KALTIMPOST.ID, LONG PAHANGAI–Wakil Bupati Mahakam Ulu, Suhuk, mewakili Bupati Angela Idang Belawan, secara resmi membuka Pagelaran Hudoq Pekayang di Kampung Liu Mulang, Kecamatan Long Pahangai, Senin (20/10).
Dalam sambutan Bupati Angela Idang Belawan yang dibacakan Suhuk, dia menyampaikan bahwa Hudoq Pekayang merupakan wujud syukur masyarakat Dayak Bahau kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, sekaligus bentuk penghormatan terhadap para leluhur.
“Tradisi Hudoq Pekayang adalah ekspresi spiritual dan budaya masyarakat Dayak Bahau yang menandai rasa syukur atas hasil panen yang berlimpah. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi simbol kebersamaan, keharmonisan, dan penghormatan terhadap alam,” ucapnya.
Menurutnya, pelaksanaan Hudoq Pekayang menjadi momentum penting memperkuat nilai-nilai kebersamaan di tengah dinamika zaman yang sarat dengan modernisasi dan kemajemukan sosial. Dia menilai kegiatan budaya itu sangat tepat dan inspiratif.
“Tepat, karena Mahulu sebagai Bumi Urip Kerimaan adalah rumah bagi masyarakat multikultural yang hidup berdampingan, dalam keberagaman suku, bahasa, dan tradisi. Inspiratif, karena Hudoq Pekayang menumbuhkan nilai-nilai kearifan lokal dan memperkuat ketahanan sosial budaya di tengah perubahan global,” ujar Suhuk.
Nilai-nilai dalam pagelaran itu sejalan dengan visi keempat Mahulu Melaju, yakni mewujudkan ketahanan sosial masyarakat dan budaya berbasis kearifan lokal dalam tatanan masyarakat yang aman, nyaman, dan inklusif, serta berkolaborasi dalam menunjang Ibu Kota Negara (IKN).
Selain melestarikan budaya leluhur, Hudoq Pekayang juga dinilai berperan penting dalam mendorong pembangunan daerah, khususnya pada pengembangan pariwisata dan industri kreatif. “Tradisi itu membuka peluang ekonomi baru melalui produk-produk kreatif, kerajinan tangan, kuliner khas, hingga pertunjukan budaya yang dapat menarik wisatawan dari dalam maupun luar daerah,” jelasnya.
Suhuk menambahkan, arah pembangunan Mahulu tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga pada ketahanan sosial dan budaya sebagai infrastruktur moral. “Budaya adalah ruh pembangunan. Tanpa budaya, kemajuan hanya akan menjadi angka tanpa jiwa,” tegasnya.
Kepada generasi muda, dia berpesan agar terus menjaga dan mengembangkan kebudayaan lokal. “Kalianlah pewaris dan penjaga kebudayaan ini. Jadikan budaya sebagai sumber kekuatan moral dan karakter, sekaligus identitas yang membedakan kita di tengah arus globalisasi,” ujarnya.
Mengakhiri sambutannya, Suhuk mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan momentum Hudoq Pekayang sebagai sarana memperkuat rasa syukur, mempererat persaudaraan, dan meneguhkan tekad menjaga warisan leluhur. Dia berharap tradisi itu terus lestari dan menjadi daya tarik wisata budaya unggulan di Mahulu. (*)
Editor : Dwi Restu A