KALTIMPOST.ID-Ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih membayangi Mahakam Ulu (Mahulu).
Kualitas udara di lima wilayah menunjukkan tingkat pencemaran yang mengkhawatirkan akibat tingginya konsentrasi partikel debu halus PM2.5 dan PM10.
Kondisi tersebut ditemukan di Tiong Ohang, Long Pahangai, Ujoh Bilang, Laham, dan Long Hubung.
Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama kelompok rentan yang berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat paparan polusi udara.
Berdasarkan pengukuran kualitas udara dalam ruang (SKUDR) dan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) oleh Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P2KB) Mahulu pada 16 Oktober 2026, konsentrasi partikel pencemar di lima wilayah tersebut masih tergolong tinggi.
Baca Juga: Samarinda Diselimuti Asap Karhutla, Pelatih Borneo FC Ungkap Kekhawatiran Jelang Lawan Yangon United
Kepala Dinas Kesehatan P2KB Mahulu Petronela Tugan mengatakan, kabut asap tidak boleh dianggap sebagai gangguan lingkungan biasa.
Paparan partikel pencemar dapat berdampak terhadap kesehatan masyarakat, terutama apabila berlangsung dalam waktu lama.
“Hasil pengukuran menunjukkan, konsentrasi PM2.5 dalam ruangan di lima wilayah tersebut berkisar antara 68 hingga 81, sedangkan PM10 mencapai 158 hingga 299. Sementara itu, pengukuran udara luar ruangan mencatat PM2.5 berkisar 59 hingga 86 dan PM10 mencapai 133 hingga 267,” paparnya.
Kondisi paling menonjol ditemukan di Laham dan Ujoh Bilang. Konsentrasi PM10 dalam ruangan di Laham mencapai 299. Sedangkan Ujoh Bilang tercatat 278.
Berdasarkan klasifikasi dalam laporan pengukuran, kedua angka tersebut masuk kategori sangat tidak sehat.
Temuan lainnya memperlihatkan konsentrasi PM2.5 dalam ruangan di Laham, Ujoh Bilang, Long Pahangai, dan Tiong Ohang lebih tinggi dibandingkan udara luar.
Baca Juga: Persiba Balikpapan vs Kendal Tornado FC Malam Ini, Beruang Madu Hadapi Ujian Berat Tanpa Sudirman
Kondisi ini diduga berkaitan dengan ventilasi yang kurang baik, sirkulasi udara terbatas, serta aktivitas di dalam bangunan.
Meski demikian, laporan pengukuran menunjukkan pencemaran udara luar ruangan secara umum lebih buruk. Hal tersebut mengindikasikan sumber polusi utama berasal dari luar, termasuk paparan asap karhutla.
Petronela mengingatkan, anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta penderita penyakit pernapasan perlu mendapat perlindungan khusus.
Paparan polusi berpotensi meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), asma, bronkitis, hingga gangguan kardiovaskular.
Masyarakat diimbau membatasi aktivitas luar ruangan dan menggunakan masker yang sesuai, terutama N95, ketika harus beraktivitas di tengah kabut asap.
“Untuk saat ini masyarakat diimbau menutup pintu dan jendela untuk mengurangi masuknya asap, menjaga kelompok rentan tetap berada di dalam ruangan, serta menggunakan penjernih udara jika tersedia,” tegasnya.
Penanganan dampak kabut asap juga membutuhkan koordinasi Dinas Kesehatan (Diskes), BPBD, dan Dinas Lingkungan Hidup, terutama dalam pengendalian karhutla serta perlindungan kesehatan masyarakat.
Pemantauan kualitas udara dijadwalkan berlanjut selama sepekan untuk melihat perkembangan pencemaran di masing-masing wilayah.
Warga diminta mengikuti informasi resmi pemerintah dan menyesuaikan aktivitas dengan kondisi udara.
Hasil pemantauan tersebut diharapkan menjadi dasar penentuan langkah penanganan agar dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat dapat ditekan. (sya/rd)
Editor : Romdani.