Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Dari Ladang ke Kandang, Ujoh Bilang Menjahit Kemandirian Pangan

Jody Kristianto • Sabtu, 6 September 2025 | 15:21 WIB
PRODUKTIF: Anggota Poktan Subur Makmur memanen telur secara rutin tiap hari di kandang seribu ayam.
PRODUKTIF: Anggota Poktan Subur Makmur memanen telur secara rutin tiap hari di kandang seribu ayam.

KALTIMPOST.ID, UJOH BILANG – Dari sebuah kampung di jantung Mahakam Ulu, cerita baru tentang kemandirian pangan mulai ditulis. Petinggi Kampung Ujoh Bilang, Romensius Kuleh, tak lelah mendorong warganya untuk bergerak bersama di jalur pertanian terpadu. Baginya, inilah jalan terbaik agar petani Dayak bisa bertahan di tengah tantangan zaman.

“Sudah ada lima kelompok yang menandatangani nota kesepakatan. Ada kelompok ikan, kelompok sawah, juga kelompok perkebunan kakao. Jadi semuanya berkelompok dan kita dampingi bersama,” kata Romensius.

Romensius paham betul, mahalnya biaya produksi dan keterbatasan SDM adalah tembok besar yang kerap menghambat petani Mahulu. Karena itu, ia memilih konsep pertanian terpadu. Di dalamnya, setiap unsur saling menghidupi.

Jagung yang dipanen, jadi pakan untuk ayam, kambing, dan sapi. Sebaliknya, kotoran ternak kembali menyuburkan jagung dan sayuran. “Dengan pola ini, biaya produksi bisa ditekan,” ujarnya yakin.

Tak berhenti di situ, pemerintah kampung tengah menyiapkan lahan untuk Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S). Wadah ini dirancang sebagai rumah belajar petani lokal, agar mereka bisa beralih dari pola ladang tradisional menuju pertanian modern.

“Kita sudah siapkan lahan untuk training center. Nantinya kelompok tani kita arahkan ke sana. Kami juga sudah komunikasi dengan perguruan tinggi dan lembaga riset, mereka siap membantu kalau wadah itu ada,” terang Romensius.

Di antara kelompok tani yang kini tumbuh, Subur Makmur jadi cerita yang menonjol. Dipimpin Nor Ali, kelompok ini berdiri pada 2021. Awalnya hanya menggarap sayuran dan sawah, kini mereka telah bertransformasi menjadi pionir pertanian terpadu.

“Di sini kita konsep dengan sistem pertanian terpadu. Jadi ada ayam, bebek, kambing, sayur-mayur, jagung, sampai padi. Semua saling terhubung,” jelas Nor Ali.

Limbah padi diolah kembali jadi pakan, sementara kotoran ayam dijadikan pupuk. Dari satu kandang berisi 1.000 ayam petelur, kelompok ini mampu menghasilkan hingga 900 butir telur per hari. Omzet mereka menembus Rp15 juta per bulan.

“Sekarang kami lagi siapkan kandang kedua. Harapannya bisa tambah kapasitas, biar kebutuhan telur di Mahulu bisa dipenuhi dari sini,” tambahnya.

Nor Ali mengakui, perjalanan Subur Makmur tak akan sejauh ini tanpa dukungan pemerintah desa, Polres Mahulu, dan belakangan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP). “Dari awal, petinggi kampung yang paling banyak membantu. Semua keluhan kami ditampung dan difasilitasi,” tuturnya.

Langkah Subur Makmur juga tak luput dari perhatian DPRD Mahakam Ulu. Ketua DPRD Devung Paran menilai keberhasilan kelompok ini bisa menjadi titik awal kemandirian pangan daerah.

“Tentunya kami sangat apresiasi sekali. Karena tadi kita sudah mendengar bahwa sudah memenuhi kebutuhan 10–15 persen kebutuhan telur di Kabupaten Mahulu,” kata Devung.

Ia berharap, semangat Subur Makmur menular ke kelompok tani lain. Mahulu tak boleh terus bergantung pada pasokan dari luar daerah. “Semoga ini jadi inspirasi. Kita juga harus mewujudkan swasembada pangan di tingkat kabupaten,” tegasnya.

Kembali, bagi Romensius, apa yang dikerjakan kelompok tani di Ujoh Bilang hanyalah awal. Dengan adanya P4S nanti, ia ingin Mahulu punya pusat pengetahuan yang setara dengan Lembang di Jawa Barat atau Buleleng di Bali. Dari sanalah, bibit-bibit pengetahuan bisa ditanam dan ditularkan ke kampung lain.

“Dengan adanya pusat pelatihan, masyarakat akan terbimbing bagaimana cara berkebun yang benar. Kita di Mahulu juga harus punya,” pungkasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#perkebunan #pertanian #peternakan #Mahakam Ulu #kemandirian pangan #telur #kelompok