KALTIMPOST.ID-Gerakan Pangan Murah (GPM) di Mahakam Ulu (Mahulu) mendapat respons tinggi dari masyarakat.
Komoditas yang disediakan dalam pelaksanaan Rabu (12/8) lalu habis terjual hanya dalam waktu sekitar satu jam.
Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Mahulu mencatat komoditas yang disiapkan mencapai sekitar 3 ton beras.
Terdiri atas 1.000 kilogram beras medium Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta 1.500 kilogram beras premium Bulog. Selain itu, sebanyak 250 liter minyak goreng turut disediakan.
Baca Juga: Cantika Febrianty Siswi SMA 1 Sendawar Kubar Raih Juara I Duta GenRe Kaltim 2026
Kabid Ketersediaan dan Distribusi Pangan DKPP Mahulu Anatolius Bahalan Tigang mengatakan, GPM menjadi salah satu intervensi pemerintah untuk menjaga ketersediaan sekaligus membantu menekan harga bahan pokok.
“Penetrasi kegiatan GPM terhadap bapok yang beredar diharapkan dapat menurunkan harga bapokting tersebut. Karena tujuan intervensi kegiatan ini adalah salah satunya itu,” kata Bahalan, Sabtu (15/8).
Namun, dampaknya terhadap harga pangan dinilai tidak dapat terlihat secara langsung. Terlebih, kondisi kekeringan saat ini memberikan tekanan terhadap harga sejumlah kebutuhan pokok.
“Secara langsung itu agak sulit, hanya perlahan kita harapkan. Apalagi di posisi kondisi kekeringan saat ini, tentunya harga-harga semakin memiliki tren kenaikan yang signifikan,” ujarnya.
Tingginya permintaan terlihat dari cepatnya komoditas terserap. “Bahkan dalam satu jam bahan GPM yang kita jual ludes terjual,” ungkapnya.
DKPP Mahulu selanjutnya menjadwalkan GPM di Kecamatan Long Pahangai pada 22 Agustus.
Sebanyak 5 ton komoditas pangan akan dibawa dalam kegiatan yang mendapat dukungan Bank Indonesia tersebut.
Baca Juga: 25 Putra-Putri Mahulu Dikukuhkan Jadi Paskibraka HUT Ke-81 RI, Siap Bertugas pada 17 Agustus
Di balik tingginya keperluan masyarakat, distribusi menjadi tantangan tersendiri. Komoditas harus dijemput dari Samarinda menuju Ujoh Bilang.
Jangkauan distribusi bahkan dapat berlanjut hingga Long Pahangai maupun Long Apari, bergantung pada lokasi GPM.
“Untuk GPM saat ini memang banyak terkendala di anggaran, khususnya transport karena penjemputan komoditas yang dijual sangat jauh jangkauannya,” katanya.
Karena itu, DKPP berharap rencana keberadaan gudang Bulog di Mahulu dapat menjadi solusi.
Selain memangkas biaya transportasi, gudang tersebut dinilai dapat membuat pelaksanaan GPM lebih sering dilakukan.
“Harapan kami jika gudang Bulog sudah hadir di Mahulu tentu akan menekan biaya dan khususnya periode atau siklus pelaksanaan GPM akan dapat sering kami laksanakan,” jelas Bahalan.
Menurutnya, GPM tetap akan dilaksanakan meski akses jalan dan transportasi Mahulu semakin baik.
Sebab, program tersebut merupakan bagian dari kebijakan pemerintah pusat dan daerah dalam menjaga stabilitas pangan dan mengendalikan inflasi.
Frekuensi pelaksanaannya, kata dia, tetap bergantung pada kemampuan anggaran. Penyaluran komoditas juga mengikuti ketentuan Bulog.
Dalam kondisi tertentu, DKPP bahkan harus memperpanjang penjualan hingga lebih dari tiga hari agar stok tidak perlu dikembalikan ke gudang yang kembali membutuhkan biaya transportasi.
Sementara terkait tingginya harga LPG di wilayah hulu Mahulu, Bahalan menegaskan persoalan tersebut tidak masuk dalam kewenangan DKPP maupun GPM.
“GPM hanya bahan pangan. Untuk energi seperti LPG dapat ditanyakan di perekonomian selaku yang urus perdagangan di Mahulu,” pungkasnya. (rd)
Editor : Romdani.