KALTIMPOST.ID, UJOH BILANG – Ketua Komisi II DPRD Mahakam Ulu, Gohen Merang Sapulete, mengapresiasi keberhasilan Kampung Lutan dalam mengembangkan program ketahanan pangan yang mengintegrasikan budidaya jagung dan peternakan ayam petelur.
Menurutnya, model usaha tersebut layak menjadi contoh bagi kampung lain karena mampu menciptakan sumber pendapatan yang jelas dan berkelanjutan.
Hal itu disampaikan Gohen saat ditemui di kediamannya, Sabtu (13/6), usai menghadiri panen jagung bisi di Kampung Lutan bersama Kapolres Mahakam Ulu AKBP Eko Alamsyah, pemerintah kampung, kelompok tani, BUMKa, dan tokoh masyarakat.
Baca Juga: Piala Dunia di Stadion Levi’s, Ribuan Kursi Kosong Mewarnai Laga Imbang Qatar vs Swiss
Menurut Gohen, salah satu keunggulan program tersebut adalah keterpaduan antara sektor pertanian dan peternakan. Jagung yang dipanen tidak hanya dijual sebagai komoditas, tetapi juga dimanfaatkan sebagai bahan baku utama pakan ayam petelur yang dikelola kampung.
“Kami melihat program ini sudah memiliki tujuan yang jelas. Jagung yang ditanam langsung mendukung usaha ayam petelur sehingga ada kesinambungan antara produksi dan pemanfaatannya. Ini yang membuat program seperti ini memiliki peluang berkembang lebih besar,” ujarnya.
Sementara itu, Petinggi Kampung Lutan Sukarni menjelaskan, pengembangan jagung dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pakan ayam petelur yang saat ini berjumlah sekitar 1.000 ekor dan ditargetkan meningkat menjadi 4.000 ekor.
Menurutnya, sekitar 50 persen komposisi pakan ayam petelur berasal dari jagung, sedangkan sisanya merupakan campuran dedak dan konsentrat. Karena itu, produksi jagung menjadi faktor penting dalam menekan biaya operasional peternakan.
“Awalnya kami membuka lahan jagung untuk memenuhi kebutuhan pakan ayam petelur sendiri. Tahun lalu kami mulai menanam sekitar dua hektare dan mampu memenuhi sekitar 50 persen kebutuhan pakan secara mandiri,” kata Sukarni saat dihubungi.
Saat ini Kampung Lutan mengembangkan lahan jagung seluas sekitar delapan hektare. Berdasarkan hasil uji coba sebelumnya, produktivitas jagung mampu mencapai rata-rata 6 hingga 8 ton per hektare, meski kondisi tanah di Mahakam Ulu memerlukan pengolahan dan pemupukan yang lebih intensif.
Baca Juga: Diikuti Delapan Daerah, Kejurprov Junior Bola Tangan Resmi Bergulir
Menurut Sukarni, strategi memproduksi pakan secara mandiri terbukti mampu menjaga keberlangsungan usaha peternakan di tengah fluktuasi harga pakan dan telur.
Jika harga pakan dari luar daerah mencapai sekitar Rp500 ribu per karung, pakan racikan sendiri hanya berkisar Rp220 ribu hingga Rp320 ribu per karung.
Selain mengembangkan peternakan ayam petelur, Kampung Lutan juga memproduksi telur biasa dan telur omega yang dipasarkan ke berbagai wilayah sekitar.
Telur biasa dijual sekitar Rp58 ribu per rak, sedangkan telur omega dipasarkan dengan harga Rp60 ribu hingga Rp62 ribu per rak, tergantung ukuran.
Berkat integrasi usaha pertanian dan peternakan tersebut, Kampung Lutan berhasil membukukan omzet sekitar Rp400 juta pada 2025. Tahun ini, pemerintah kampung menargetkan omzet meningkat hingga menembus Rp1 miliar seiring penambahan populasi ayam petelur menjadi sekitar 4.000 ekor dan perluasan lahan jagung.
Target tersebut mendapat perhatian khusus dari Gohen. Menurutnya, capaian omzet ratusan juta rupiah yang telah diraih menjadi bukti bahwa program tersebut memiliki prospek ekonomi yang nyata.
“Ketika sebuah kampung sudah mampu menghasilkan omzet ratusan juta rupiah dari usaha yang dikelola sendiri dan bahkan menargetkan hingga Rp1 miliar, ini menunjukkan bahwa program tersebut berjalan dengan baik dan memiliki masa depan yang menjanjikan,” katanya.
Baca Juga: Gol Telat Khoukhi Paksa Swiss Berbagi Angka, Qatar Raih Poin Bersejarah
Gohen menegaskan, Komisi II DPRD Mahakam Ulu siap memberikan dukungan terhadap pengembangan usaha produktif yang dilakukan Kampung Lutan, baik melalui kebijakan, dukungan program pemerintah, maupun membuka peluang kemitraan dengan pihak swasta dan investor.
“Kami siap membantu mencarikan solusi terhadap berbagai kendala yang dihadapi. Bahkan jika diperlukan, kami bisa membantu menjembatani kerja sama dengan investor atau mitra usaha yang tertarik mengembangkan potensi yang ada di Kampung Lutan,” ujarnya.
Menurutnya, Kampung Lutan memiliki daya tarik tersendiri bagi investor karena usaha yang dijalankan telah memiliki fondasi yang kuat.
“Investor tentu lebih tertarik pada usaha yang sudah berjalan. Di Kampung Lutan sudah ada lahan, sudah ada produksi jagung, sudah ada peternakan ayam petelur, dan pasarnya juga sudah terbentuk. Tinggal memperkuat dan memperbesar skala usahanya,” jelas Gohen.
Selain sektor pertanian dan peternakan, Gohen juga melihat potensi besar Kampung Lutan di bidang pariwisata. Dalam kunjungan tersebut, rombongan diajak melihat kawasan wisata pondok rekreasi keluarga hingga objek wisata jantur atau air terjun yang berada di wilayah kampung tersebut.
Menurutnya, jika sektor wisata, pertanian, dan peternakan dikembangkan secara bersamaan, dampak ekonomi yang dihasilkan akan semakin besar, mulai dari peningkatan pendapatan kampung, tumbuhnya UMKM, hingga terciptanya lapangan kerja baru bagi masyarakat.
“Yang saya lihat, Kampung Lutan tidak hanya membangun ketahanan pangan, tetapi juga mulai membangun ekonomi kampung secara menyeluruh. Jika terus didukung dan dikembangkan, saya yakin ini bisa menjadi contoh bagi kampung-kampung lain di Mahakam Ulu,” pungkasnya. (*)
Editor : Ery Supriyadi