KALTIMPOST.ID-Pemkab Mahakam Ulu (Mahulu) mengimbau pedagang di wilayah terdampak kekeringan dan krisis distribusi pangan agar tidak memanfaatkan situasi dengan menaikkan harga secara berlebihan.
Seruan itu disampaikan Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra Sekkab Mahulu drg Agustinus Teguh Santoso, menyikapi lonjakan harga bahan pokok di sejumlah kampung di Kecamatan Long Pahangai dan Long Apari.
“Kami harap pedagang ikut memerhatikan kondisi masyarakat. Jangan menaikkan harga secara frontal hanya karena situasi sulit ini. Kalau stoknya didapat sebelum sungai surut, sebaiknya dijual dengan harga lama. Kalau memang ada tambahan biaya transportasi, kami bisa pahami, tapi harus tetap wajar,” ujar Teguh, Jumat (25/7).
Ia mengakui bahwa kondisi distribusi pangan di tengah musim kering memang mempersulit akses logistik ke wilayah perbatasan.
Namun, pemerintah daerah telah berupaya keras menjembatani kebutuhan masyarakat dengan menyalurkan bantuan dari Bulog dan menyiapkan pengiriman darat untuk wilayah yang tidak bisa dijangkau jalur air.
Diketahui ada sekitar 1.044 orang menerima beras sebanyak 10 kilogram per bulan, selama dua bulan sehingga disalurkan 20.880 kilogram.
“Pemerintah tidak tinggal diam. Kita sudah kirim bantuan beras ke wilayah hilir, dan saat ini sedang diupayakan ke wilayah hulu menggunakan armada darat,” tegasnya.
Sementara itu, harga kebutuhan pokok di Kampung Long Kerioq saat ini melonjak signifikan.
Berdasarkan laporan lapangan yang diterima Pemkab Mahulu, harga beras cap Kura-Kura mencapai Rp 1.000.000 per karung berat 25 kilogram dan beras merek Mawar dijual Rp 750.000 per karung.
Gula pasir dibanderol Rp 28.000 hingga Rp 30.000 per kilogram, minyak goreng Bimoli kemasan 5 liter berkisar antara Rp 230.000 hingga Rp 250.000 bergantung merek.
Kopi Kapten dijual Rp 18.000 per bungkus, gas elpiji 12 kg berada di kisaran harga Rp 700.000 hingga Rp 800.000, dan gas ukuran kecil Rp 220.000.
Harga bahan bakar minyak jenis Pertalite dijual Rp 25.000 hingga Rp 30.000 per liter. Sementara mi instan satu dus mencapai Rp 180.000 hingga Rp 200.000, bergantung toko yang menjual.
Teguh menyebut, tingginya harga tersebut disebabkan oleh kendala distribusi akibat surutnya air sungai dan mahalnya biaya transportasi alternatif lewat darat.
“Mungkin kalau dulu sehari bisa sampai, sekarang harus bermalam atau bahkan diangkut bertahap. Tapi kami minta jangan ada yang manfaatkan situasi ini untuk memperkaya diri sendiri. Pemerintah tetap bergerak cepat untuk menyalurkan bantuan,” ujarnya.
Pemkab Mahulu juga tengah berkoordinasi dengan BMKG dan BPBD untuk memantau kemungkinan menetapkan kondisi itu sebagai bencana kekeringan.
Jika status bencana ditetapkan, maka dana belanja tidak terduga (BTT) bisa segera digunakan untuk membantu masyarakat.
“Kami terus pantau perkembangan cuaca. Kalau BMKG prediksi dua minggu ke depan tetap kering, maka kita harus segera realisasikan bantuan lewat SOA dan BTT,” tutup Teguh. (*/sya/rd)
Editor : Romdani.