Petinggi Kampung Sirau Prioritaskan Penyelesaian Batas Wilayah dan Pengembangan Wisata, DPRD Mahulu Siap Mengawal

Jody Kristianto • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 14:02 WIB
WILAYAH: Ketua Komisi II DPRD Mahulu Gohen Merang Sapulete dan Petinggi Kampung Sirau Weli Broldus Huvat, Sabtu (25/7). (JODY KRISTIANTO/KP)
WILAYAH: Ketua Komisi II DPRD Mahulu Gohen Merang Sapulete dan Petinggi Kampung Sirau Weli Broldus Huvat, Sabtu (25/7). (JODY KRISTIANTO/KP)

KALTIMPOST.ID, UJOH BILANG – Petinggi Kampung Sirau, Weli Broldus Huvat, menegaskan penyelesaian persoalan batas wilayah menjadi prioritas utama pemerintah kampung pada masa kepemimpinannya. Hal itu disampaikannya usai menghadiri acara syukuran di Kampung Sirau, Sabtu (25/7).

Weli mengatakan, sejak awal mencalonkan diri sebagai petinggi, dirinya telah berkomitmen menyelesaikan persoalan tapal batas yang hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah. Menurutnya, kepastian batas wilayah sangat penting untuk mendukung pembangunan dan menghindari potensi persoalan di kemudian hari.

"Yang paling krusial saat ini adalah batas Kampung Sirau dengan Kampung Lutan, kemudian dengan Long Gelawang, serta Long Hubung. Selama ini persoalan batas itu belum tuntas, sehingga menjadi prioritas utama yang akan kami selesaikan," ujarnya.

Baca Juga: Lantik 57 Pengurus Baru, Pemkab Mahulu Syaratkan BAMAGNAS Jadi Rumah Bersama Lintas Gereja!

Selain batas wilayah, ia juga menyoroti pentingnya pembenahan administrasi kampung, terutama data kependudukan. Menurutnya, sistem administrasi yang tertata akan menjadi dasar dalam penyusunan program pembangunan.

"Saya melihat sampai sekarang data kependudukan kita belum tertata dengan baik. Ke depan kami ingin ada data yang jelas mengenai jumlah penduduk, data kelahiran, pendatang, dan lainnya seperti yang sudah diterapkan di beberapa kampung lain," katanya.

Tak hanya itu, penataan ruang kampung juga akan menjadi fokus pemerintahannya agar arah pembangunan lebih terencana dan mampu mendukung kebutuhan masyarakat dalam jangka panjang.

Baca Juga: Lantik 24 Petinggi Baru, Ketua DPRD Mahulu Devung Paran Siap Pasang Badan Kawal Aspirasi Kampung!

Weli juga memandang pengembangan sektor pariwisata memiliki peluang besar untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Namun, ia menilai pengelolaannya harus dilakukan melalui kolaborasi dengan kampung-kampung tetangga.

Salah satu potensi yang akan didorong adalah kawasan Air Terjun Pedat Biah. Menurutnya, objek wisata tersebut memiliki daya tarik, tetapi akses menuju lokasi harus melewati wilayah Kampung Lutan dan Datah Bilang.

"Karena aksesnya melintasi kampung tetangga, tentu pengembangannya harus dilakukan bersama. Kita ingin membangun kerja sama lintas kampung agar wisata ini bisa berkembang dan memberikan manfaat bagi semua," jelasnya.

Selain air terjun, Weli juga menilai Pulau Karamat memiliki nilai sejarah dan religi yang dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata budaya.

Ia menjelaskan, berdasarkan cerita yang diwariskan para orang tua terdahulu, pulau tersebut diyakini menjadi lokasi pemakaman seorang habib sehingga hingga kini masih sering dikunjungi masyarakat untuk berziarah dan berdoa.

"Pulau Karamat ini punya nilai sejarah dan kepercayaan yang masih dijaga masyarakat. Ke depan tentu perlu dipikirkan fasilitas pendukung, seperti tempat beristirahat atau sarana lainnya, agar kawasan ini bisa lebih tertata tanpa menghilangkan nilai budaya dan sejarahnya," tutup Weli.

Sementara itu, Ketua Komisi II DPRD Mahakam Ulu, Gohen Merang Sapulete, menyatakan pihaknya siap mengawal aspirasi masyarakat terkait pengembangan kawasan wisata lintas kampung tersebut. Menurutnya, keberadaan Air Terjun Pedat Biah yang berada pada jalur penghubung Kampung Sirau, Lutan, dan Datah Bilang merupakan potensi yang harus dikembangkan secara bersama-sama.

"Seperti yang disampaikan Pak Petinggi Sirau, memang ada jantur yang menghubungkan ketiga kampung itu. DPRD siap memperjuangkan aspirasi masyarakat agar potensi wisata ini dapat berkembang sehingga roda perekonomian di ketiga kampung bisa bergerak," katanya.

Gohen menilai, jika dikelola dengan baik, kawasan wisata tersebut tidak hanya membuka lapangan pekerjaan baru, tetapi juga menjadi sumber pendapatan bagi kampung. Menurutnya, pemerintah kampung perlu menyusun mekanisme pengelolaan bersama, sementara pemerintah daerah memberikan dukungan melalui pembangunan infrastruktur, pembinaan tata kelola, hingga proses registrasi objek wisata ke Dinas Pariwisata.

"Kami di DPRD siap membantu mendorong agar wisata di Sirau ini bisa diberdayakan oleh pemerintah kampung maupun pemerintah kabupaten. Dengan begitu manfaat ekonominya benar-benar dirasakan masyarakat," ujarnya.

Ia juga menyoroti potensi Pulau Karamat yang selama ini telah dikenal masyarakat sebagai lokasi ziarah. Menurut Gohen, keberadaan situs tersebut telah lama menarik kunjungan masyarakat, bahkan dari luar Mahakam Ulu.

"Kalau Pulau Karamat ini bisa dikelola dengan baik, mulai dari infrastruktur, pemberdayaan UMKM, hingga penyediaan fasilitas pendukung, tentu akan menjadi daya tarik wisata religi yang lebih baik. DPRD siap menyampaikan aspirasi itu kepada pemerintah agar mendapat dukungan," katanya.

Gohen menambahkan, pengelolaan wisata yang profesional akan memberikan manfaat luas bagi daerah. Selain menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat Kampung Sirau, sektor pariwisata juga berpotensi meningkatkan pendapatan asli kampung (PAK) maupun menjadi sumber pendapatan bagi Kabupaten Mahakam Ulu di masa mendatang.

"Kalau potensi ini benar-benar dimanfaatkan, bukan hanya masyarakat yang merasakan dampaknya, tetapi juga akan menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah ke depan," pungkasnya. (*)

Editor : Duito Susanto
DPRD Mahulu potensi wisata pendapatan asli daerah batas wilayah Mahakam Ulu