah baper," ungkap Acun yang berprofesi sebagai fisioterapis itu. 

Bagi para pekerja muda di Samarinda, ayunan raket Sinnet Club terbukti bukan sekadar sarana membakar kalori. Lapangan tenis telah menjadi ruang temu pemulihan mental, mengisi kembali energi positif sebelum kembali berhadapan dengan rutinitas harian. (*)

Editor : Dwi Restu A
sinet club komunitas samarinda tenis