KALTIMPOST.ID, JAKARTA - Hacker dengan nama akun Brain Cipher yang berhasil membobol Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) 2 kembali bersuara. Mereka mengklaim telah menghapus data-data yang berhasil mereka sedot. Sejumlah kalangan meminta publik, khususnya pemerintah selaku pemilik data, tidak begitu saja percaya.
Pengamat Telematika Roy Suryo mengatakan, kabar bahwa hacker telah menghapus data tersebut sangat janggal. "Maksud saya, jangan langsung percaya. Mana ada hacker menghapus data yang sudah susah payah mereka curi," katanya kemarin (10/7). Mantan Menpora itu mengatakan, sampai saat ini penjualan data-data penting masyarakat Indonesia masih kerap bermunculan di dark web. Mulai dari data peserta BPJS Kesehatan, Inafis Polri, hingga data Badan Intelejen Strategis (Bais) TNI.
Pernyataan bahwa hacker sudah menghapus data yang mereka curi bisa jadi hanya alibi. Supaya ketika ada penjualan data-data berikutnya, mereka tidak dituding sebagai pelaku.
Informasi penghapusan data yang disampaikan Brain Cipher beredar di media sosial sejak Selasa (9/7) lalu. Dalam pernyataannya, mereka sudah tidak ada waktu untuk menunggu pernyataan resmi pemerintah Indonesia sebagai pemilik PDNS 2. Mereka juga meyakini bahwa key atau kunci membuka enkripsi bisa bekerja dengan baik.
Lebih lanjut Roy Suryo mengatakan, dirinya sampai saat ini masih ragu dengan nasib data publik di PNDS 2. Penjelasan pemerintah terkait serangan siber PDNS 2 sejak awal simpang siur. Termasuk mengenai siapa yang bertanggung jawab melakukan backup data. "Saya kok tidak yakin (data PNDS 2 sudah normal), masalahnya rezim ini juga sudah sulit dipercaya lagi penjelasannya," tandasnya. (wan/oni)
Editor : Hernawati