KALTIMPOST.ID, UJOH BILANG – Wakil Bupati Mahakam Ulu, Suhuk, meluruskan informasi terkait isu kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang belakangan beredar di masyarakat.
Ia menegaskan bahwa keterlambatan distribusi BBM di Mahulu dipengaruhi oleh kendala akses dan perizinan angkutan di luar wilayah Mahulu.
Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati Suhuk saat diwawancarai usai pembukaan Sosialisasi Penyusunan Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) di Ballroom Lantai 3 Sekretariat Kabupaten Mahakam Ulu, Senin (26/1).
Menurutnya, kondisi cuaca kemarau turut berdampak pada akses distribusi BBM ke Mahulu, khususnya melalui jalur sungai. Selain itu, persoalan angkutan BBM yang sempat diberitakan sebelumnya sebenarnya terjadi di wilayah Kota Samarinda.
“Permasalahan itu bukan di tempat kita. Informasinya, dari Dinas Perhubungan Samarinda meminta penyesuaian kembali terkait izin angkutan mereka,” jelasnya.
Ia menyebutkan bahwa terdapat proses administrasi yang harus dilalui oleh pihak angkutan, sehingga operasional distribusi BBM sempat mengalami keterlambatan akibat izin yang belum rampung.
Terkait kondisi di Mahulu, Wakil Bupati Suhuk mengaku belum menerima laporan resmi mengenai kelangkaan BBM. Namun, berdasarkan laporan sementara dari lapangan, keterlambatan pasokan disebabkan kapal pengangkut BBM yang masih tertahan di wilayah hilir akibat kondisi perairan.
“Kapalnya masih tertahan di hilir, bukan karena faktor lain,” ujarnya.
Meski demikian, kondisi di lapangan menunjukkan BBM mulai sulit diperoleh masyarakat. Seorang warga Ujoh Bilang, Kuleh, mengungkapkan bahwa BBM di tingkat pengecer saat ini sulit didapat dan harganya mengalami kenaikan.
“Di eceran juga susah didapat. Kemarin harganya sampai Rp 20 ribu per liter,” kata Kuleh.
Ia mengaku terpaksa membeli BBM dengan harga mahal karena kebutuhan sehari-hari, meski harus menunggu ketersediaan di pengecer.
“Karena kebutuhan, berapa pun harganya terpaksa harus beli, atau ya menunggu sampai ada yang jual,” ujarnya.
Kuleh juga menyebutkan bahwa antrean di pengecer cukup panjang dan pembelian BBM dibatasi.
“Tadi suasana antre di pengecer, dan itu pun dibatasi. Untuk motor hanya boleh beli dua liter,” ungkapnya.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Bupati Suhuk meminta para penyedia BBM di Mahulu untuk menyiapkan langkah antisipasi dan alternatif distribusi, terutama saat kondisi sungai surut.
“Kalau angkutan sawit saja bisa menggunakan jalur darat, seharusnya BBM juga bisa dicarikan alternatif. Kalau sungai surut, angkutan darat bisa dijalankan,” tegasnya.
Wakil Bupati berharap koordinasi antara penyedia BBM dan pihak terkait dapat diperkuat agar distribusi energi di Mahulu tetap berjalan lancar dan kebutuhan masyarakat tidak terganggu. (*)
Editor : Duito Susanto