KALTIMPOST.ID, UJOH BILANG – Persoalan distribusi tidak hanya terjadi pada BBM. Jalur Sungai Mahakam merupakan urat nadi transportasi berbagai kebutuhan masyarakat Mahulu, termasuk bahan pangan dan barang kebutuhan lainnya.
Informasi yang dihimpun di lapangan menyebutkan kapal angkutan barang saat ini hanya mampu melayani perjalanan hingga Melak. Hingga Kamis (13/8), belum ada informasi keberangkatan kapal barang dari Samarinda menuju wilayah hulu.
Baca Juga: KONI Kaltim Kaji Alternatif Hindari Pemangkasan Cabor di Porprov VIII, Nomor Tanding dan Venue Jadi
Kondisi tersebut menjadi gambaran semakin terbatasnya akses logistik menuju Mahulu. Sebelumnya, angkutan sungai dari Samarinda melayani rute menuju kawasan hulu, termasuk Melak hingga Long Bagun.
Jika debit sungai terus menyusut, distribusi logistik berpotensi semakin bergantung pada sistem estafet menggunakan perahu berkapasitas lebih kecil.
Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Kalimantan PT Pertamina Patra Niaga, Edi Mangun menjelaskan, dalam kondisi normal, longboat masih dapat membawa muatan lebih banyak dari Long Bagun menuju Long Pahangai dan Tiong Ohang. Namun, saat air surut, muatan harus dikurangi untuk menghindari risiko kandas, terutama ketika melintasi jeram.
“Kalau kondisi surut, dia tidak bisa lebih berat lagi. Kalau terlalu berat, bisa kandas. Jadi mungkin akan lebih sedikit dia muat, tetapi tetap dilakukan secara estafet,” jelasnya.
Baca Juga: Sungai Mahakam Surut, Distribusi BBM ke Mahulu Harus Estafet
BBM yang sebelumnya dapat diangkut dalam jumlah lebih besar menggunakan kapal harus dibongkar dan dipindahkan ke drum sebelum kembali diangkut dengan perahu. Pola tersebut membuat proses distribusi membutuhkan waktu lebih panjang.
“Kalau normal, longboat bisa membawa muatan lebih banyak. Tetapi sekarang karena banyak bagian sungai yang dangkal dan berisiko kandas, muatannya harus dikurangi,” ujarnya.
Selain melalui sungai, jalur darat mulai dimanfaatkan untuk membantu distribusi BBM ke Mahulu. Namun, kapasitas angkutnya masih terbatas karena kondisi akses jalan menuju wilayah tersebut.
Edi mengatakan kendaraan tangki yang masuk melalui jalur darat tidak dapat membawa muatan dalam jumlah besar. “Kalau mobil tangki, paling banyak satu tangki. Kita tidak bisa kirim yang lebih besar dari 16 ton ke sana karena kondisi jalan,” ungkapnya.
Dengan kondisi tersebut, distribusi BBM ke Mahulu kini membutuhkan kombinasi sejumlah moda transportasi. Kapal digunakan sejauh jalur sungai masih memungkinkan, kemudian BBM dipindahkan ke perahu atau longboat. Sementara itu, jalur darat dimanfaatkan sesuai kapasitas akses yang tersedia.
Baca Juga: Kedapatan Sembunyikan Sabu di Ruang Tamu, Polisi Ringkus Pria 29 Tahun di Tanah Grogot
Pertamina memastikan upaya menjaga pasokan BBM ke Mahulu terus dilakukan. Namun, aspek keselamatan menjadi pertimbangan utama dalam menentukan kapasitas muatan.
“Kita memang berusaha. Cuma kapasitas longboat yang mengangkut juga ada batas safety. Kita tidak bisa memaksakan,” tegas Edi.
Pertamina juga terus melakukan pengecekan terhadap posisi kapal dan kondisi titik-titik sungai yang masih dapat dilalui untuk memastikan proses distribusi menuju wilayah hulu tetap berjalan.
Kondisi ini menjadi perhatian karena BBM merupakan kebutuhan vital masyarakat Mahulu. Selain menopang aktivitas transportasi, pasokan BBM dibutuhkan untuk menggerakkan kegiatan ekonomi, pelayanan publik hingga operasional pembangkit listrik.
Baca Juga: Pemkot dan DPRD Balikpapan Sepakati KUA-PPAS 2027, Pembangunan Dua Rumah Sakit Tembus Rp491 Miliar
Bagi Mahulu yang sangat bergantung pada transportasi sungai, menyusutnya debit Sungai Mahakam bukan sekadar persoalan pelayaran. Jika kondisi tersebut berlanjut, distribusi BBM, sembako, dan kebutuhan dasar masyarakat di wilayah hulu berpotensi semakin berat dan membutuhkan waktu lebih lama untuk sampai ke tujuan. (*)
Editor : Dwi Restu A