Air Sungai Mahakam di Mahulu Surut, Begini Cara Distribusi Pangan ke Long Apari yanh Harus Estafet 

Jody Kristianto • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 12:28 WIB

SAMPAI KE WARGA: Wakil Bupati Mahakam Ulu Suhuk bersama Camat Long Apari Petus Ngo saat penyerahan bantuan pangan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur di Kampung Tiong Ohang, Kecamatan Long Apari, Minggu (30/8).

SAMPAI KE WARGA: Wakil Bupati Mahakam Ulu Suhuk bersama Camat Long Apari Petus Ngo saat penyerahan bantuan pangan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur di Kampung Tiong Ohang, Kecamatan Long Apari, Minggu (30/8).

KALTIMPOST.ID, UJOH BILANG – Surutnya debit Sungai Mahakam akibat kemarau mulai menghambat distribusi bahan pangan menuju Kecamatan Long Apari, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu). Pemerintah daerah terpaksa mengombinasikan jalur darat dan sungai untuk memastikan bantuan pangan tetap sampai ke masyarakat.

Wakil Bupati Mahulu Suhuk mengatakan, bantuan pangan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur disalurkan melalui Kampung Tiong Ohang untuk membantu masyarakat di tengah kondisi kemarau.

Baca Juga: IPLT Buluminung Beralih ke PUPR, Segini Tarif Sedot Tinja untuk Sekali Layanan

“Hari ini kita melakukan kegiatan di Kampung Tiong Ohang dalam rangka penyaluran bantuan pangan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur,” kata Suhuk, Minggu (30/8).

Perjalanan menuju wilayah tersebut sekaligus dimanfaatkan pemerintah untuk melihat kondisi infrastruktur jalan. Suhuk menyebut sejumlah titik jalan yang sebelumnya rusak mulai mendapat perbaikan melalui dukungan Pemprov Kaltim.

“Dari pihak Provinsi Kalimantan Timur sudah membantu sehingga beberapa ruas jalan yang kemarin rusak sudah sedikit terbenahi,” ujarnya.

Baca Juga: Daftar Smartphone Terbaru September 2026: Apple, Xiaomi, Vivo hingga Huawei

Namun, perbaikan jalan dinilai masih perlu dilanjutkan. Menurut Suhuk, keberadaan akses darat sangat penting untuk mengantisipasi kondisi ketika jalur sungai tidak dapat digunakan secara optimal.

“Harapan kita ke depan tetap konsisten dari Provinsi Kalimantan Timur untuk membantu. Supaya pada saat terjadi kondisi kemarau seperti ini, kita bisa menggunakan akses jalan,” katanya.

Suhuk mengatakan, kondisi Sungai Mahakam yang terus menyusut berpotensi semakin mengganggu distribusi pangan ke wilayah pedalaman. Pemerintah pun berupaya memastikan bantuan tetap dapat menjangkau masyarakat.

Baca Juga: Layanan Adminduk Kini Hadir di MPP Nusantara, Warga Sepaku Tak Perlu Jauh ke PPU

Dalam penyaluran kali ini, bantuan yang dibawa diperkirakan mencapai sekitar 9 ton. Namun, jumlah tersebut masih perlu dipastikan kembali karena keterbatasan kendaraan pengangkut.

“Terakhir yang kita bawa sekitar 9 ton, cuma saya belum pastikan lagi karena kendaraan kemarin memang terbatas,” jelasnya.

Keterbatasan armada juga dipengaruhi kelangkaan bahan bakar minyak (BBM). Sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) yang sebelumnya direncanakan ikut mengangkut bantuan terpaksa menunda keberangkatan.

“Ada beberapa OPD yang sempat mundur, bukan karena disengaja, karena BBM kemarin agak langka. Akhirnya kita angkut yang bisa mengangkut dulu,” ujarnya.

Baca Juga: 100 Personel Satgas TNI Diterjunkan Cegah Karhutla di Balikpapan

Suhuk memastikan bantuan pangan tidak berhenti pada penyaluran kali ini. Pemerintah daerah masih mengupayakan bantuan berikutnya, termasuk dari pemerintah pusat.

Sebelumnya, bantuan dari pemerintah pusat sekitar 25 truk juga telah diterima di Mahulu. Suhuk berharap dukungan serupa dapat terus diberikan, termasuk untuk masyarakat di kecamatan lain yang menghadapi kendala akses akibat kemarau.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Mahulu FX Lawing menjelaskan, surutnya Sungai Mahakam membuat pengangkutan bantuan tidak bisa sepenuhnya mengandalkan armada sungai.

Baca Juga: Kabut Asap Makin Mengkhawatirkan, Pemkab Kubar Sebar 100 Ribu Masker

Untuk menyiasatinya, pemerintah memanfaatkan kendaraan dari sejumlah OPD. Bantuan diangkut melalui jalur darat hingga Long Lunuk, kemudian dipindahkan ke transportasi sungai untuk melanjutkan perjalanan menuju wilayah yang belum terhubung akses jalan darat.

“Karena kondisi kering, kita tidak bisa menggunakan armada sungai. Barang-barang sembako dari kabupaten kita kondisikan menggunakan kendaraan darat dari beberapa OPD,” kata Lawing.

Dari Long Lunuk, bantuan kemudian diteruskan melalui sungai. Jalur ini dipilih karena akses jalan darat belum memungkinkan untuk menembus hingga Long Apari.

Baca Juga: Kasus Dugaan Keracunan Santri Massal di Sidoarjo, Operasional SPPG Kalitengah Dihentikan

“Kita ambil Long Lunuk karena dari kondisi Long Lunuk kita tidak bisa lagi menembus Long Apari menggunakan jalan darat. Jadi kita mencari jalur alternatif, yaitu sungai,” jelasnya.

Namun, kondisi Sungai Mahakam yang dangkal juga membuat armada berukuran besar tidak dapat digunakan. Pemerintah kemudian mengerahkan perahu-perahu kecil dari sejumlah kampung.

Secara keseluruhan, sekitar 14 kendaraan digunakan untuk mengangkut bantuan melalui jalur darat. Setelah tiba di titik transit, bantuan dipindahkan ke sekitar 14 perahu kecil.

Kondisi sungai yang ekstrem membuat kapasitas angkut setiap perahu terbatas. Masing-masing hanya mampu membawa sekitar setengah ton muatan dan harus melewati sejumlah riam dengan kondisi air sangat dangkal.

Baca Juga: Cuaca Panas dan Karhutla Picu ISPA Melonjak di Kutim, Tembus 2.586 Kasus  

“Karena kondisinya sangat ekstrem, perahu tidak bisa membawa muatan banyak. Masing-masing kurang lebih setengah ton,” katanya.

Lawing mengatakan, seluruh biaya pengangkutan bantuan menggunakan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT). Penggunaannya tetap harus dipertanggungjawabkan sesuai ketentuan.

Kondisi tersebut kembali menunjukkan pentingnya penguatan akses transportasi darat di Mahulu. Selama ini, masyarakat masih sangat bergantung pada jalur sungai untuk mobilitas dan distribusi kebutuhan pokok.

“Kalau di Mahakam Ulu sangat berpengaruh karena dari dulu sampai sekarang transportasi kita masih bertumpu pada sungai,” ujar Lawing.

Baca Juga: Tragedi MBG di Sidoarjo, 500 Santri Keracunan, Puluhan Masih Rawat Inap

Menurut dia, pembangunan jalan darat yang menghubungkan wilayah-wilayah terpencil perlu terus dikebut. Sebab, masih terdapat sejumlah ruas yang belum layak dilalui, terutama ketika kondisi sungai mengalami surut ekstrem.

“Walaupun untuk darat sudah ada, sampai sekarang masih ada beberapa titik yang belum layak dilewati. Transportasi sungai merupakan jantungnya transportasi,” katanya.

Lawing menilai, peningkatan kualitas akses darat bukan hanya berkaitan dengan mobilitas warga, tetapi juga berdampak langsung terhadap biaya distribusi dan harga kebutuhan pokok.

Biaya angkutan sungai yang tinggi dapat membebani masyarakat. Sebaliknya, akses jalan yang lebih baik diharapkan membuat distribusi barang lebih efisien sehingga biaya logistik dapat ditekan.

“Dengan transportasi darat mungkin jauh lebih murah daripada kondisi seperti ini. Biaya transportasi sungai besar sekali dan itu harus ditanggung masyarakat,” ujarnya.

Terkait tarif angkutan sungai selama musim kemarau, Lawing mengatakan belum ada perubahan tarif yang ditetapkan pemerintah daerah. Untuk kondisi sungai yang sangat dangkal, penggunaan speedboat atau sepit untuk mengangkut penumpang juga tidak dianjurkan demi keselamatan.

Baca Juga: Tragedi MBG di Sidoarjo, 500 Santri Keracunan, Puluhan Masih Rawat Inap

Jika kondisi sungai kembali memungkinkan dan armada dapat beroperasi, tarif tetap mengacu pada ketentuan yang telah ditetapkan Pemkab Mahulu serta kesepakatan dengan pemilik armada.

Sementara itu, Dishub Mahulu belum menetapkan tarif baru untuk angkutan darat.

Editor : Dwi Restu A
sungai mahakam bantuan Long Apari Mahakam Ulu distribusi