Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Rumah Sakit GSM Mahakam Ulu Berusaha Naik Kelas , Menunggu Peningkatan Status dan Sertifikat Lahan

Jody Kristianto • Kamis, 24 Oktober 2024 | 06:05 WIB
Kadis Kesehatan dr Petronela Tugan membacakan laporan pada peresmian UTD, Rabu (23/10). (Foto: Jody/KP)
Kadis Kesehatan dr Petronela Tugan membacakan laporan pada peresmian UTD, Rabu (23/10). (Foto: Jody/KP)

KALTIMPOST.ID, UJOH BILANG – Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mahakam Ulu dan Plt Direktur Rumah Sakit Gerbang Sehat Mahulu (GSM), dr Patronela Tugan, mengungkapkan perkembangan terbaru terkait rumah sakit GSM yang telah berdiri sejak Mei 2018.

Saat ini, rumah sakit tersebut telah berusia 6 tahun, namun masih berstatus sebagai rumah sakit pratama atau rumah sakit perintis.

Sejak 2023, berbagai upaya telah dilakukan untuk menaikkan kelas rumah sakit GSM. Namun, proses tersebut menghadapi beberapa kendala, seperti masalah perizinan, akreditasi rumah sakit, serta sertifikasi lahan.

Pada Oktober lalu, Rumah Sakit GSM akhirnya berhasil memperoleh akreditasi pada tanggal 7-8 Oktober dengan predikat "Utama", sementara Rumah Sakit NDD juga berhasil terakreditasi pada 1-2 Oktober dengan predikat "Paripurna".

"Kami saat ini masih menunggu sertifikat lahan dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kutai Barat. Dalam pertemuan dengan biro ortal provinsi di Balikpapan pada 9 Oktober 2024, disampaikan bahwa kenaikan status dari kelas B pratama ke kelas B umum memerlukan naskah akademik untuk diterbitkan peraturan daerah terkait perubahan status tersebut," jelas dr Patronela pada acara peresmian UTD di RS GSM, Rabu (23/10).

Beliau juga berharap dukungan dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan pemangku kepentingan terkait untuk mempercepat proses ini, mengingat peningkatan kelas rumah sakit akan berdampak besar pada perubahan manajemen serta sistem pelayanan, termasuk peningkatan pelayanan BPJS yang disesuaikan dengan status rumah sakit.

Sementara itu, dr Patronela juga menyoroti keterbatasan tenaga spesialis di RS GSM. Saat ini, rumah sakit tersebut hanya memiliki satu dokter spesialis penyakit dalam yang dikirim melalui program PDGS dari Kementerian Kesehatan.

Kondisi ini menyebabkan tingginya angka rujukan pasien ke rumah sakit lain, terutama ke RSUD HIS Kutai Barat.

"Kesulitan mendapatkan dokter spesialis sesuai kebutuhan sangat dipengaruhi oleh status rumah sakit yang masih menggunakan sistem kapitasi. Sistem ini menyebabkan remunerasi tenaga medis, terutama dari BPJS, menjadi kurang kompetitif dibandingkan dengan puskesmas," ungkapnya.

Untuk mengatasi tantangan ini, RS GSM telah membentuk tim pengelola rujukan guna menyelesaikan permasalahan rujukan pasien. Selain itu, dua dokter spesialis dari RS HIS Kutai Barat akan memberikan pelayanan melalui telemedicine sebagai bagian dari perjanjian kerja sama antara kedua rumah sakit. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi angka rujukan dan meningkatkan kapasitas pelayanan di RS GSM.

Selain itu, rumah sakit juga berupaya segera mengaktifkan Unit Transfusi Darah (UTD) atau bank darah untuk menjamin ketersediaan darah dalam keadaan darurat. Dengan peralatan modern yang tersedia, proses screening darah yang biasanya memakan waktu hingga 9 jam kini dapat dipercepat menjadi 4 jam. Hal ini akan meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam menangani kasus-kasus darurat.

"Kami berharap gedung UTD ini bisa segera diresmikan dan dioperasikan, sehingga dapat mengoptimalkan pelayanan kesehatan di RS GSM," pungkas dr. Patronela. (*)

Editor : Thomas Priyandoko
mahulu Pemkab Mahulu Mahakam Ulu