KALTIMPOST.ID- ADA rasa malu yang diam-diam muncul ketika saya duduk berhadapan dengan Petrus Sani. Ia Kepala Adat Kiaq. Saya besar dari kampung ini. Seharusnya saya tahu sejarahnya. Tetapi kenyataannya, setelah bertahun-tahun meninggalkan kampung, saya baru menyadari bahwa banyak bagian dari sejarah tempat kelahiran sendiri justru tidak pernah benar-benar saya ketahui.
Selama ini yang saya ingat tentang Kiaq hanyalah sebuah tiang ulin yang berdiri di tengah kampung. Pada tiang itu terdapat tulisan Kiaq. Saya tahu benda itu sejak kecil. Tetapi pertanyaan sederhana seperti kapan Kiaq berdiri? saya tidak pernah bisa menjawabnya. Bahkan almarhum kakek saya sendiri, yang dulu merupakan kepala adat, tidak banyak bercerita.
Kakek memang orangnya jarang bercerita. Kini saya mencoba mengambil kembali potongan-potongan cerita itu dari Petrus Sani. Bukan sebagai sebuah sejarah yang sudah selesai ditulis. Melainkan sebagai ingatan yang masih hidup dari mulut ke mulut.
Kiaq Berasal dari Sungai?
Pertanyaan pertama saya sederhana. Dari mana nama Kiaq berasal? Petrus menjelaskan bahwa dalam penuturan orang tua, Kiaq berkaitan dengan sungai. Ada istilah yang disebut keak, yang dalam penjelasan percakapan kami memiliki makna seperti atau merujuk pada sesuatu dalam konteks bahasa Benuaq.
Namun yang lebih jelas, nama Kiaq dikaitkan dengan Sungai Kiaq. Sungai itulah yang kemudian menjadi bagian penting dari identitas kampung. Petrus menjelaskan bahwa sungai tersebut merupakan bagian dari sistem sungai di kawasan itu, dengan sungai lain sebagai anak sungainya, meskipun ukuran alirannya pada beberapa bagian disebut hampir sama.
Dari sungai itulah nama kampung kemudian dikenal. Namun seperti banyak nama tempat di pedalaman, asal-usulnya tidak selalu tersimpan dalam satu dokumen. Ia hidup dalam cerita. Diceritakan dari orang tua kepada anak. Dari kepala adat kepada generasi berikutnya. Dan setiap generasi mungkin membawa potongan yang sedikit berbeda.
Sebelum Kiaq yang Sekarang
Yang membuat cerita Petrus menarik adalah Kiaq ternyata bukan selalu berada di lokasi yang sekarang. Ada kampung lama. Lokasinya berada di sebelah hilir, dekat kawasan yang oleh orang-orang tua disebut Loyuq Puti, yang dalam percakapan kami dikaitkan dengan teluk. Di sana terdapat jejak kehidupan orang-orang Kiaq pada masa lalu. Hutan yang sekarang terlihat seperti hutan biasa ternyata menyimpan bekas kampung.
Petrus bercerita tentang kawasan yang dahulu masih menyimpan pohon buah-buahan dan bekas bangunan. Sekarang sebagian besar jejak itu hampir hilang. Jembatan yang dahulu menjadi penghubung bahkan sudah patah. Jika tidak ada cerita dari orang tua, mungkin orang yang datang sekarang akan mengira tempat tersebut hanyalah bagian dari hutan biasa. Padahal di situlah pernah ada rumah. Pernah ada kehidupan. Pernah ada orang-orang Kiaq yang menetap.
Baca Juga: Catatan Perjalanan Mudik ke Kampung Kiaq Kubar (1): Jalan Rusak dan Kebun Sawit Penopang Dapur Warga
Mengapa Mereka Pindah?
Pertanyaan berikutnya justru membawa cerita tentang sesuatu yang sangat manusiawi: kesehatan. Menurut cerita yang diterima Petrus dari orang-orang tua, kawasan kampung lama di sebelah hilir dianggap kurang sehat. Orang-orang sering sakit. Kehidupan di sana tidak mudah. Karena itu, masyarakat kemudian berpindah ke lokasi yang sekarang menjadi Kampung Kiaq. Tidak ada tanggal pasti kapan perpindahan itu terjadi.
Petrus pun tidak mengklaim mengetahuinya. Ia hanya menyampaikan apa yang diwariskan para tetua. Di sinilah sejarah Kiaq menjadi menarik. Tidak semuanya memiliki tanggal. Tidak semuanya memiliki dokumen. Sebagian justru tersimpan dalam ingatan. Dan ingatan itu semakin berharga ketika orang-orang yang menjadi sumber cerita satu per satu meninggal dunia.
Ketika Kematian Menjadi Bagian dari Sejarah Kampung
Pembicaraan kemudian masuk ke sesuatu yang mungkin terasa asing bagi generasi sekarang. Tentang kematian. Petrus menyebut istilah kererinq, yang dalam penjelasannya berkaitan dengan tempat tulang. Ada pula tembelaq. Keduanya berkaitan dengan tradisi penguburan atau penyimpanan tulang leluhur dalam adat lama.
Dahulu, ketika seseorang meninggal, jenazah tidak serta-merta berakhir dalam bentuk pemakaman seperti yang umum dikenal sekarang. Setelah waktu tertentu, tulang yang telah mengering dapat ditempatkan dalam wadah atau struktur tertentu sebagai bagian dari rangkaian adat. Petrus menggambarkan adanya struktur berupa tiang. Ada yang hanya satu tiang. Ada pula yang menggunakan dua tiang. Di sanalah tulang-tulang orang yang telah meninggal ditempatkan menurut tradisi pada masa itu.
Tradisi tersebut menjadi salah satu jejak bahwa kehidupan Kiaq dahulu memiliki tata adat yang jauh berbeda dengan sekarang. Bagi generasi yang tumbuh dengan sekolah, listrik, telepon genggam dan internet, cerita tentang tulang leluhur yang ditempatkan pada struktur adat mungkin terdengar seperti dunia yang sangat jauh. Padahal bagi masyarakat Kiaq, itu adalah bagian dari sejarah mereka sendiri.
Tiang Ulin di Tengah Kampung
Saya kembali teringat pada tiang ulin yang selama ini saya lihat sejak kecil. Tiang yang bertuliskan Kiaq. Saya selalu menganggapnya sebagai penanda kampung. Tetapi setelah berbicara dengan Petrus, saya mulai melihatnya berbeda. Sebuah tiang bukan sekadar benda kayu. Ia bisa menjadi penanda identitas. Namun pertanyaan tentang tahun berdirinya Kiaq ternyata tidak otomatis terjawab hanya karena ada tiang tersebut. Petrus pun tidak memberikan tahun pasti. Artinya, kita perlu berhati-hati.
Jangan sampai sebuah tahun yang tidak memiliki dasar kemudian ditulis sebagai tahun resmi berdirinya kampung. Sebab sejarah lisan dan sejarah administratif adalah dua hal yang berbeda. Keduanya sama-sama penting. Tetapi harus ditempatkan pada porsinya.
Baca Juga: Catatan Perjalanan Mudik ke Kampung Kiaq Kubar (2): Bertahun-tahun Menunggu Reses Dewan
Tahun 1974 dan Sebuah Petunjuk
Ada satu penanda waktu yang muncul dalam cerita Petrus. Ia menyebut sekitar 1974, berkaitan dengan pemindahan sebuah benda atau penanda adat ke lokasi kampung yang sekarang. Ini menarik. Sebab tahun tersebut setidaknya memberikan satu titik waktu dalam perjalanan Kiaq. Tetapi 1974 tidak serta-merta berarti Kiaq berdiri pada 1974. Justru di sinilah pekerjaan sejarah menjadi menarik. Apakah sebelum 1974 sudah ada permukiman?
Kapan tepatnya perpindahan dari kampung lama terjadi? Kapan Kiaq mulai diakui sebagai kampung dalam administrasi pemerintahan? Dan bagaimana perubahan itu tercatat dalam dokumen negara? Pertanyaan-pertanyaan itu masih terbuka. Mungkin jawabannya ada di arsip kampung. Mungkin di kecamatan. Mungkin dalam dokumen pemerintahan lama. Atau mungkin sebagian besar memang hanya tersimpan dalam ingatan para tetua.
Dari Sungai ke Jalan Darat
Kiaq juga punya cerita tentang bagaimana masyarakat bergerak. Dahulu, sungai adalah jalan. Perahu menjadi kendaraan. Orang menggunakan ketinting untuk bergerak. Barang dibawa melalui sungai. Hubungan dengan kampung lain pun mengikuti alur air. Kemudian jalan darat mulai masuk.
Ada jalan yang dibangun untuk kepentingan perusahaan. Masyarakat kemudian ikut memanfaatkannya. Perubahan ini perlahan menggeser pola mobilitas masyarakat. Jika dahulu sungai menjadi urat nadi, kini jalan menjadi semakin penting. Tetapi sungai tidak serta-merta hilang dari ingatan. Ia tetap menjadi bagian dari sejarah Kiaq.
Dari Jalan Perusahaan ke Jalan Kampung
Dalam cerita Petrus, masuknya perusahaan juga membawa perubahan besar. Jalan-jalan mulai terbuka. Kendaraan dapat masuk lebih jauh. Sepeda dan kendaraan bermotor menggantikan sebagian fungsi perahu. Kemudian perkebunan sawit berkembang. Menurut cerita yang disampaikan, perubahan besar dalam pembukaan perkebunan sawit masyarakat mulai terasa sekitar 2007.
Hutan yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat perlahan berubah menjadi kebun. Pemandangan Kiaq pun berubah. Dulu pohon buah-buahan dan berbagai jenis tanaman lebih mudah ditemukan. Kini sawit menjadi salah satu wajah paling mencolok. Dan perubahan itu bukan hanya perubahan pemandangan. Ia mengubah mata pencaharian.
Dari Petani Kadang Berpindah Menjadi Petani Sawit
Sekretaris Kampung Kiaq, Margaretha M, memberi gambaran Kiaq hari ini. Ia mengaku tidak mengetahui secara pasti seluruh sejarah awal kampung, termasuk luasan administratif Kiaq. Begitu pula mengenai luas lahan yang saat ini dimanfaatkan oleh tiga perusahaan perkebunan sawit yang disebutnya sebagai PT BCPM, PT MWJP dan PT PSM. Tetapi untuk kondisi masyarakat sekarang, datanya lebih jelas.
Kiaq saat ini memiliki sekitar 127 jiwa dari 45 kepala keluarga. Satu RT. Jumlah yang kecil jika dibandingkan dengan kampung-kampung yang berada dekat pusat kota. Namun kecil bukan berarti tidak memiliki cerita. Mayoritas masyarakat bekerja sebagai petani. Dan setelah pembukaan lahan sawit, banyak warga kini berfokus pada perkebunan kelapa sawit. Artinya, perubahan Kiaq bukan hanya dari sungai menuju jalan. Tetapi juga dari pola hidup berbasis hutan dan kebun beragam menuju ekonomi yang semakin bergantung pada komoditas sawit.
Kampung Kecil yang Mulai Terhubung
Ada satu perubahan yang mungkin paling terasa bagi saya setelah delapan tahun tidak pulang. Listrik. Margaretha mengatakan PLN baru masuk sekitar tiga bulan terakhir. Bagi orang kota, tiga bulan mungkin bukan apa-apa. Bagi Kiaq, itu perubahan besar. Selama bertahun-tahun masyarakat hidup tanpa jaringan listrik PLN. Saya sendiri masih ingat hidung selalu hitam karena tiap mau tidur menyalakan pelita.
Kadang minyak tanah kadang di campur solar. Bahkan tahun 2018 lalu. Kalau mandi pasti korek-korek hidung. Kini lampu bisa menyala dari jaringan negara. Telepon seluler juga bukan lagi sesuatu yang sepenuhnya asing. Menurut Margaretha, jaringan Telkomsel sudah sekitar tiga tahun tersedia, meski masih sering mengalami gangguan dan sinyal hilang-muncul. Hanya satu-dua batang. Tetapi tetap saja, itu sebuah koneksi dengan dunia luar.
Sekolah dengan Murid yang Bisa Dihitung dengan Jari
Kiaq juga memiliki fasilitas pendidikan. Ada SD dan PAUD. Tetapi jumlah muridnya belum mencapai belasan orang. Angka itu memperlihatkan ukuran kampung yang sebenarnya. Penduduk hanya 127 jiwa. 45 kepala keluarga. Anak-anak sedikit. Sebagian keluarga mungkin memiliki anak yang harus bersekolah ke tempat lain ketika jenjang pendidikan meningkat. Di satu sisi, keberadaan sekolah membuat pendidikan dasar lebih dekat. Di sisi lain, jumlah murid yang kecil memperlihatkan tantangan lain yang dihadapi kampung-kampung kecil di pedalaman. (riz)
Editor : Muhammad Rizki