Saat berkunjung ke Kampung Lutan beberapa waktu lalu, Gohen melihat langsung berbagai unit usaha yang telah dikembangkan pemerintah kampung di bawah kepemimpinan Sukarni. Menurutnya, yang dilakukan Kampung Lutan menjadi contoh bagaimana potensi kampung dapat dikelola secara terintegrasi untuk menghasilkan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Yang menarik dari Kampung Lutan ini bukan hanya pertaniannya, tetapi bagaimana semua sektor usaha saling mendukung. Ada jagung, ayam petelur, UMKM, sampai wisata yang sudah berjalan. Ini menunjukkan adanya perencanaan yang baik dari pemerintah kampung,” ujar Gohen saat ditemui baru-baru ini.
Sementara itu, Sukarni menjelaskan bahwa BUMK menjadi pusat hilirisasi seluruh produk unggulan yang dihasilkan masyarakat Kampung Lutan. Mulai dari hasil kebun sayur, peternakan ayam petelur hingga produk olahan seperti keripik singkong dan keripik pisang dikelola melalui BUMK agar memiliki nilai tambah yang lebih besar.
Selain mengelola usaha produktif, BUMK juga menaungi pengembangan wisata Rumah Bambu yang menjadi salah satu destinasi unggulan Kampung Lutan. Menurut Sukarni, wisata tersebut sempat ditutup untuk umum karena sedang mengikuti penilaian lomba desa wisata. Meski belum meraih hasil maksimal akibat kendala teknis saat presentasi, pihaknya tetap optimistis untuk terus mengembangkan destinasi tersebut.
Baca Juga: Komisi II DPRD Mahulu Apresiasi Kampung Lutan, Bidik Omzet Rp1 Miliar
“Kami tetap semangat melakukan pembenahan. Rencananya dalam waktu dekat wisata ini akan kembali dibuka untuk umum,” kata Sukarni. Ia menjelaskan, konsep wisata Rumah Bambu tidak hanya sebagai tempat rekreasi, tetapi juga sebagai ruang berkumpul masyarakat dan lokasi kegiatan berbagai instansi.
Di kawasan tersebut tersedia sejumlah pondok dan bilik yang dapat disewa pengunjung untuk beristirahat maupun menginap. Selain itu, kawasan wisata juga dilengkapi panggung bambu yang dapat digunakan untuk rapat, diskusi, pelatihan maupun kegiatan komunitas.
“Tujuan kami bukan hanya menghadirkan tempat wisata, tetapi juga menyediakan ruang bagi masyarakat untuk melepas penat dan tempat untuk berbagai kegiatan,” ujarnya. Sukarni mengungkapkan, saat uji coba pembukaan wisata pada akhir 2024 lalu, antusiasme masyarakat cukup tinggi.
Dalam satu malam, pendapatan yang diperoleh mampu mencapai Rp3 juta hingga Rp6 juta. Ke depan, pengelolaan wisata akan menggunakan sistem bagi hasil yang melibatkan pekerja, pengelola modal dan BUMK, sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat kampung.
Ketua Komisi II DPRD Mahakam Ulu, Gohen Merang Sapulete, menilai wisata yang dibangun Kampung Lutan memiliki prospek yang menjanjikan karena mampu menciptakan efek berganda bagi perekonomian masyarakat.
“Kami melihat wisata yang dibangun cukup menarik. Ketika pengunjung datang, bukan hanya pengelola wisata yang mendapatkan manfaat, tetapi juga UMKM dan masyarakat sekitar karena akan ada kebutuhan makanan, minuman dan berbagai layanan lainnya,” katanya. Menurut Gohen, keberadaan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) yang aktif serta dukungan pemerintah kampung menjadi modal penting untuk mengembangkan sektor pariwisata di Kampung Lutan.
Ia juga menilai potensi wisata alam di wilayah Kampung Lutan, termasuk kawasan jantur atau air terjun yang berada di sekitar kampung, dapat menjadi daya tarik tambahan apabila didukung promosi dan infrastruktur yang memadai.
“Kampung Lutan memiliki potensi yang lengkap. Tinggal bagaimana pengembangannya terus didorong dan dipromosikan agar semakin dikenal masyarakat luas,” ujarnya.
Gohen menegaskan, DPRD Mahakam Ulu siap mendukung pengembangan usaha dan pariwisata yang telah dirintis Pemerintah Kampung Lutan, termasuk membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak guna mempercepat pertumbuhan ekonomi kampung.
“Yang dilakukan Pak Sukarni dan masyarakat Kampung Lutan ini patut diapresiasi karena mampu memanfaatkan potensi yang ada menjadi sumber penghasilan dan peluang kerja bagi masyarakat,” pungkasnya. (riz)
Editor : Muhammad Rizki