Lantunan irama sapeq menyanjung rintikan gerimis senja di Kampung Long Hubung, sebuah kampung di pinggir Sungai Mahakam yang dikelilingi hutan nan hijau di Mahakam Ulu (Mahulu).
JODY KRISTIANTO, UJOH BILANG
DI rumah panggung kayu itu, suaranya berasal. Dimainkan begitu apik oleh seorang pria yang tak lain adalah Wakil Bupati Mahulu Yohanes Avun. Matanya menatap tajam gaan (sebutan rel gitar oleh suku Dayak Bahau). Sementara jarinya menari di antara empat ting sapeq (sebutan senar dalam oleh suku Dayak Bahau). Naik turun mengikuti pola dan menghasilkan suara musik khas.
Sehabis memainkan sapeq, mantan Sekkab Mahulu itu melihat tubuh instrumen dengan teliti. Memerhatikan bila ada kekurangan. Seraya memberi masukan kepada anak asuhnya di Komunitas Grup Sapeq Putra Daerah (GSPD) Mahulu. Memang, dua malam GSPD Mahulu disertakan sebagai pementas. Menyajikan nuansa meriah khas kebudayaan Dayak yang kental melalui seni musik.
Pertama, di acara Peresmian Gereja Katolik Mamaham Teboq dan HUT ke-50 Gereja Katolik Paroki Long Hubung. Sudah lima tahun GSPD berjalan sejak didirikan Yohanes Avun pada 15 Juli 2019. Komunitas itu merupakan bentuk rasa kecintaannya kepada alat musik tribal, agar bisa menyadarkan masyarakat luas terhadap pelestarian dan mendudukkan ketenarannya sejajar dengan alat musik lainnya.
Pria beretnis Dayak Bahau itu sedari kecil sudah akrab dengan musik sapeq lantaran hidupnya di perkampungan. Dahulu, kata dia, pementasan seni sapeq tak pernah absen pada acara-acara tertentu. Bahkan pada hari-hari biasa. Menoleh sedikit ke belakang, dirinya mengaku sapeq-nya Mahulu sangat terkenal. Setiap malam bisa ada kegiatan kesenian dengan musik sapeq sebagai pusatnya.
Usai merantau untuk mengenyam pendidikan dan kembali bekerja di Mahulu, dirinya tidak mendapati kondisi seperti semula, sapeq bukan lagi sebagai salah satu sumber penghiburan. "Jadi waktu saya SD dulu, saya suka dengan musik sapeq, belajar dan bisa main. Sekolah sampai SMP di sini (Mahulu). Di kota Samarinda saya tinggalkan lanjut SMA sampai kuliah, tidak ada juga komunitasnya. Ketika saya mulai kerja di Kubar di sana tidak ada komunitas sapeq juga, begitu Mahulu terbentuk saya juga kembali kesini. Sudah tidak seperti dahulu waktu saya kecil," bebernya.
Dirinya sempat bertanya kepada para pemuda terkait alat musik itu, hampir tidak ada lagi anak muda yang bermain sapeq. Hanya yang sudah tua saja masih fasih memainkannya. "Timbul pikiran saya untuk mengumpulkan beberapa pemain di Ujoh Bilang untuk membentuk komunitas sapeq yakni GSPD, dan kami tampil perdana saat HUT RI," sebutnya.
Kali pertama tampil di lapangan Ujoh Bilang, masyarakat menyambut dengan positif. Antusiasme mulai tumbuh, bahkan masyarakat sontak menari dengan iringan musik tersebut. Kini menginjak setengah dekade, GSPD sudah tersebar di 27 kampung di 5 kecamatan yang ada di Mahulu, ditambah cabang yang berada di Samarinda, dipimpin oleh Pastor Moses.
Kiprah GSPD dalam pelestarian makin diperkuat. bukan hanya sapeq Bahau yang ditekuni, pria yang gemar karate itu juga mengatakan sapeq Kenyah dan Sapeq Aoheng atau Penhing juga masuk dalam khazanah jenis sapeq yang digunakan GSPD. "Tiap etnis ini beda-beda, Bahau beda, Kenyah beda, dan Aoheng atau Penhing beda juga. Bisa suaranya pake gitar tapi esensi nilai, harus pakai sapeq kalau untuk musik sapeq," tegasnya.
Untuk menyebarkan fanatisme sapeq, GSPD memberikan bantuan agar musik kembali terdengar di penjuru Tanah Urip Kerimaan, mulai pemberian unit sapeq, sound system hingga baju penampil. "Kita dorong, bahkan bantuan itu dari uang pribadi saya," ungkapnya. Usaha yang dilakukan bukan tanpa alasan. Karena ia meyakini, tanpa adanya usaha pelestarian budaya dengan melibatkan pemain dan kecintaan pada sapeq akan menghilangkan keberadaan musik petik itu dengan diganti gitar. Bahkan generasi penerus tidak mengetahui bentuk bahkan mengidentifikasi ketika mendengar suaranya.
"Kenapa niat saya sebanyak itu karena saya takut sapeq ini hilang tinggal kenangan. Yang saya kembangkan juga bukan musik sapeq-nya saja kita pertahankan, tapi termasuk alat musiknya juga, karena banyak musik sapeq ini dimainkan dari gitar. Padahal gitar bukan aslinya bermain sapeq, tapi kalau lama-lama dibiarkan nantinya hilang. Anak cucu kita nanti menunjuk gitar ketika mendengar alunannya, padahal bukan itu," tuturnya.
Pengembangan produksi sapeq juga telah dilakukan oleh GSPD, usai mendapatkan bantuan dari Pemkab Mahulu dan Pemprov Kaltim. Sebuah gedung produksi dibangun bukan hanya untuk membuat sapeq tetapi juga ukuran Dayak lainnya, dengan harapan bisa memenuhi kebutuhan yang diimbangi kepemilikan alat musik.
"Melalui workshop Hengkung Kalung Putra Daerah (HKPD) di samping mengembangkan musiknya, alat-alat musiknya diproduksi ini juga menjadi industri musiknya. Nah kalau main, kan butuh alatnya juga ada pembuat dan ada pembelinya. Jadi bisa juga nambah ekonomi," ungkapnya.
Dari niat baik tersebut, membuahkan hasil, perlahan namun pasti dari pengembangan pelatihan sapeq beberapa tahun terakhir mulai terlihat. Setiap kampung sudah ada pentas dengan memanggungkan penyapeq (pemain sapeq). Terutama daerah Kecamatan Long Apari. Menurutnya, cepat berkembang karena masih ada sisa orang penyapeq, dirinya berharap acara-acara di kampung lainnya, juga mulai mementaskan musik sapeq
"Harapan saya acara-acara seperti perkawinan itu segala macamnya dominan sapeq janganlah elekton terus. Bukannya melarang, bolehlah ada dikit-dikit juga. Tetapi jangan meninggalkan musik sapeq kita," tutupnya. (riz)
Editor : Muhammad Rizki